Sampo Herbal Jadi Terobosan Urban Farming Nawasena Tingkatkan Nilai Jual Hasil Panen

Sampo Herbal Jadi Terobosan Urban Farming Nawasena Tingkatkan Nilai Jual Hasil Panen
Kota Pekalongan - Melimpahnya hasil panen sayuran yang belum seluruhnya terserap pasar mendorong Kelompok Urban Farming Nawasena Kelurahan Pasirkratonkramat (PKK) menghadirkan inovasi pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. Salah satu inovasi yang kini dikembangkan adalah sampo herbal berbahan tanaman hasil budidaya urban farming sebagai upaya memperpanjang nilai manfaat sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Ketua Urban Farming Nawasena, Rohani, saat ditemui di kantor Kelurahan PKK, Jumat (7/8/2026) mengatakan inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap hasil panen, seperti pakcoy, seledri, dan lidah buaya yang kerap dijual dengan harga rendah, bahkan tidak seluruhnya terserap pasar dan pengolahan menjadi produk turunan menjadi solusi agar hasil panen memiliki nilai jual lebih tinggi sekaligus tidak mudah terbuang.
"Kalau dijual dalam bentuk sayuran segar harganya relatif murah. Kami berpikir bagaimana hasil panen ini bisa diolah menjadi produk yang lebih awet sekaligus memiliki nilai tambah," katanya.
Berbekal pengalaman mengikuti pelatihan pembuatan produk herbal, Rohani kemudian mengembangkan sampo berbahan tanaman yang memiliki manfaat bagi kesehatan rambut dan kulit kepala, seperti seledri, lidah buaya, dan bidara. Produk tersebut dibuat menggunakan kandungan herbal hampir 50 persen melalui proses perebusan dan penghalusan bahan alami.
Ia menjelaskan, sampo herbal yang dikembangkan tidak menggunakan silikon, paraben, maupun bahan pengawet yang berpotensi berdampak kurang baik bagi kesehatan. Setiap tanaman dipilih berdasarkan kandungan alami yang bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan kulit kepala, merawat rambut, serta mengurangi ketombe.
"Insyaallah lebih aman karena tidak mengandung silikon maupun paraben. Kami menggunakan tanaman yang memang memiliki manfaat untuk kesehatan rambut dan kulit kepala," jelasnya.
Saat ini, produk masih dipasarkan secara terbatas dengan harga promosi Rp15 ribu per botol. Urban Farming Nawasena terus melakukan penyempurnaan formulasi melalui uji coba kepada anggota kelompok dan sejumlah pengguna sebagai bahan evaluasi sebelum dipasarkan lebih luas.
Selain sampo herbal, kelompok yang beranggotakan 12 orang tersebut tengah menyiapkan pengembangan produk berbahan tanaman lokal lainnya, seperti gel lidah buaya dan minyak herbal. Rohani berharap inovasi tersebut dapat menjadi peluang usaha baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok sekaligus mendorong pemanfaatan potensi tanaman lokal secara lebih optimal.
Sementara itu, Lurah PKK, Dwi Indah Widyastuti, mengapresiasi lahirnya inovasi masyarakat yang mampu mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi. Menurutnya, inovasi seperti ini perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat berkembang menjadi produk yang memiliki daya saing dan memenuhi standar keamanan bagi konsumen.
"Kami berharap ada dukungan dari dinas terkait maupun lembaga yang berwenang untuk memberikan pendampingan, penelitian, hingga membantu proses perizinan sehingga produk yang dihasilkan benar-benar memenuhi standar dan dapat dipasarkan lebih luas," tandasnya.
Ia menambahkan, Kelurahan PKK memiliki berbagai potensi pemberdayaan masyarakat, mulai dari kelompok tani, peternakan hingga urban farming. Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan akibat banjir yang dalam beberapa tahun terakhir kerap melanda wilayah tersebut sehingga memengaruhi produktivitas pertanian.
Sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi tersebut, masyarakat mengembangkan sistem budidaya urban farming yang memanfaatkan konstruksi sederhana berbahan bambu di atas lahan yang rawan tergenang. Ke depan, kelompok tersebut juga berencana membangun greenhouse untuk mendukung keberlanjutan budidaya tanaman.
Dwi berharap sinergi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan dunia usaha dapat memperkuat pengembangan inovasi berbasis potensi lokal. Menurutnya, dukungan berupa pendampingan teknologi, pengujian mutu, legalisasi produk, hingga perluasan akses pemasaran akan menjadi faktor penting agar inovasi masyarakat tidak berhenti pada skala kelompok, tetapi mampu berkembang menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi lebih luas sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi tantangan perubahan iklim.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
Kota Pekalongan - Melimpahnya hasil panen sayuran yang belum seluruhnya terserap pasar mendorong Kelompok Urban Farming Nawasena Kelurahan Pasirkratonkramat (PKK) menghadirkan inovasi pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. Salah satu inovasi yang kini dikembangkan adalah sampo herbal berbahan tanaman hasil budidaya urban farming sebagai upaya memperpanjang nilai manfaat sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Ketua Urban Farming Nawasena, Rohani, saat ditemui di kantor Kelurahan PKK, Jumat (7/8/2026) mengatakan inovasi tersebut lahir dari keprihatinan terhadap hasil panen, seperti pakcoy, seledri, dan lidah buaya yang kerap dijual dengan harga rendah, bahkan tidak seluruhnya terserap pasar dan pengolahan menjadi produk turunan menjadi solusi agar hasil panen memiliki nilai jual lebih tinggi sekaligus tidak mudah terbuang.
"Kalau dijual dalam bentuk sayuran segar harganya relatif murah. Kami berpikir bagaimana hasil panen ini bisa diolah menjadi produk yang lebih awet sekaligus memiliki nilai tambah," katanya.
Berbekal pengalaman mengikuti pelatihan pembuatan produk herbal, Rohani kemudian mengembangkan sampo berbahan tanaman yang memiliki manfaat bagi kesehatan rambut dan kulit kepala, seperti seledri, lidah buaya, dan bidara. Produk tersebut dibuat menggunakan kandungan herbal hampir 50 persen melalui proses perebusan dan penghalusan bahan alami.
Ia menjelaskan, sampo herbal yang dikembangkan tidak menggunakan silikon, paraben, maupun bahan pengawet yang berpotensi berdampak kurang baik bagi kesehatan. Setiap tanaman dipilih berdasarkan kandungan alami yang bermanfaat untuk membantu menjaga kesehatan kulit kepala, merawat rambut, serta mengurangi ketombe.
"Insyaallah lebih aman karena tidak mengandung silikon maupun paraben. Kami menggunakan tanaman yang memang memiliki manfaat untuk kesehatan rambut dan kulit kepala," jelasnya.
Saat ini, produk masih dipasarkan secara terbatas dengan harga promosi Rp15 ribu per botol. Urban Farming Nawasena terus melakukan penyempurnaan formulasi melalui uji coba kepada anggota kelompok dan sejumlah pengguna sebagai bahan evaluasi sebelum dipasarkan lebih luas.
Selain sampo herbal, kelompok yang beranggotakan 12 orang tersebut tengah menyiapkan pengembangan produk berbahan tanaman lokal lainnya, seperti gel lidah buaya dan minyak herbal. Rohani berharap inovasi tersebut dapat menjadi peluang usaha baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok sekaligus mendorong pemanfaatan potensi tanaman lokal secara lebih optimal.
Sementara itu, Lurah PKK, Dwi Indah Widyastuti, mengapresiasi lahirnya inovasi masyarakat yang mampu mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi. Menurutnya, inovasi seperti ini perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak agar dapat berkembang menjadi produk yang memiliki daya saing dan memenuhi standar keamanan bagi konsumen.
"Kami berharap ada dukungan dari dinas terkait maupun lembaga yang berwenang untuk memberikan pendampingan, penelitian, hingga membantu proses perizinan sehingga produk yang dihasilkan benar-benar memenuhi standar dan dapat dipasarkan lebih luas," tandasnya.
Ia menambahkan, Kelurahan PKK memiliki berbagai potensi pemberdayaan masyarakat, mulai dari kelompok tani, peternakan hingga urban farming. Namun, pengembangannya masih menghadapi tantangan akibat banjir yang dalam beberapa tahun terakhir kerap melanda wilayah tersebut sehingga memengaruhi produktivitas pertanian.
Sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi tersebut, masyarakat mengembangkan sistem budidaya urban farming yang memanfaatkan konstruksi sederhana berbahan bambu di atas lahan yang rawan tergenang. Ke depan, kelompok tersebut juga berencana membangun greenhouse untuk mendukung keberlanjutan budidaya tanaman.
Dwi berharap sinergi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan dunia usaha dapat memperkuat pengembangan inovasi berbasis potensi lokal. Menurutnya, dukungan berupa pendampingan teknologi, pengujian mutu, legalisasi produk, hingga perluasan akses pemasaran akan menjadi faktor penting agar inovasi masyarakat tidak berhenti pada skala kelompok, tetapi mampu berkembang menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi lebih luas sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi tantangan perubahan iklim.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF