Uji Sample Garmen: Peserta BLK Perlihatkan Kemampuan Produksi Pakaian Siap Pasar

Kota Pekalongan — Peserta pelatihan menjahit di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Pekalongan mengikuti Uji Kompetensi (UJK) dengan standar industri garmen, belum lama ini setelah menyelesaikan pelatihan..Pada ujian ini, 16 peserta pelatihan kompetensi menjahit ditugaskan membuat sample garmen berupa hem (kemeja) lengkap yang layak diproduksi dan dipasarkan.
Asesor LSP BBPVP Semarang, Setyo Ayu Ningsih, menerangkan bahwa pengujian menggunakan skema sample garmen, skema yang biasa digunakan di perusahaan konveksi untuk menilai kemampuan calon pekerja sebelum produksi massal. “Peserta diskenariokan membuat satu hem full, lengkap dengan krah dan saku tempel. Batas maksimal pengerjaan tiga jam,” terangnya.
Ia mengatakan bahwa skema ini memiliki tingkat kesulitan tinggi, karena menguji ketepatan konstruksi, kecepatan, kerapian jahitan, dan kesiapan produk untuk dikemas dan dipasarkan. “Sample garmen termasuk skema yang sulit. Produk harus rapi, simetris, kuat, dan siap dipasarkan. Jika bisa membuat sample dengan benar, artinya keterampilan peserta sudah setara industri,” katanya.
Tahap uji dibagi menjadi tes tertulis dan praktek. Tes tertulis menilai pemahaman teori menjahit dan prosedur kerja aman, sementara praktik menjadi bukti utama kemampuan teknis peserta. “Tes tertulis untuk menguji knowledge-nya. Setelah itu praktik menjahit. Tugas kami mengumpulkan bukti bahwa peserta benar-benar menguasai unit yang diajarkan,” tuturnya.
Hem yang selesai dijahit kemudian dikemas, seperti produk siap distribusi. Seluruh hasil ujian akan dibawa ke LSP BBPVP Semarang untuk sidang pleno, yaitu verifikasi akhir sebelum penerbitan hasil rekomendasi dan sertifikat kompetensi dari BNSP. “Produk yang mereka buat akan dibawa ke LSP, lalu ada sidang pleno untuk memastikan apakah bukti produk sudah memenuhi standar kompetensi,” tambahnya.
Melalui ujian ini, peserta tidak hanya dinilai mampu menjahit, tetapi siap memproduksi pakaian yang bisa masuk pasar, baik industri konveksi besar maupun usaha kecil menengah.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
Asesor LSP BBPVP Semarang, Setyo Ayu Ningsih, menerangkan bahwa pengujian menggunakan skema sample garmen, skema yang biasa digunakan di perusahaan konveksi untuk menilai kemampuan calon pekerja sebelum produksi massal. “Peserta diskenariokan membuat satu hem full, lengkap dengan krah dan saku tempel. Batas maksimal pengerjaan tiga jam,” terangnya.
Ia mengatakan bahwa skema ini memiliki tingkat kesulitan tinggi, karena menguji ketepatan konstruksi, kecepatan, kerapian jahitan, dan kesiapan produk untuk dikemas dan dipasarkan. “Sample garmen termasuk skema yang sulit. Produk harus rapi, simetris, kuat, dan siap dipasarkan. Jika bisa membuat sample dengan benar, artinya keterampilan peserta sudah setara industri,” katanya.
Tahap uji dibagi menjadi tes tertulis dan praktek. Tes tertulis menilai pemahaman teori menjahit dan prosedur kerja aman, sementara praktik menjadi bukti utama kemampuan teknis peserta. “Tes tertulis untuk menguji knowledge-nya. Setelah itu praktik menjahit. Tugas kami mengumpulkan bukti bahwa peserta benar-benar menguasai unit yang diajarkan,” tuturnya.
Hem yang selesai dijahit kemudian dikemas, seperti produk siap distribusi. Seluruh hasil ujian akan dibawa ke LSP BBPVP Semarang untuk sidang pleno, yaitu verifikasi akhir sebelum penerbitan hasil rekomendasi dan sertifikat kompetensi dari BNSP. “Produk yang mereka buat akan dibawa ke LSP, lalu ada sidang pleno untuk memastikan apakah bukti produk sudah memenuhi standar kompetensi,” tambahnya.
Melalui ujian ini, peserta tidak hanya dinilai mampu menjahit, tetapi siap memproduksi pakaian yang bisa masuk pasar, baik industri konveksi besar maupun usaha kecil menengah.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF