Dinkes Kota Pekalongan Jemput Bola Skrining TB ke Kantong-kantong Kasus

Kota Pekalongan - Memperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia atau TB Day, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan menggelar skrining eliminasi TB di PT MPS atau Sampoerna Pekalongan dan masyarakat yang ada di 14 puskesmas se-Kota Pekalongan, Senin (24/3/2025).
Tim petugas Dinkes bersama kader kesehatan puskesmas terjun langsung secara door to door ke kantong-kantong TB untuk mencari suspek TB. Sehingga, ketika ditemukan kasus TB di tengah masyarakat bisa langsung diobati. Selain skrining, petugas kesehatan juga memberikan penyuluhan dan cek kesehatan gratis.
Pengelola Program (Wasor TB) Kota Pekalongan, Indayah Dewi Tunggal menjelaskan bahwa, adapun sasaran kegiatan ini adalah masyarakat yang ada di kantong-kantong TB, dimana di wilayah itu ada kasus TB, perokok aktif maupun pasif serta pegawai PT MPS atau Sampoerna Pekalongan.
"Perokok ini lebih beresiko karena paru-paru mereka tidak seperti paru-paru orang yang sehat. Kami akan skrining juga untuk perokok maupun orang yang tidak merokok,"ucapnya.
Menurutnya, pada skrining TB ini, peserta diminta mengisi formulir sejujur-jujurnyandan konsultasi kepada petugas kesehatan terkait gejala yang dirasakan kaitannya dengan TB. Jika tidak ada gejala TB, maka lolos skrining. Namun, apabila ditemukan gejala yang mengarah pada TB, maka petugas akan melaksanakan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan dahak yang hasilnya akan dikirimkan ke Laboratorium Tes Cepat Molekuler (TCM) yang ada di 5 fasilitas kesehatan (faskes) di Kota Pekalongan, yaitu Puskesmas Buaran, Puskesmas Sokorejo, Labkesda Kota Pekalongan, RSUD Bendan dan Rumah Sakit Budi Rahayu.
"Untuk hasilnya apabila tidak ada gejala, artinya orang tersebut tidak mengarah ke gejala TB, tetapi apabila bergejala TB, maka kami kirim hasil dahaknya. Jika hasil dahaknya negatif, tentunya akan diobati dengan simptomatif atau tanda gejala orang tersebut. Apabila batuk diberi obat batuk. Artinya, kalau negatif bukan TB. Namun, jika hasil dahaknya positif TB, maka akan kami obati selama 6 bulan untuk mencegah penularan lebih luas,"terangnya.
Disampaikan Indayah, bahwa orang yang menderita TB biasanya memiliki beberapa gejala diantaranya batuk tidak kunjung sembuh selama 2 minggu atau lebih, tanpa aktivitas muncul keringat dingin pada malam hari, demam, disertai sesak nafas atau sakit pada bagian dada. Apabila TB itu sudah parah, penderita bisa mengalami batuk disertai darah. Berat badan menurun drastis akibat tidak nafsu makan.
Ia menyebutkan, di Kota Pekalongan pada Tahun 2024 ada 1.023 kasus TB yang ditemukan. Angka ini meningkat dibandingkan di Tahun 2023 yang mencapai 996 kasus. Dengan jumlah tersebut, artinya angka prevalensi TB di Kota Pekalongan masih tinggi. Dimana, 1 kasus TB bisa menularkan 5-10 orang penderita baru.
"Karena ada sekitar 326 per 100.000 jumlah penduduk di Kota Pekalongan adalah penderita TB. Skrining ini akan terus dilakukan secara aktif baik di instansi, sekolah, pondok pesantren hingga Lapas/Rutan. Kami juga bekerjasama dengan Mentari Sehat Indonesia dalam penanggulangan TB,"tuturnya
Pihaknya berharap, dengan adanya skrining TB ini, maka masyarakat Kota Pekalongan bisa menjadi lebih sadar dan paham tentang gejala, penularan, pengobatan hingga pencegahan penyakit TB. Sebab, penularan TB sangat cepat yakni melalui kontak erat dengan penderita TB melalui droplet atau percikan dari bersin, dan batuk dari penderita TB.
"Harapan kami, dengan skrining ini, kami bisa menemukan sebanyak-banyaknya kasus TB untuk segera mendapatkan pengobatan intensif, sehingga penularan TB tidak meluas lagi dan Kota Pekalongan bisa mewujudkan eliminasi TB pada Tahun 2030,"tukasnya. (Dian)
Tim petugas Dinkes bersama kader kesehatan puskesmas terjun langsung secara door to door ke kantong-kantong TB untuk mencari suspek TB. Sehingga, ketika ditemukan kasus TB di tengah masyarakat bisa langsung diobati. Selain skrining, petugas kesehatan juga memberikan penyuluhan dan cek kesehatan gratis.
Pengelola Program (Wasor TB) Kota Pekalongan, Indayah Dewi Tunggal menjelaskan bahwa, adapun sasaran kegiatan ini adalah masyarakat yang ada di kantong-kantong TB, dimana di wilayah itu ada kasus TB, perokok aktif maupun pasif serta pegawai PT MPS atau Sampoerna Pekalongan.
"Perokok ini lebih beresiko karena paru-paru mereka tidak seperti paru-paru orang yang sehat. Kami akan skrining juga untuk perokok maupun orang yang tidak merokok,"ucapnya.
Menurutnya, pada skrining TB ini, peserta diminta mengisi formulir sejujur-jujurnyandan konsultasi kepada petugas kesehatan terkait gejala yang dirasakan kaitannya dengan TB. Jika tidak ada gejala TB, maka lolos skrining. Namun, apabila ditemukan gejala yang mengarah pada TB, maka petugas akan melaksanakan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan dahak yang hasilnya akan dikirimkan ke Laboratorium Tes Cepat Molekuler (TCM) yang ada di 5 fasilitas kesehatan (faskes) di Kota Pekalongan, yaitu Puskesmas Buaran, Puskesmas Sokorejo, Labkesda Kota Pekalongan, RSUD Bendan dan Rumah Sakit Budi Rahayu.
"Untuk hasilnya apabila tidak ada gejala, artinya orang tersebut tidak mengarah ke gejala TB, tetapi apabila bergejala TB, maka kami kirim hasil dahaknya. Jika hasil dahaknya negatif, tentunya akan diobati dengan simptomatif atau tanda gejala orang tersebut. Apabila batuk diberi obat batuk. Artinya, kalau negatif bukan TB. Namun, jika hasil dahaknya positif TB, maka akan kami obati selama 6 bulan untuk mencegah penularan lebih luas,"terangnya.
Disampaikan Indayah, bahwa orang yang menderita TB biasanya memiliki beberapa gejala diantaranya batuk tidak kunjung sembuh selama 2 minggu atau lebih, tanpa aktivitas muncul keringat dingin pada malam hari, demam, disertai sesak nafas atau sakit pada bagian dada. Apabila TB itu sudah parah, penderita bisa mengalami batuk disertai darah. Berat badan menurun drastis akibat tidak nafsu makan.
Ia menyebutkan, di Kota Pekalongan pada Tahun 2024 ada 1.023 kasus TB yang ditemukan. Angka ini meningkat dibandingkan di Tahun 2023 yang mencapai 996 kasus. Dengan jumlah tersebut, artinya angka prevalensi TB di Kota Pekalongan masih tinggi. Dimana, 1 kasus TB bisa menularkan 5-10 orang penderita baru.
"Karena ada sekitar 326 per 100.000 jumlah penduduk di Kota Pekalongan adalah penderita TB. Skrining ini akan terus dilakukan secara aktif baik di instansi, sekolah, pondok pesantren hingga Lapas/Rutan. Kami juga bekerjasama dengan Mentari Sehat Indonesia dalam penanggulangan TB,"tuturnya
Pihaknya berharap, dengan adanya skrining TB ini, maka masyarakat Kota Pekalongan bisa menjadi lebih sadar dan paham tentang gejala, penularan, pengobatan hingga pencegahan penyakit TB. Sebab, penularan TB sangat cepat yakni melalui kontak erat dengan penderita TB melalui droplet atau percikan dari bersin, dan batuk dari penderita TB.
"Harapan kami, dengan skrining ini, kami bisa menemukan sebanyak-banyaknya kasus TB untuk segera mendapatkan pengobatan intensif, sehingga penularan TB tidak meluas lagi dan Kota Pekalongan bisa mewujudkan eliminasi TB pada Tahun 2030,"tukasnya. (Dian)