Tidak Sekadar Pameran Buku, Festival Literasi Gagas Pelatihan Kreatif Kurangi Sampah Plastik

Kota Pekalongan – Rangkaian Festival Literasi Ayo Membaca 2025 terus menghadirkan kegiatan edukatif yang bermanfaat bagi masyarakat. Setelah resmi dibuka, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan mengadakan pelatihan pemanfaatan barang bekas menjadi produk bernilai ekonomis, Jum'at (7/11/2025) di area GOR Jetayu setempat. Kegiatan ini diikuti masyarakat umum, pengelola perpustakaan masyarakat (perpusmas), serta mitra penerima bantuan buku.
Plt Kepala Dinarpus, Mahbub melalui Pustakawan Dinarpus, Muyasaroh saat ditemui pada kegiatan tersebut menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk literasi terapan yang diharapkan dapat memberikan dampak nyata pada lingkungan sekaligus kemandirian ekonomi kreatif. "Pelatihan ini bagian dari rangkaian Festival Literasi Tahun 2025. Tema yang kami angkat adalah pemanfaatan sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis,” jelasnya.
Tema ini bukan tanpa alasan. Belum lama ini, Kota Pekalongan menghadapi situasi darurat sampah. Sampah plastik, khususnya, menjadi persoalan serius karena membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. “Kami menggunakan sampah plastik seperti tutup botol, CD bekas, dan sterofoam. Harapannya, pelatihan ini dapat mengurangi sampah plastik di lingkungan sekitar kita,” ujarnya.
Peserta praktik membuat vas bunga dan kerajinan dekoratif dari limbah plastik sehingga bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang produk bernilai jual.
Ia mengungkapkan bahwa pelatihan ini menghadirkan narasumber dari TP PKK Kota Pekalongan yang telah berpengalaman dalam kreativitas daur ulang untuk masyarakat. Tidak sekadar belajar, peserta langsung membuat produk kerajinan dengan teknik yang mudah ditiru oleh warga di lingkungan masing-masing.
Selain itu, kegiatan ini melibatkan pengelola perpustakaan masyarakat. Pihaknya berharap para pengelola dapat menjadi penyebar praktik baik di wilayah masing-masing. “Harapannya, perpusmas menularkan ilmu ini kepada warga sekitar sehingga langkah kecil ini memberi dampak pada pengurangan sampah,” tambahnya.
Pelatihan dilakukan berbarengan dengan kegiatan Festival Literasi yang saat ini ramai dikunjungi pelajar dan masyarakat. Banyak pengunjung, khususnya siswa sekolah, berhenti menonton proses pembuatan kerajinan dari sampah.
Menurut Muyasaroh, hal ini menjadi nilai tambah karena literasi yang ditampilkan bukan hanya soal membaca buku, tetapi literasi lingkungan dan kreativitas.
Dengan cara ini, festival tidak hanya menjadi tempat hiburan dan pameran, tetapi juga ruang edukasi nyata. Anak-anak dapat melihat langsung bagaimana sampah bisa diubah menjadi barang bermanfaat, bukan sekadar teori.
Festival Literasi Ayo Membaca 2025 masih berlangsung hingga 11 November dengan berbagai kegiatan edukatif seperti pameran buku, talkshow, lomba kreatif, dan gerakan membaca massal. Diharapkan setiap kegiatan yang dihadirkan membawa manfaat tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk perubahan kebiasaan masyarakat.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
Plt Kepala Dinarpus, Mahbub melalui Pustakawan Dinarpus, Muyasaroh saat ditemui pada kegiatan tersebut menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk literasi terapan yang diharapkan dapat memberikan dampak nyata pada lingkungan sekaligus kemandirian ekonomi kreatif. "Pelatihan ini bagian dari rangkaian Festival Literasi Tahun 2025. Tema yang kami angkat adalah pemanfaatan sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis,” jelasnya.
Tema ini bukan tanpa alasan. Belum lama ini, Kota Pekalongan menghadapi situasi darurat sampah. Sampah plastik, khususnya, menjadi persoalan serius karena membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. “Kami menggunakan sampah plastik seperti tutup botol, CD bekas, dan sterofoam. Harapannya, pelatihan ini dapat mengurangi sampah plastik di lingkungan sekitar kita,” ujarnya.
Peserta praktik membuat vas bunga dan kerajinan dekoratif dari limbah plastik sehingga bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga membuka peluang produk bernilai jual.
Ia mengungkapkan bahwa pelatihan ini menghadirkan narasumber dari TP PKK Kota Pekalongan yang telah berpengalaman dalam kreativitas daur ulang untuk masyarakat. Tidak sekadar belajar, peserta langsung membuat produk kerajinan dengan teknik yang mudah ditiru oleh warga di lingkungan masing-masing.
Selain itu, kegiatan ini melibatkan pengelola perpustakaan masyarakat. Pihaknya berharap para pengelola dapat menjadi penyebar praktik baik di wilayah masing-masing. “Harapannya, perpusmas menularkan ilmu ini kepada warga sekitar sehingga langkah kecil ini memberi dampak pada pengurangan sampah,” tambahnya.
Pelatihan dilakukan berbarengan dengan kegiatan Festival Literasi yang saat ini ramai dikunjungi pelajar dan masyarakat. Banyak pengunjung, khususnya siswa sekolah, berhenti menonton proses pembuatan kerajinan dari sampah.
Menurut Muyasaroh, hal ini menjadi nilai tambah karena literasi yang ditampilkan bukan hanya soal membaca buku, tetapi literasi lingkungan dan kreativitas.
Dengan cara ini, festival tidak hanya menjadi tempat hiburan dan pameran, tetapi juga ruang edukasi nyata. Anak-anak dapat melihat langsung bagaimana sampah bisa diubah menjadi barang bermanfaat, bukan sekadar teori.
Festival Literasi Ayo Membaca 2025 masih berlangsung hingga 11 November dengan berbagai kegiatan edukatif seperti pameran buku, talkshow, lomba kreatif, dan gerakan membaca massal. Diharapkan setiap kegiatan yang dihadirkan membawa manfaat tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk perubahan kebiasaan masyarakat.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF