Program Bakso Rutan Lodji Sukses, Dua WBP Rutan Pekalongan Jual 357 Porsi dalam Dua Hari

Kota Pekalongan – Program pembinaan kemandirian “Bakso Rutan Lodji” di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan kembali menunjukkan capaian yang menggembirakan. Bertepatan dengan momentum kunjungan Hari Raya Idulfitri 1447 H, Minggu (22/3/2026), dua Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berhasil mencatatkan penjualan sebanyak 357 porsi bakso hanya dalam kurun waktu dua hari.
Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa program pembinaan berbasis keterampilan yang dijalankan oleh pihak Rutan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga mampu memberikan hasil konkret dan bernilai ekonomi. Program “Bakso Rutan Lodji” sendiri telah berjalan kurang lebih selama tiga bulan, dengan perkembangan yang cukup signifikan dari waktu ke waktu.
Pada hari-hari biasa, usaha bakso ini mampu menjual sekitar 40 hingga 50 porsi per hari. Penjualan dilakukan tidak hanya kepada sesama WBP, tetapi juga kepada para pengunjung saat jam kunjungan berlangsung. Hal ini menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik serta mampu menarik minat konsumen.
Peningkatan penjualan secara drastis terjadi saat momen Idulfitri, di mana tingginya jumlah kunjungan keluarga ke Rutan dimanfaatkan secara optimal oleh para WBP. Lapangan area kunjungan Rutan Pekalongan disulap menjadi lokasi penjualan yang ramai, dengan antrean panjang pembeli yang ingin mencicipi bakso hasil olahan warga binaan tersebut.
Dengan harga yang terjangkau, yakni Rp12.000 per porsi, bakso yang disajikan mendapatkan respons positif dari para pengunjung. Banyak di antara mereka yang memberikan apresiasi terhadap cita rasa bakso yang dinilai lezat, tidak kalah dengan produk yang dijual di luar lingkungan Rutan.
Selama proses produksi hingga penjualan, kedua WBP tersebut mendapatkan pendampingan langsung dari staf subseksi bimbingan kegiatan, Didiek Ardianto. Pendampingan ini dilakukan untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar, mulai dari kebersihan, kualitas bahan, hingga pelayanan kepada konsumen.
Didiek Ardianto menjelaskan bahwa keberhasilan ini tidak hanya dilihat dari jumlah penjualan, tetapi juga dari proses pembelajaran yang dijalani oleh para WBP.
“Program ini menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang kami dorong agar warga binaan memiliki keterampilan nyata. Hasil penjualan ini nantinya juga akan dimanfaatkan untuk pengembangan program pembinaan lainnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa keuntungan dari usaha tersebut akan dialokasikan untuk mendukung kegiatan bimbingan kerja lain yang telah berjalan, seperti budidaya maggot, serta program ketahanan pangan di bidang pertanian. Dana tersebut akan digunakan untuk pembelian kebutuhan operasional, seperti obat-obatan dan pupuk.
"Sebagai bentuk apresiasi, pihak Rutan juga memberikan premi kepada WBP yang terlibat langsung dalam kegiatan ini. Pemberian premi tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi sekaligus bekal awal bagi mereka ketika kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaan,"terangnya.
Melalui program “Bakso Rutan Lodji”, Didiek menegaskan, Rutan Pekalongan terus berkomitmen dalam menghadirkan pembinaan yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan.
"Momentum Hari Raya Idulfitri tidak hanya dimaknai sebagai ajang silaturahmi antara WBP dan keluarga, tetapi juga menjadi ruang bagi warga binaan untuk menunjukkan kemampuan, kemandirian, serta kesiapan mereka dalam menatap kehidupan yang lebih baik ke depan," tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF