Wujud Eksistensi Satuan Pendidikan Non-Formal Kota Pekalongan, Dindik Gelar Lomba Desain Poster Digital

Kota Pekalongan — Semangat kreativitas dan kolaborasi, mewarnai pelaksanaan Lomba Desain Poster Digital yang menjadi salah satu rangkaian acara Gebyar PAUD dan Pendidikan Nonformal (PNF) Kota Pekalongan tahun 2025. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan ini menghadirkan nuansa baru dalam dunia pendidikan kesetaraan melalui media digital kreatif menggunakan Canva, berlangsung di aula Dindik, Selasa (11/11/2025).
Plt Kepala Dindik Kota Pekalongan, Mabruri melalui Kepala Bidang PAUD dan PNF, Sherly Imanda Hidayah menjelaskan bahwa pemilihan lomba desain poster digital bukan tanpa alasan. Lomba ini dipilih karena ingin memeriahkan acara Gebyar PNF sekaligus memberikan ruang ekspresi bagi peserta didik pendidikan kesetaraan untuk menunjukkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis mereka.
Ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Gebyar PAUD dan PNF yang sempat tertunda beberapa waktu lalu. Melalui lomba ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa peserta didik dari PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) juga mampu berkarya dan berkompetisi sejajar dengan siswa dari satuan pendidikan formal.
“Pendidikan kesetaraan bukan pilihan terakhir, tetapi jalan alternatif yang fleksibel dan bermartabat untuk mengembangkan potensi belajar masyarakat di segala usia,” ungkapnya.
Mengusung tema “Belajar Tak Kenal Usia, Raih Mimpi Tanpa Batas,” lomba ini diikuti oleh 14 lembaga pendidikan nonformal yang terdiri atas PKBM dan SKB di Kota Pekalongan. Setiap tim beranggotakan tiga peserta didik yang berkolaborasi secara langsung di tempat lomba.
Menurut Sherly, antusiasme peserta sangat tinggi sejak awal kegiatan. Bahkan ketika panitia mengumumkan bahwa tema lomba baru akan disampaikan di lokasi, semangat peserta justru semakin meningkat. Suasana kompetisi pun berlangsung seru dan menantang.
Ditambahkan Sherly, para peserta bekerja dalam satu tim menggunakan satu akun Canva bersama. Mereka harus berkreasi dari kanvas kosong tanpa menggunakan template, tanpa bantuan AI, dan tanpa mencari referensi dari internet. Semua ide lahir dari diskusi spontan antaranggota tim, lalu dituangkan menjadi rancangan visual yang penuh makna.
Sebelum mendesain, peserta terlebih dahulu menggambar konsep di kertas, menentukan komposisi, dan kemudian mengeksekusi desain digital secara langsung. Proses ini melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kerja sama antar peserta.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu cara untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai makna pendidikan kesetaraan.
“Program kesetaraan memang dirancang agar siapa pun, tanpa memandang usia atau latar belakang, tetap bisa menempuh pendidikan dengan fleksibel. Melalui kegiatan seperti ini, mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga mempraktikkan keterampilan abad 21 seperti kolaborasi, kreativitas, dan literasi digital,” jelasnya.
Ia berharap pendidikan kesetaraan di Kota Pekalongan semakin dikenal luas dan menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin tetap belajar dan memperoleh ijazah tanpa terhalang usia atau kesempatan.
*Kegiatan seperti ini diharapkan terus berlanjut agar semakin banyak warga belajar yang percaya diri, produktif, dan mampu menunjukkan bahwa semangat belajar memang tak kenal usia,” tandasnya.
Salah satu peserta, Husna dari PKBM Bunga Bangsa, mengungkapkan rasa bahagianya bisa terlibat dalam lomba tersebut.
“Husna senang bisa ikut lomba bersama teman-teman yang lain tanpa melihat latar belakang yang ada. Kami bersyukur bisa diberi kesempatan untuk berkarya,” tuturnya.
Senada dengan itu, Achmad Fachmi Fachrezy dari SKB Kota Pekalongan juga mengungkapkan kebanggaannya belajar di pendidikan kesetaraan.
"Saya senang belajar di kesetaraan. Waktunya fleksibel dan kami juga diajari keterampilan serta pemberdayaan untuk soft skills yang bisa digunakan setelah lulus dari SKB,” bebernya.
Melalui kegiatan seperti lomba desain poster ini, pendidikan non-formal tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter, kreativitas, dan keterampilan nyata.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF