Respons Cepat Hadapi Limpasan Sungai, Sistem Kerja Stasiun Pompa Bremi–Meduri Ditingkatkan 24 Jam

Kota Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) setempat terus melakukan langkah cepat dan terukur dalam menghadapi limpasan air sungai akibat tingginya curah hujan yang berpotensi memicu banjir di sejumlah wilayah. Salah satu upaya strategis yang dilakukan adalah optimalisasi pengoperasian Stasiun Pompa di sepanjang Sungai Bremi dan Meduri dengan sistem kerja selama 24 jam penuh.
 
Kepala DPUPR Kota Pekalongan, Khaerudin, S.T., saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/2/2026), menjelaskan bahwa, optimalisasi ini merupakan bentuk kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam mengantisipasi terjadinya banjir susulan maupun limpasan air sungai yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
 
“Di sepanjang Sungai Bremi dan Meduri terdapat 14 stasiun pompa yang setiap hari rutin melakukan penyedotan air. Untuk mendukung operasional tersebut, kami menyiagakan sebanyak 31 tenaga khusus penjaga pompa yang bekerja selama 24 jam,” ungkap Khaerudin.
 
Menurutnya, peningkatan sistem kerja ini dilakukan dengan menambah jumlah shift petugas. Jika sebelumnya penjaga pompa hanya bekerja dalam dua shift, kini ditambah satu shift ekstra guna memastikan pengawasan dan operasional pompa berjalan tanpa henti, terutama pada jam-jam rawan.
 
“Awalnya hanya dua shift, masing-masing delapan jam. Shift pertama dari pukul 07.30 sampai 15.30 WIB, dan shift kedua dari pukul 15.30 sampai 23.30 WIB. Sekarang kami tambahkan satu shift lagi dari pukul 23.30 sampai 07.30 WIB,” jelasnya.
 
Penambahan shift ini, lanjut Khaerudin, berada di luar jam kerja normal petugas dan dilakukan secara khusus sebagai langkah antisipasi terhadap potensi banjir susulan atau limpasan air sungai. Dengan sistem kerja 24 jam, diharapkan proses penyedotan air dapat berjalan lebih optimal sehingga genangan di wilayah terdampak bisa cepat tertangani dan surut.
 
“Ini memang sengaja kami lakukan agar sewaktu-waktu terjadi limpasan atau peningkatan debit air, petugas sudah siap di lapangan. Tujuannya agar penanganan genangan bisa lebih cepat dan efektif,” tambahnya.
 
Meski demikian, Khaerudin juga mengakui adanya kendala teknis dalam pengoperasian stasiun pompa, terutama ketika terjadi limpasan sungai atau kondisi tanggul jebol. Dalam situasi tersebut, pompa tidak dapat difungsikan secara maksimal.
 
“Kalau air sungai sudah limpas atau tanggul jebol, pompa akan lumpuh karena memang tidak efektif. Oleh sebab itu, pengoperasian pompa kami sesuaikan dengan kondisi sungai. Ketika air mulai surut, barulah stasiun pompa bisa dioperasikan secara optimal,” terangnya.
 
Ia menegaskan, DPUPR Kota Pekalongan terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi sungai, tanggul, dan stasiun pompa, serta berkoordinasi dengan instansi terkait dan masyarakat setempat. Optimalisasi sistem kerja stasiun pompa ini, kata Khaerudin, menjadi bagian dari upaya terpadu Pemerintah Kota Pekalongan dalam meminimalkan dampak banjir dan melindungi keselamatan serta aktivitas warga.
 
"Dengan kesiapsiagaan 24 jam tersebut, diharapkan wilayah-wilayah rawan genangan di sepanjang Sungai Bremi dan Meduri dapat tertangani lebih cepat, sehingga dampak banjir dapat ditekan semaksimal mungkin,"pungkasnya.
 
 
(Tim Liputan Kominfo/Dian)