Kajian Koleksi Batik dan Spiritualitas Dorong Pemahaman Lebih Dalam Tentang Warisan Budaya

Museum Batik Pekalongan menggelar kajian koleksi dengan tema Batik dan Spiritualitas untuk menggali makna batik yang tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga memiliki nilai filosofis dan spiritual yang mendalam. Kajian ini turut dihadiri Walikota Pekalongan, HA Afzan Djunaid, Ketua Dekranasda Kota Pekalongan, Inggit Soraya, masyarakat setempat. Kajian ini menghadirkan berbagai narasumber dari akademisi, seniman, hingga pemerhati batik, berlangsung di Museum Batik, Selasa sore (25/3/2025).

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Dinparbudpora), Sabaryo Pramono, menegaskan pentingnya memahami batik dari sisi nilai yang terkandung di dalam motifnya. “Batik tidak hanya soal desain atau motif, tetapi juga sejarah dan makna di baliknya. Banyak motif batik yang menggambarkan kehidupan, spiritualitas, dan semangat perjuangan. Harapannya, dengan kajian ini, masyarakat dapat lebih tertarik dan memahami nilai-nilai dalam batik,” ujarnya.

Sementara itu, akademisi batik, Zahir Widadi menilai tema yang diangkat sangat menarik dan relevan. “Kajian seperti ini merupakan peningkatan yang baik, terutama dalam memahami hubungan antara batik dan spiritualitas. Sayangnya, waktu yang ada cukup singkat sehingga pembahasannya belum bisa mendalam. Namun, yang lebih penting, komunitas batik dari berbagai generasi dapat berkumpul dan berdiskusi bersama dan juga dihadiri oleh Bapak Walikota Pekalongan. Ini momen langka sejak saya selesai menjabat sebagai kepala museum pertama pada 2011," ungkapnya.

Zahir juga mengingatkan pentingnya melihat batik dari dua sisi, yaitu nilai dan komoditas. Batik diakui UNESCO sebagai intangible cultural heritage. Jika generasi muda memahami nilai batik, maka komoditas akan mengikuti. Sebaliknya, jika hanya fokus pada komoditas, maka batik yang dihasilkan bisa kehilangan keasliannya.

Sementara itu, Seniman batik, Sapuan turut menggarisbawahi bahwa batik lebih dari sekadar kain bermotif. Menurutnya, masih ada orang Pekalongan melihat batik hanya sebagai kain yang diberi warna, padahal batik adalah media penyampai pesan yang diwariskan oleh leluhur. Akan tetapi kajian mendalam masih belum sering dilakukan, sehingga kreativitas dalam batik cenderung stagnan dan banyak yang hanya meniru tanpa inovasi. "Hal ini penting dipahami generasi muda, agar selembar batik yang akan dibuat di masa yang akan datang tetap terus mengandung nilai atau pesan mendalam," jelasnya.

Dengan adanya kajian ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa batik bukan sekadar produk ekonomi, tetapi juga warisan budaya yang kaya akan makna. Generasi muda diharapkan mampu mengembangkan batik dengan tetap mempertahankan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

(Dinkominfo Kota Pekalongan)