Transisi PAUD ke SD: Pekalongan Tegaskan Komitmen Menuju Pembelajaran yang Menyenangkan

Kota Pekalongan - Pendidikan anak usia dini di Pekalongan semakin mendapat perhatian serius dengan digelarnya Forum Komunikasi yang membahas transisi penting dari PAUD ke SD yang dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, Jumat, (4/10/2025).
Momen ini menjadi titik awal untuk memastikan anak-anak menjalani masa adaptasi sekolah dasar dengan nyaman, menyenangkan, dan tanpa beban, sekaligus mendukung target wajib belajar 13 tahun yang terus diperkuat oleh Pemerintah Kota Pekalongan.
Bunda PAUD Kota Pekalongan, Inggit Soraya, menegaskan pentingnya menyamakan persepsi antara pembelajaran PAUD dan SD kelas awal demi mendukung program Wajib Belajar 13 Tahun.
"Kita ingin anak-anak masuk SD dengan pengalaman yang menyenangkan, bukan tekanan,” ujar Inggit.
Forum ini menjadi ruang refleksi dan penguatan atas evaluasi tahun sebelumnya. Inggit menyoroti bahwa meski sudah ada kemajuan, masih ditemukan praktik yang menjadikan kemampuan calistung sebagai syarat masuk SD.
“Pembelajaran di kelas satu dan dua SD seharusnya menyerupai suasana PAUD, agar anak tidak merasa tertekan,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya masa pra-SD minimal satu tahun sebagai fondasi transisi yang sehat.
Diskusi juga menyinggung pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses transisi. Beberapa guru bahkan harus “jemput bola” ke rumah siswa karena minimnya dukungan dari keluarga.
“Bukan hanya soal ekonomi, tapi pemahaman orang tua tentang pentingnya pendidikan anak usia dini masih perlu ditingkatkan,” tambah Inggit.
Ia berharap program parenting dapat memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga.
Sherly Imandha, Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, menyampaikan bahwa forum ini merupakan agenda rutin tiga bulanan untuk menyerap aspirasi dan menyusun solusi. Salah satu fokus ke depan adalah menyusun kurikulum yang menekankan pembelajaran bermakna berbasis fase fondasi.
"Kami ingin guru PAUD dan SD bisa lebih mudah menyampaikan materi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak,” ujarnya.
Melalui program “Jaring AUD” yang sedang berproses, Dindik Kota Pekalongan berharap dapat menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa mengakses pendidikan PAUD. Forum ini menjadi bukti nyata bahwa transisi PAUD ke SD bukan sekadar teknis, melainkan gerakan bersama untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, inklusif, dan bermakna bagi setiap anak.
(Tim Liputan Pemerintah Kota Pekalongan / Maul)
Momen ini menjadi titik awal untuk memastikan anak-anak menjalani masa adaptasi sekolah dasar dengan nyaman, menyenangkan, dan tanpa beban, sekaligus mendukung target wajib belajar 13 tahun yang terus diperkuat oleh Pemerintah Kota Pekalongan.
Bunda PAUD Kota Pekalongan, Inggit Soraya, menegaskan pentingnya menyamakan persepsi antara pembelajaran PAUD dan SD kelas awal demi mendukung program Wajib Belajar 13 Tahun.
"Kita ingin anak-anak masuk SD dengan pengalaman yang menyenangkan, bukan tekanan,” ujar Inggit.
Forum ini menjadi ruang refleksi dan penguatan atas evaluasi tahun sebelumnya. Inggit menyoroti bahwa meski sudah ada kemajuan, masih ditemukan praktik yang menjadikan kemampuan calistung sebagai syarat masuk SD.
“Pembelajaran di kelas satu dan dua SD seharusnya menyerupai suasana PAUD, agar anak tidak merasa tertekan,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya masa pra-SD minimal satu tahun sebagai fondasi transisi yang sehat.
Diskusi juga menyinggung pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses transisi. Beberapa guru bahkan harus “jemput bola” ke rumah siswa karena minimnya dukungan dari keluarga.
“Bukan hanya soal ekonomi, tapi pemahaman orang tua tentang pentingnya pendidikan anak usia dini masih perlu ditingkatkan,” tambah Inggit.
Ia berharap program parenting dapat memperkuat sinergi antara sekolah dan keluarga.
Sherly Imandha, Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Pekalongan, menyampaikan bahwa forum ini merupakan agenda rutin tiga bulanan untuk menyerap aspirasi dan menyusun solusi. Salah satu fokus ke depan adalah menyusun kurikulum yang menekankan pembelajaran bermakna berbasis fase fondasi.
"Kami ingin guru PAUD dan SD bisa lebih mudah menyampaikan materi yang sesuai dengan tahap perkembangan anak,” ujarnya.
Melalui program “Jaring AUD” yang sedang berproses, Dindik Kota Pekalongan berharap dapat menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa mengakses pendidikan PAUD. Forum ini menjadi bukti nyata bahwa transisi PAUD ke SD bukan sekadar teknis, melainkan gerakan bersama untuk menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, inklusif, dan bermakna bagi setiap anak.
(Tim Liputan Pemerintah Kota Pekalongan / Maul)
PRINT +
DOWNLOAD PDF