Tak Sekadar Belajar Batik, Ratusan Siswa KB-TK Annisa Muslimat NU Jenggot Siapkan Karya Seragam Hari Santri

Tak Sekadar Belajar Batik, Ratusan Siswa KB-TK Annisa Muslimat NU Jenggot Siapkan Karya Seragam Hari Santri

Kota Pekalongan – Sebanyak 200 siswa KB-TK Annisa Muslimat NU Jenggot tak hanya mengenal batik dari cerita dan gambar. Mereka turun langsung menciptakan karya batik melalui praktik menyolet dan mewarnai kain, yang hasilnya akan disulap menjadi seragam khusus untuk menyambut Hari Santri.

Ketua Tim Membatik KB-TK Annisa Muslimat NU Jenggot, Nila Khafidhotun Kholisna mengungkapkan kegiatan membatik yang berlangsung 5–12 Oktober 2026 tersebut menjadi cara sekolah menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini. Anak-anak diajak mengenal batik sekaligus merasakan langsung proses kreatif di balik sebuah karya.

Untuk siswa TK A, praktik dilakukan dengan teknik menyolet dan memberikan warna secara langsung pada kain. Sementara siswa Kelompok Bermain (KB) membatik bersama orang tua dan guru, sehingga kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk membangun kedekatan antara anak, keluarga, dan sekolah.

Ia mengatakan antusiasme anak terlihat saat mereka terlibat langsung dalam proses membatik hingga melihat hasil karyanya.

“Antusiasme anak-anak saat praktik membuat batik dan kebanggaan atas hasil karyanya mendapat tanggapan yang sangat positif,” katanya.

Sementara itu, Kepala KB-TK Annisa Muslimat NU Jenggot, Elok Fitriyah, menjelaskan, kegiatan membatik sebelumnya dilakukan menggunakan media kertas. Namun, sekolah kemudian memilih kain agar hasil karya anak memiliki nilai guna dan dapat dimanfaatkan.

“Awal mulanya menggunakan media kertas. Namun, karena ingin agar karya anak-anak bisa digunakan kembali atau dipakai langsung, kegiatan ini kemudian dikembangkan menggunakan media kain,” jelasnya.

Tidak berhenti pada proses belajar, karya tersebut akan memiliki makna yang lebih personal bagi para siswa. Pada 22 Oktober mendatang, orang tua akan menjahit kain hasil karya anak-anak menjadi seragam khusus yang akan dikenakan dalam menyambut Hari Santri.

Melalui pengalaman tersebut, sekolah berharap kecintaan terhadap budaya lokal, khususnya batik Pekalongan, tumbuh sejak dini. Anak-anak juga didorong untuk menghargai hasil karya sendiri dan membangun kepercayaan diri melalui karya yang mereka ciptakan.

Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pengenalan budaya kepada anak usia dini dapat dilakukan melalui pengalaman langsung membuat, melihat hasilnya, kemudian menggunakan karya tersebut dalam momentum yang bermakna.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)