Sekolah Iklim, Siswa Olah Sisa MBG Jadi Pupuk Organik Cair

Sekolah Iklim, Siswa Olah Sisa MBG Jadi Pupuk Organik Cair
Kota Pekalongan – Upaya mewujudkan lingkungan sekolah yang lebih ramah iklim terus dilakukan SMA Negeri 4 Kota Pekalongan melalui aksi nyata pengelolaan sampah organik. Dalam kegiatan Rencana Aksi Siswa Sekolah Iklim, para siswa berinovasi mengolah sisa Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pupuk organik cair (POC) yang nantinya dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekolah.
Kegiatan yang berlangsung di SMA Negeri 4 Kota Pekalongan, Rabu (14/10/2026), ini menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah sekaligus mengembangkan keterampilan bercocok tanam atau urban farming.
Kepala SMA Negeri 4 Kota Pekalongan, Wachid Mucharom, melalui Guru Pendidikan Kewirausahaan (PKWU), Dhony Hermawan, menjelaskan bahwa, pemanfaatan sisa MBG menjadi langkah baru dalam pengembangan pupuk organik di sekolah. Sebelumnya, pihak sekolah telah mencoba membuat POC menggunakan bahan dari luar sekolah, seperti kulit bawang merah. Kini, bahan bakunya memanfaatkan sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas sekolah sendiri.
“Karena bahan yang digunakan diharapkan berasal dari lingkungan sekolah, kami memanfaatkan sampah sisa MBG. Nantinya, sisa makanan akan dikumpulkan dari kelas-kelas yang telah ditentukan, kemudian diolah menjadi pupuk,” jelas Dhony.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menyediakan wadah penampungan di kelas-kelas tertentu, khususnya kelas XI. Sisa makanan berupa nasi, sayuran, dan buah-buahan dikumpulkan setiap hari untuk selanjutnya dipilah dan diolah sesuai tahapan pembuatan pupuk organik.
Dhony menambahkan, sekolah sebelumnya juga telah melakukan pengomposan daun kering dan batang pisang atau debok untuk menghasilkan pupuk. Melalui aksi Sekolah Iklim ini, pemanfaatan sisa MBG menjadi pengembangan baru yang diharapkan dapat memperluas praktik pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
“Harapannya, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, hingga penggunaan bahan untuk perawatan tanaman, siswa bisa belajar memanfaatkan bahan-bahan organik. Pupuk yang dihasilkan nantinya digunakan untuk tanaman sayuran yang sudah ditanam siswa serta pohon-pohon di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, ia menegaskan, SMA Negeri 4 Kota Pekalongan tidak hanya mendorong kreativitas siswa dalam mengolah sampah, tetapi juga menanamkan kebiasaan memilah sampah, memanfaatkan bahan organik, dan menjaga kelestarian lingkungan sejak dini. Aksi sederhana tersebut menjadi langkah nyata membangun budaya sekolah yang lebih peduli iklim.
"Dengan mengubah sisa makanan menjadi sesuatu yang bermanfaat, siswa diajak memahami bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar mengurangi limbah, melainkan juga bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan,"tegasnya.
Salah satu peserta aksi Sekolah Iklim, Viny Naila Mazaya, siswa kelas XI SMA Negeri 4 Kota Pekalongan, menyampaikan bahwa, kegiatan ini mengajarkan siswa untuk lebih peduli terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
"Sisa makanan yang sebelumnya kerap dibuang kini berpeluang memberikan manfaat baru bagi lingkungan,"kata Viny.
Menurutnya, pengumpulan sisa sampah organik dilakukan setiap hari, sedangkan proses pembuatan pupuk direncanakan berlangsung secara berkala, yakni sekitar satu kali dalam sepekan.
"Saya berharap, pupuk yang dihasilkan dapat membantu tanaman tumbuh lebih subur,"tutupnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
Kota Pekalongan – Upaya mewujudkan lingkungan sekolah yang lebih ramah iklim terus dilakukan SMA Negeri 4 Kota Pekalongan melalui aksi nyata pengelolaan sampah organik. Dalam kegiatan Rencana Aksi Siswa Sekolah Iklim, para siswa berinovasi mengolah sisa Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pupuk organik cair (POC) yang nantinya dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekolah.
Kegiatan yang berlangsung di SMA Negeri 4 Kota Pekalongan, Rabu (14/10/2026), ini menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk memahami pentingnya pengelolaan sampah sekaligus mengembangkan keterampilan bercocok tanam atau urban farming.
Kepala SMA Negeri 4 Kota Pekalongan, Wachid Mucharom, melalui Guru Pendidikan Kewirausahaan (PKWU), Dhony Hermawan, menjelaskan bahwa, pemanfaatan sisa MBG menjadi langkah baru dalam pengembangan pupuk organik di sekolah. Sebelumnya, pihak sekolah telah mencoba membuat POC menggunakan bahan dari luar sekolah, seperti kulit bawang merah. Kini, bahan bakunya memanfaatkan sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas sekolah sendiri.
“Karena bahan yang digunakan diharapkan berasal dari lingkungan sekolah, kami memanfaatkan sampah sisa MBG. Nantinya, sisa makanan akan dikumpulkan dari kelas-kelas yang telah ditentukan, kemudian diolah menjadi pupuk,” jelas Dhony.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menyediakan wadah penampungan di kelas-kelas tertentu, khususnya kelas XI. Sisa makanan berupa nasi, sayuran, dan buah-buahan dikumpulkan setiap hari untuk selanjutnya dipilah dan diolah sesuai tahapan pembuatan pupuk organik.
Dhony menambahkan, sekolah sebelumnya juga telah melakukan pengomposan daun kering dan batang pisang atau debok untuk menghasilkan pupuk. Melalui aksi Sekolah Iklim ini, pemanfaatan sisa MBG menjadi pengembangan baru yang diharapkan dapat memperluas praktik pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
“Harapannya, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, hingga penggunaan bahan untuk perawatan tanaman, siswa bisa belajar memanfaatkan bahan-bahan organik. Pupuk yang dihasilkan nantinya digunakan untuk tanaman sayuran yang sudah ditanam siswa serta pohon-pohon di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, ia menegaskan, SMA Negeri 4 Kota Pekalongan tidak hanya mendorong kreativitas siswa dalam mengolah sampah, tetapi juga menanamkan kebiasaan memilah sampah, memanfaatkan bahan organik, dan menjaga kelestarian lingkungan sejak dini. Aksi sederhana tersebut menjadi langkah nyata membangun budaya sekolah yang lebih peduli iklim.
"Dengan mengubah sisa makanan menjadi sesuatu yang bermanfaat, siswa diajak memahami bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar mengurangi limbah, melainkan juga bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan,"tegasnya.
Salah satu peserta aksi Sekolah Iklim, Viny Naila Mazaya, siswa kelas XI SMA Negeri 4 Kota Pekalongan, menyampaikan bahwa, kegiatan ini mengajarkan siswa untuk lebih peduli terhadap sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari.
"Sisa makanan yang sebelumnya kerap dibuang kini berpeluang memberikan manfaat baru bagi lingkungan,"kata Viny.
Menurutnya, pengumpulan sisa sampah organik dilakukan setiap hari, sedangkan proses pembuatan pupuk direncanakan berlangsung secara berkala, yakni sekitar satu kali dalam sepekan.
"Saya berharap, pupuk yang dihasilkan dapat membantu tanaman tumbuh lebih subur,"tutupnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF