Urban Farming Pekalongan Bertransformasi, Kelompok Tani Hasilkan Produk Bernilai Ekonomi

Urban Farming Pekalongan Bertransformasi, Kelompok Tani Hasilkan Produk Bernilai Ekonomi
Kota Pekalongan – Pendampingan program urban farming di Kota Pekalongan tak berhenti pada aktivitas budidaya tanaman. Selama lima bulan pendampingan, kelompok urban farming berhasil mengembangkan berbagai inovasi produk olahan pangan dan nonpangan yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Project Officer Comdev Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia, Herdian, mengatakan, pendampingan awalnya difokuskan pada penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam mengelola kebun, merawat tanaman, hingga memanfaatkan hasil panen.
“Awalnya kami hanya fokus pada pendampingan budidaya. Namun, mulai sekitar Juli, kelompok memiliki banyak ide yang kemudian kami bantu untuk diwujudkan menjadi inovasi produk,” katanya.
Dari proses tersebut, lahir sejumlah produk, di antaranya botanical tea berbahan bunga telang, sampo natural, bolu ubi ungu, stik sayuran, sambal lele, serta pupuk organik cair dan pupuk hayati Jakaba.
Sejumlah produk bahkan telah dikembangkan dalam bentuk kemasan dan siap dipasarkan. Mayoritas kelompok telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sementara produk botanical tea dan beberapa produk kelompok lainnya telah mengantongi PIRT dan sertifikasi halal. Adapun produk sampo natural masih dalam proses pengurusan izin BPOM.
Pengembangan produk tersebut juga mulai membuka akses pasar. Salah satunya botanical tea yang berhasil lolos kurasi program Brincubator Lokal Rumah BUMN BRI Pekalongan.
Menurut Herdian, capaian tersebut menunjukkan bahwa urban farming memiliki potensi lebih luas dari sekadar pemenuhan kebutuhan pangan. Dengan inovasi dan orientasi pasar, kegiatan pertanian perkotaan dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi masyarakat.
“Permasalahan utamanya ketika terjadi musibah banjir, banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian. Melalui kelompok urban farming, mudah-mudahan masyarakat yang membutuhkan tambahan ekonomi dapat terbantu melalui inovasi produk dan pendekatan urban farming berbasis kebutuhan pasar,” tutupnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
Kota Pekalongan – Pendampingan program urban farming di Kota Pekalongan tak berhenti pada aktivitas budidaya tanaman. Selama lima bulan pendampingan, kelompok urban farming berhasil mengembangkan berbagai inovasi produk olahan pangan dan nonpangan yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Project Officer Comdev Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia, Herdian, mengatakan, pendampingan awalnya difokuskan pada penerapan Climate Smart Agriculture (CSA) untuk memperkuat kemampuan kelompok dalam mengelola kebun, merawat tanaman, hingga memanfaatkan hasil panen.
“Awalnya kami hanya fokus pada pendampingan budidaya. Namun, mulai sekitar Juli, kelompok memiliki banyak ide yang kemudian kami bantu untuk diwujudkan menjadi inovasi produk,” katanya.
Dari proses tersebut, lahir sejumlah produk, di antaranya botanical tea berbahan bunga telang, sampo natural, bolu ubi ungu, stik sayuran, sambal lele, serta pupuk organik cair dan pupuk hayati Jakaba.
Sejumlah produk bahkan telah dikembangkan dalam bentuk kemasan dan siap dipasarkan. Mayoritas kelompok telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sementara produk botanical tea dan beberapa produk kelompok lainnya telah mengantongi PIRT dan sertifikasi halal. Adapun produk sampo natural masih dalam proses pengurusan izin BPOM.
Pengembangan produk tersebut juga mulai membuka akses pasar. Salah satunya botanical tea yang berhasil lolos kurasi program Brincubator Lokal Rumah BUMN BRI Pekalongan.
Menurut Herdian, capaian tersebut menunjukkan bahwa urban farming memiliki potensi lebih luas dari sekadar pemenuhan kebutuhan pangan. Dengan inovasi dan orientasi pasar, kegiatan pertanian perkotaan dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi masyarakat.
“Permasalahan utamanya ketika terjadi musibah banjir, banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian. Melalui kelompok urban farming, mudah-mudahan masyarakat yang membutuhkan tambahan ekonomi dapat terbantu melalui inovasi produk dan pendekatan urban farming berbasis kebutuhan pasar,” tutupnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF