Urban Farming Pekalongan Dorong Inovasi Produk dan Kemandirian Kelompok Tani

Urban Farming Pekalongan Dorong Inovasi Produk dan Kemandirian Kelompok Tani

Kota Pekalongan – Pengembangan urban farming di Kota Pekalongan terus diarahkan tidak hanya pada kemampuan kelompok dalam membudidayakan tanaman, tetapi juga pada penguatan kelembagaan, inovasi produk, hingga pemasaran agar mampu berkembang secara berkelanjutan. Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia saat ini mendampingi 21 kelompok urban farming di Kota Pekalongan.

Konsultan Pendamping Urban Farming Yayasan Kolaborasi Pangan Indonesia, Herdian Satrya, menyebutkan dari 21 kelompok yang telah disurvei, terdapat kelompok yang masuk kategori tumbuh dan 13 kelompok masih berada pada kategori dasar.

“Kelompok kategori tumbuh sudah mampu membudidayakan dengan baik, kelembagaannya berjalan, dan sudah memiliki pengalaman memasarkan produk. Sementara 13 kelompok kategori dasar masih dalam tahap belajar, terutama terkait budidaya,” ujar Herdian.

Ia mengatakan bahwa pendampingan dilakukan dengan mempertimbangkan tantangan lingkungan yang dihadapi kelompok urban farming di Kota Pekalongan, khususnya banjir yang dapat memengaruhi kondisi tanah dan keberhasilan budidaya. Karena itu, pendampingan dimulai dari hal mendasar, seperti pengolahan tanah dan penyesuaian metode budidaya dengan kondisi iklim setempat.

“Ketika kelompok sudah semangat menanam, kemudian terjadi banjir dan tanaman mati atau busuk, semangat mereka bisa turun. Karena itu kami mulai lagi dari nol, bagaimana mengolah tanah, beradaptasi dengan kondisi iklim, sampai memastikan produk bisa berhasil dipanen,” katanya.

Pendampingan selanjutnya diarahkan agar kelompok tidak hanya berhenti pada kegiatan produksi, tetapi mampu menciptakan nilai tambah dari hasil panen. Selama ini, sebagian kelompok masih mengandalkan dana pribadi untuk membeli benih dan pupuk setelah masa panen.

“Kami mencoba mengubah pola dan mindset, bahwa produk harus memiliki kualitas yang baik, nilai jual, dan nilai tambah sehingga kegiatan kelompok bisa terus berkelanjutan,” tandasnya.

Dari proses tersebut, kini telah muncul sedikitnya delapan bentuk inovasi yang dikembangkan kelompok. Inovasi tersebut antara lain produk olahan pangan, seperti bolu dan jenang terong ungu serta stik sayuran; teh artisan berbahan bunga telang dengan berbagai varian rasa; hingga produk nonpangan berupa sabun dan sampo.

Selain itu, terdapat pengembangan produk segar dengan peningkatan kualitas kemasan, budidaya menggunakan metode hidroponik maupun pertanian tanah, produksi pupuk organik dan sarana pendukung budidaya, hingga pengembangan kebun sebagai lokasi edukasi dan agrowisata.

“Konsepnya green, healthy, dan sustainable. Jadi arahnya juga menuju ekonomi sirkular. Ada kelompok yang kebunnya ditata sebagai pusat edukasi dan agrowisata, sehingga siswa maupun masyarakat bisa belajar pertanian, berkunjung, bahkan memanen langsung,” imbuh Herdian.

Ke depan, pendampingan akan difokuskan pada keberlanjutan kelompok setelah proses pendampingan berakhir. Penguatan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan, peningkatan pendapatan kelompok, serta kemampuan membiayai operasional secara mandiri menjadi bagian penting yang terus didorong.

Herdian menilai penguatan pemasaran juga menjadi tahap penting. Kelompok didorong tidak sekadar memperbanyak jenis produk, tetapi menentukan pasar sasaran secara spesifik agar produk yang dikembangkan memiliki posisi dan merek yang kuat.

“Jangan hanya fokus membuat banyak produk. Lebih baik satu produk diperkuat terlebih dahulu, ditentukan market-nya, siapa yang dituju, wilayah pemasarannya, dan bagaimana branding-nya. Ketika satu produk sudah kuat, baru dikembangkan,” tukasnya.

Dengan pendekatan tersebut, urban farming diharapkan tidak hanya menjadi aktivitas budidaya, tetapi berkembang menjadi kegiatan ekonomi produktif yang mampu memperkuat kemandirian kelompok, membuka peluang usaha, dan mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian perkotaan.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)