Produksi dan Harga Gabah Alami Tren Positif

Kota Pekalongan – Pemerintah Kota Pekalongan terus mengoptimalkan sektor pertanian sebagai salah satu penopang ketahanan pangan daerah. Pada tahun 2024 Kota Pekalongan tercatat masih memiliki 721 hektare lahan sawah aktif dan hingga Agustus 2025 dari lahan tersebut, sepanjang tahun telah dilakukan penanaman kumulatif lebih dari 1.100 hektare, dengan hasil panen di sekitar 900 hektare dan produksi gabah kering mencapai 6000an ton.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati menyampaikan bahwa angka tersebut menunjukkan komitmen petani dalam memanfaatkan lahan yang tersedia. “Alhamdulillah Kota Pekalongan masih memiliki 721 hektare sawah. Dengan luasan ini, hingga Agustus sudah tertanam lebih dari 1.100 hektare, panen di 900 hektare, dan menghasilkan 600 ton gabah kering,” terangnya.
Selain mempertahankan lahan eksisting, ia mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Pekalongan mendorong pemanfaatan lahan baru di wilayah Utara yang terdampak rob. Uji coba penanaman (demplot) pertama dilakukan pada Agustus 2024 seluas 1,3 hektare. Hingga Agustus 2025, luas tanam di kawasan tersebut sudah berkembang menjadi 44 hektare.
Upaya ini diharapkan terus meningkat, baik dari sisi luasan maupun produktivitas, sehingga semakin memperkuat ketahanan pangan daerah. Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa dari sisi harga, tren positif juga terjadi. Jika pada 2024 pemerintah menetapkan harga gabah kering panen sebesar Rp6.500/kg, kini harga pasar sudah mencapai sekitar Rp7.300/kg. Kenaikan harga ini membuat petani semakin terdorong untuk mengolah lahannya. Ia menambahkan bahwa Bulog menyerap semua kualitas gabah tanpa diskriminasi, sehingga hasil panen petani tetap terserap dengan baik.
“Insyaallah, lahan pertanian di Kota Pekalongan akan terus meningkat dari sisi luasan maupun hasil. Harapannya, petani semakin sejahtera dan masyarakat tetap memperoleh beras dengan harga stabil,” tukasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF