Speling dan Mentoring Klinis Jadi Terobosan Turunkan Angka Kematian Ibu

Kota Pekalongan – Upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) terus menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama 35 pemerintah kabupaten/kota. Salah satu langkah inovatif yang kini dijalankan adalah integrasi Speling (Dokter Spesialis Keliling) dengan Mentoring Klinis. Program ini menyasar langsung layanan kesehatan di lini terdepan, salah satunya di UPT Puskesmas Jenggot, Kota Pekalongan.
 
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, usai meninjau pelaksanaan program Speling dan melakukan kunjungan kerja ke Puskesmas Jenggot, Kamis siang (18/9/2025), menegaskan bahwa, mentoring klinis menjadi terobosan penting dalam memperkuat kompetensi tenaga kesehatan. 
 
“Kali ini ada mentoring klinis yang juga didukung oleh BPJS Kesehatan Kota Pekalongan, Dinkes Provinsi Jawa Tengah, dan Dinkes Kota Pekalongan. Mentoring dilakukan oleh dokter spesialis kepada dokter-dokter umum di Puskesmas Jenggot dengan materi seputar Obstetri dan Ginekologi (Obgyn). Harapannya, AKI di Kota Pekalongan dapat semakin ditekan,” ungkapnya.
 
Menurutnya, meski angka kematian ibu di Jawa Tengah sudah menurun dibandingkan tahun lalu, penurunan tersebut masih belum signifikan. Data menunjukkan, sepanjang Tahun 2024 jumlah AKI mencapai 427 kasus. Sementara itu, dari Januari hingga Agustus 2025 tercatat 221 kasus, sedikit menurun dibanding periode yang sama tahun 2024 sebanyak 239 kasus. 
 
“Di Kota Pekalongan, tahun 2024 tercatat 5 kasus AKI, sementara di 2025 ini sudah ada 6 kasus. Ini menjadi perhatian kita bersama agar tidak terus bertambah,” tegasnya.
 
Lanjugnya, mentoring klinis yang digagas BPJS Kesehatan ini dirancang menyeluruh, mencakup berbagai isu kesehatan prioritas. Tidak hanya tentang kematian ibu, tetapi juga pencegahan kematian anak bersama dokter spesialis anak, penanganan TBC dengan dokter paru atau penyakit dalam, pencegahan kanker serviks oleh dokter spesialis Obgyn, hingga isu kesehatan mental dengan dokter spesialis jiwa, dan sebagainya.
 
“Program ini akan dijalankan secara bergiliran di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah, sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara luas oleh masyarakat,” tambah Yunita.
 
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto atau yang akrab disapa Budi, menyebutkan bahwa, mentoring klinis merupakan tindak lanjut dari hasil pemeriksaan Speling. 
 
“Misalnya, dari hasil skrining ditemukan masalah kandungan atau kebidanan. Maka, dokter spesialis memberikan tambahan wawasan, ilmu, maupun strategi penanganan kasus yang banyak terjadi di masyarakat. Jadi, hasil Speling tidak berhenti di data, tetapi ditindaklanjuti dengan pendampingan klinis,” jelasnya.
 
Budi juga mengungkapkan keprihatinannya atas jumlah AKI di Kota Pekalongan tahun ini. Namun demikian, ia menekankan bahwa, sebagian besar kasus disebabkan oleh faktor riwayat penyakit bawaan, bukan semata karena masalah kehamilan.
 
 “Kami terus berupaya melakukan pencegahan sejak dini melalui program Saber AKI. Kami mendatangkan dokter spesialis Obgyn ke puskesmas-puskesmas untuk mendeteksi risiko tinggi sejak awal, sehingga ibu hamil dapat segera mendapat penanganan tepat,” tuturnya.
 
Ia menilai, integrasi Speling dan Mentoring Klinis ini bisa menjadi langkah nyata dan inovatif. Dimana, speling membantu deteksi dini masalah kesehatan masyarakat, sedangkan mentoring klinis memperkuat kapasitas dokter umum agar lebih siap menangani kasus kompleks. Dengan sinergi lintas sektor dan dukungan penuh dari BPJS Kesehatan, program ini diharapkan menjadi kunci untuk menekan angka kematian ibu, melindungi kesehatan anak, serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer di Jawa Tengah khususnya yang ada di Kota Pekalongan.
 
“Harapannya, angka kematian ibu tidak hanya turun, tetapi bisa dicegah sedini mungkin. Kami optimistis, jika semua pihak terus bersinergi, target menurunkan AKI bisa tercapai. Mudah-mudahan Kota Pekalongan menjadi contoh bagaimana kolaborasi ini berjalan dengan baik,” pungkasnya.
 
(Tim Liputan Kominfo/Dian)