Susu Sapi Jadi Buruan Jelang Muharam, Penjualan Melonjak Tajam

Susu Sapi Jadi Buruan Jelang Muharam, Penjualan Melonjak Tajam
Kota Pekalongan – Menjelang Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, permintaan susu sapi segar di Kota Pekalongan mengalami lonjakan signifikan. Tradisi masyarakat yang mengonsumsi susu saat pergantian tahun Hijriah membuat penjualan meningkat hingga enam kali lipat dibanding hari biasa.
Pemilik Kandang Sapi Sari Indah, Kelurahan Kuripan Yosorejo (Kuryos), Budi Setiawan, mengungkapkan bahwa pada hari normal pihaknya melayani penjualan sekitar 400 liter susu per hari. Namun menjelang Muharam, permintaan melonjak hingga mencapai 2.500 liter per hari.
"Permintaannya sangat melonjak. Kalau biasanya sekitar 400 liter per hari, sekarang bisa sampai 2.500 liter. Kenaikannya sekitar lima sampai enam kali lipat," ujar Wawan, sapaan akrabnya saat ditemui di kandangnya, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, tren peningkatan permintaan susu menjelang Muharam mulai terlihat sekitar tiga hingga empat tahun terakhir. Bahkan pada tahun lalu, pihaknya menyediakan hingga 3.000 liter susu dan seluruhnya habis terjual meskipun masih banyak masyarakat yang belum kebagian.
"Meski permintaan meningkat drastis, harga susu tetap dipertahankan. Saat ini, susu dijual Rp13.500 per liter untuk pengecer dan Rp18.000 per liter untuk konsumen langsung,"tuturnya.
Wawan menjelaskan, produksi susu dari sekitar 30 ekor sapi yang dimilikinya hanya berkisar 350 liter per hari. Untuk memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat, pihaknya harus mendatangkan pasokan tambahan dari Baturraden dan Tegal.
"Stok pagi tadi sekitar 700 sampai 800 liter habis sebelum pukul 07.30 WIB. Banyak pembeli yang terpaksa kami tolak karena stok sudah habis. Nanti sore biasanya ramai lagi," tambahnya.
Ia menyebut, tradisi mengonsumsi susu sapi segar menjelang Tahun Baru Islam memang menjadi salah satu budaya yang masih dijaga oleh sebagian masyarakat Kota Pekalongan dan sekitarnya.
"Selain sebagai bentuk ikhtiar dan doa menyambut lembaran baru, tradisi tersebut juga memberikan dampak positif bagi para peternak lokal melalui meningkatnya permintaan susu segar setiap tahunnya,"ungkapnya.
Salah satu pembeli, Saifudin, warga Pringlangu, mengaku rutin membeli susu setiap menjelang Muharam. Ia menyebut tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk harapan agar kehidupan di tahun yang baru menjadi lebih baik.
“Alasannya mengikuti anjuran para kiai dan ulama. Filosofinya supaya dua belas bulan ke depan bisa putih seperti susu, artinya bersih dan baik,” katanya.
Saifudin membeli dua liter susu untuk kebutuhan keluarganya. Ia mengaku hampir setiap tahun membeli susu saat momen Muharam tiba.
“Ini beli dua liter untuk keluarga. Kalau momen seperti ini biasanya memang beli. Harapannya semoga ke depannya semuanya menjadi lebih baik,” pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
Kota Pekalongan – Menjelang Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, permintaan susu sapi segar di Kota Pekalongan mengalami lonjakan signifikan. Tradisi masyarakat yang mengonsumsi susu saat pergantian tahun Hijriah membuat penjualan meningkat hingga enam kali lipat dibanding hari biasa.
Pemilik Kandang Sapi Sari Indah, Kelurahan Kuripan Yosorejo (Kuryos), Budi Setiawan, mengungkapkan bahwa pada hari normal pihaknya melayani penjualan sekitar 400 liter susu per hari. Namun menjelang Muharam, permintaan melonjak hingga mencapai 2.500 liter per hari.
"Permintaannya sangat melonjak. Kalau biasanya sekitar 400 liter per hari, sekarang bisa sampai 2.500 liter. Kenaikannya sekitar lima sampai enam kali lipat," ujar Wawan, sapaan akrabnya saat ditemui di kandangnya, Senin (15/6/2026).
Menurutnya, tren peningkatan permintaan susu menjelang Muharam mulai terlihat sekitar tiga hingga empat tahun terakhir. Bahkan pada tahun lalu, pihaknya menyediakan hingga 3.000 liter susu dan seluruhnya habis terjual meskipun masih banyak masyarakat yang belum kebagian.
"Meski permintaan meningkat drastis, harga susu tetap dipertahankan. Saat ini, susu dijual Rp13.500 per liter untuk pengecer dan Rp18.000 per liter untuk konsumen langsung,"tuturnya.
Wawan menjelaskan, produksi susu dari sekitar 30 ekor sapi yang dimilikinya hanya berkisar 350 liter per hari. Untuk memenuhi tingginya kebutuhan masyarakat, pihaknya harus mendatangkan pasokan tambahan dari Baturraden dan Tegal.
"Stok pagi tadi sekitar 700 sampai 800 liter habis sebelum pukul 07.30 WIB. Banyak pembeli yang terpaksa kami tolak karena stok sudah habis. Nanti sore biasanya ramai lagi," tambahnya.
Ia menyebut, tradisi mengonsumsi susu sapi segar menjelang Tahun Baru Islam memang menjadi salah satu budaya yang masih dijaga oleh sebagian masyarakat Kota Pekalongan dan sekitarnya.
"Selain sebagai bentuk ikhtiar dan doa menyambut lembaran baru, tradisi tersebut juga memberikan dampak positif bagi para peternak lokal melalui meningkatnya permintaan susu segar setiap tahunnya,"ungkapnya.
Salah satu pembeli, Saifudin, warga Pringlangu, mengaku rutin membeli susu setiap menjelang Muharam. Ia menyebut tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk harapan agar kehidupan di tahun yang baru menjadi lebih baik.
“Alasannya mengikuti anjuran para kiai dan ulama. Filosofinya supaya dua belas bulan ke depan bisa putih seperti susu, artinya bersih dan baik,” katanya.
Saifudin membeli dua liter susu untuk kebutuhan keluarganya. Ia mengaku hampir setiap tahun membeli susu saat momen Muharam tiba.
“Ini beli dua liter untuk keluarga. Kalau momen seperti ini biasanya memang beli. Harapannya semoga ke depannya semuanya menjadi lebih baik,” pungkasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF