Rembug Stunting Lintas Sektor Wujudkan Komitmen Bersama Tekan Kasus Stunting

Kota Pekalongan - Isu Stunting atau kurangnya gizi pada anak yang mempengaruhi kurang maksimalnya pertumbuhan anak menjadi perhatian khusus Pemerintah Kota Pekalongan. Seluruh instansi SKPD lintas sektor pun dilibatkan dalam pencegahan stunting demi menjamin perkembangan generasi penerus yang lebih baik.

Wakil Walikota Pekalongan,H Salahudin STP mengungkapkan bahwa penanganan stunting menjadi salah satu program 100 hari kerja dirinya bersama Walikota Pekalongan,HA Afzan Arslan Djunaid,SE sejak dilantik pada akhir Februari 2021 lalu. Menurutnya, permasalahan stunting ini,bukan hanya semata permasalahan anak dan ibu saja, namun ini juga merupakan permasalahan bersama yang harus segera diatasi.

“Kami harapkan dengan sinergitas seluruh instansi, tadi Pak Dandim, Pak Kapolres Pekalongan Kota juga sudah menyatakan kesiapannya untuk memback up kegiatan penanganan stunting ini. Disamping itu, dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dokter spesialis anak, OPD-OPD  terkait seperti Dindik, Dinperpa, puskesmas-puskesmas yang membawahi kader-kader posyandu juga hadir mendukung upaya percepatan pencegahan dan penanganan stunting terintegrasi di Kota Pekalongan,”tegas Wawalkot Salahudin usai membuka kegiatan Workshop Penanggulangan Masalah Gizi dalam rangka Percepatan Penurunan Angka Stunting melalui Rembug Stunting,AKI,AKB di Kota Pekalongan, bertempat di Rumah Dinas Walikota Pekalongan,Kamis (27/5/2021).

Dituturkan Wawalkot Salahudin,aksi ini merupakan suatu langkah penting yang harus dilakukan pemerintah kabupaten untuk memastikan terjadinya integrasi pelaksanaan intervensi penurunan stunting secara bersama-sama antara OPD penanggung jawab layanan dengan sektor/lembaga non-pemerintah dan masyarakat. Lebih lanjut,Wawalkot Salahudin menekankan, penanganan stunting harus dilakukan secara berkesinambungan, sehingga akan melahirkan dan memelihara generasi yang sehat, produktif dan senantiasa berinovatif serta memiliki daya saing yang kuat.

“Selain anak memiliki pola perkembangan yang bagus secara fisik, hati dan otaknya juga mengimbangi dari perkembangan fisiknya. Harus seimbang dan selaras, dimana anak semakin sehat maka juga akan semakin cerdas pula. Untuk penanganan stunting tidak dipungkiri pandemi ini juga sangat berpengaruh dalam kinerja posyandu yang belum beroperasional secara efektif, sehingga kami mengupayakan untuk menekan kasus pandemi Covid-19, sehingga posyandu bisa beroperasional secara normal, tetapi jika upaya itu sedikit terhambat berarti posyandu akan diminta tetap beroperasional dengan standar protokol kesehatan yang diperketat,”tegas Wawalkot Salahudin.

Hal senada diungkapkan Kasubdit Kewaspadaan Gizi pada Kementerian Kesehatan RI, Iwan Halwani,SKM,M.Kes yang hadir sebagai salah satu narasumber menjelaskan bahwa, pencegahan dan penanganan stunting perlu kerjasama dari semua sektor yang ada di Kota Pekalongan. Pasalnya, permasalahan stunting ini bukan hanya masalah kesehatan saja,melainkan perlu semua pihak terlibat didalamnya. 

Iwan menyebutkan, beberapa upaya dalam pencegahan dan penanganan stunting dapat dilakukan diantaranya pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri, pemeriksaan kehamilan Antenatal care (ANC) pada ibu hamil secara rutin, pemberian tablet tambah darah untuk ibu hamil, persalinan ibu hamil di fasilitas pelayanan kesehatan, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif selama 2 tahun, pemberian MPASI yang tepat dan pemantauan pertumbuhan anak secara berkala.

“Tidak hanya upaya itu saja, juga ada dari sisi penyediaan air bersih dan sanitasi yang bagus, peningkatan ekonomi, tingkat pendidikan, pemberdayaan masyarakat yang saling berkesinambungan. Untuk mencapai itu semua, Dinas Kesehatan setempat tidak bisa bekerja sendiri, harus dibantu pelibatan semua sektor yang ada di Kota Pekalongan. Secara nasional, angka stunting di Indonesia mencapai 27,3 persen dengan target kita sesuai arahan Presiden Jokowi di tahun 2024 bisa sampai 14 persen saja, maka kami berupaya melakukan segala upaya agar setiap tahunnya kasus stunting ini bisa terus ditekan. Kami melihat Kota Pekalongan dari segi jangkauan untuk memberikan pelayanan tidak ada masalah, tinggal bagaimana seluruh instansi yang ada bekerjasama mengintensifkan program penanganan stunting ini agar di tahun 2024 nanti kasus penekanan stunting di Kota Pekalongan dapat memberikan kontribusi penurunan kasus stunting secara nasional,” paparnya.

Ditambahkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan,Dr Slamet Budiyanto,SKM,MKes menjelaskan,Kota Pekalongan menjadi daerah perintis untuk penanganan stunting. Penanganan stunting ini menjadi prioritas secara nasional karena hal ini berkaitan dengan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di suatu daerah. Oleh karena itu, rembug penanganan stunting ini dimaksudkan untuk menggalang komitmen penanganan stunting di Kota Pekalongan, dimana saat ini angka stunting di Kota Pekalongan sebesar 9,4 persen (2020) yang meningkat lebih tajam dibandingkan tahun 2019 yaitu meningkat sekitar 2,5 persen, sebelumnya angkanya adalah 6,8 persen.

“Alhamdulillah hari ini menyelenggarakan Rembug Penanganan Stunting yang menjadi bagian komitmen secara nasional bahwa dengan masih tingginya angka stunting di Indonesia,maka perlu ada percepatan penanganan kasus ini. Sesuai arahan Presiden Jokowi sampai dengan tahun 2024 angkanya tidak lebih dari 17 persen, tetapi di Kota Pekalongan sudah dibawah angka tersebut.  Secara pengukuran di lapangan oleh masyarakat sekitar 9 persen atau sekitar 1.112 , tetapi kecenderungannya pada saat pandemi Covid-19 tentunya menjadi perhatian yang lebih untuk bersama-sama agar kasus stunting ini tidak meningkat lagi. Berbagai upaya dan komitmen ini kami galang supaya perhatian seluruh stakeholders terkait bisa lebih fokus lagi baik dalam penanganan pola asuh anak, kecukupan gizi di masyarakat, dan beberapa komponen penyakit penyerta yang harus ditanggulangi, pengetahuan masyarakat mengenai pemenuhan gizi juga menjadi peran penting dan perhatian bersama,”tandasnya.


(Tim Komunikasi Publik Dinkominfo Kota Pekalongan)