Perpustakaan Masyarakat Cerdas Kuripan Kertoharjo, Jaga Semangat Literasi Sejak 2003

Perpustakaan Masyarakat Cerdas Kuripan Kertoharjo, Jaga Semangat Literasi Sejak 2003
Kota Pekalongan – Semangat meningkatkan literasi masyarakat terus tumbuh di Kelurahan Kuripan Kertoharjo, Kecamatan Pekalongan Selatan, melalui keberadaan Perpustakaan Masyarakat atau Taman Baca Masyarakat Cerdas yang telah berdiri sejak 2003. Berawal dari perpustakaan pribadi, kini koleksinya berkembang hingga sekitar puluh ribuan buku dan terbuka bagi masyarakat untuk membaca, belajar, hingga mencari referensi pengembangan usaha.
Pengelola Perpustakaan Masyarakat Cerdas, Nasrudin Latif, mengatakan perpustakaan tersebut didirikan sebagai wujud syukur setelah dirinya diterima sebagai CPNS. Seiring waktu, keberadaan perpustakaan terus dipertahankan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.
“Alhamdulillah perpustakaan ini berdiri dari tahun 2003. Kami terbuka untuk siapa pun yang ingin belajar dan berkembang. Intinya, kebermanfaatannya tanpa batas,” katanya.
Pengunjung didominasi anak-anak dan remaja. Namun, masyarakat dewasa juga memanfaatkan perpustakaan untuk mencari referensi, termasuk bagi mereka yang ingin menulis buku maupun mengembangkan usaha di bidang perikanan dan peternakan.
Nasrudin menyebut jumlah kunjungan terus menunjukkan perkembangan. Pada hari Minggu maupun hari libur, sedikitnya terdapat 5-10 anak yang datang untuk membaca sekaligus bermain di perpustakaan.
Selain menyediakan koleksi bacaan, Perpustakaan Masyarakat Cerdas juga menjadi ruang belajar dan diskusi. Terdapat tiga ruang yang masing-masing dinamai dengan tokoh ilmuwan Islam, seperti Al-Ghazali, Al-Farabi, dan Ibnu Sina. Penamaan tersebut sekaligus menjadi sarana mengenalkan tokoh-tokoh Islam kepada anak-anak.
“Ruangan yang paling favorit anak-anak adalah Al-Ghazali. Di situ mereka sering berkumpul, membaca, sekaligus bermain,” ungkap Nasrudin.
Untuk saat ini jumlah koleksi sekitar 10.000 buku, berasal dari koleksi pribadi Nasrudin sejak awal berdiri, serta bantuan dari Perpustakaan Kota Pekalongan dan Perpustakaan Nasional. Dua tahun terakhir, perpustakaan tersebut juga mendapat tambahan sekitar 1.000 buku dari Perpustakaan Nasional.
Koleksinya cukup beragam, mulai dari buku pelajaran, pertanian, peternakan, olahraga, novel, hingga kamus bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang. Nasrudin bahkan kerap melakukan jemput bola untuk membantu memenuhi kebutuhan bacaan siswa.
“Kalau ada anak yang membutuhkan novel untuk tugas Bahasa Indonesia, kalau bukunya ada, saya bawakan ke sekolah. Kalau tidak ada, saya sampaikan memang belum tersedia,” tandasnya.
Untuk mendukung aktivitas perpustakaan, pihaknya juga membuka rekrutmen relawan setiap tahun. Para relawan mayoritas berasal dari masyarakat sekitar dan turut mendampingi anak-anak dalam kegiatan belajar.
Sementara itu, Bunda Literasi Kecamatan Pekalongan Selatan, Silvi Yunita menambahkan, Perpustakaan Masyarakat Cerdas merupakan salah satu dari sekitar 26 perpustakaan masyarakat dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang berada di wilayah Kecamatan Pekalongan Selatan.
“Perpustakaan ini tidak hanya melayani warga Kuripan Kertoharjo. Ada juga pengunjung dari Simbang dan wilayah lainnya. Selain membaca, di sini ada pembelajaran pada sore hingga malam hari,” tambahnya.
Keberadaan relawan membuat perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat membaca. Anak-anak juga dapat belajar bersama, termasuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan pendampingan.
Pada hari biasa, layanan berlangsung mulai sore hingga malam hari. Sementara pada hari libur, perpustakaan dibuka sejak pagi hingga sore.
Ke depan, Perpustakaan Masyarakat Cerdas diharapkan semakin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda dalam meningkatkan pengetahuan dan budaya literasi.
“Harapan kami kebermanfaatannya semakin nyata dan anak-anak semakin meningkat literasinya, sehingga generasi muda ke depan memiliki pengetahuan yang lebih baik,” harapnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)
Kota Pekalongan – Semangat meningkatkan literasi masyarakat terus tumbuh di Kelurahan Kuripan Kertoharjo, Kecamatan Pekalongan Selatan, melalui keberadaan Perpustakaan Masyarakat atau Taman Baca Masyarakat Cerdas yang telah berdiri sejak 2003. Berawal dari perpustakaan pribadi, kini koleksinya berkembang hingga sekitar puluh ribuan buku dan terbuka bagi masyarakat untuk membaca, belajar, hingga mencari referensi pengembangan usaha.
Pengelola Perpustakaan Masyarakat Cerdas, Nasrudin Latif, mengatakan perpustakaan tersebut didirikan sebagai wujud syukur setelah dirinya diterima sebagai CPNS. Seiring waktu, keberadaan perpustakaan terus dipertahankan agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.
“Alhamdulillah perpustakaan ini berdiri dari tahun 2003. Kami terbuka untuk siapa pun yang ingin belajar dan berkembang. Intinya, kebermanfaatannya tanpa batas,” katanya.
Pengunjung didominasi anak-anak dan remaja. Namun, masyarakat dewasa juga memanfaatkan perpustakaan untuk mencari referensi, termasuk bagi mereka yang ingin menulis buku maupun mengembangkan usaha di bidang perikanan dan peternakan.
Nasrudin menyebut jumlah kunjungan terus menunjukkan perkembangan. Pada hari Minggu maupun hari libur, sedikitnya terdapat 5-10 anak yang datang untuk membaca sekaligus bermain di perpustakaan.
Selain menyediakan koleksi bacaan, Perpustakaan Masyarakat Cerdas juga menjadi ruang belajar dan diskusi. Terdapat tiga ruang yang masing-masing dinamai dengan tokoh ilmuwan Islam, seperti Al-Ghazali, Al-Farabi, dan Ibnu Sina. Penamaan tersebut sekaligus menjadi sarana mengenalkan tokoh-tokoh Islam kepada anak-anak.
“Ruangan yang paling favorit anak-anak adalah Al-Ghazali. Di situ mereka sering berkumpul, membaca, sekaligus bermain,” ungkap Nasrudin.
Untuk saat ini jumlah koleksi sekitar 10.000 buku, berasal dari koleksi pribadi Nasrudin sejak awal berdiri, serta bantuan dari Perpustakaan Kota Pekalongan dan Perpustakaan Nasional. Dua tahun terakhir, perpustakaan tersebut juga mendapat tambahan sekitar 1.000 buku dari Perpustakaan Nasional.
Koleksinya cukup beragam, mulai dari buku pelajaran, pertanian, peternakan, olahraga, novel, hingga kamus bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang. Nasrudin bahkan kerap melakukan jemput bola untuk membantu memenuhi kebutuhan bacaan siswa.
“Kalau ada anak yang membutuhkan novel untuk tugas Bahasa Indonesia, kalau bukunya ada, saya bawakan ke sekolah. Kalau tidak ada, saya sampaikan memang belum tersedia,” tandasnya.
Untuk mendukung aktivitas perpustakaan, pihaknya juga membuka rekrutmen relawan setiap tahun. Para relawan mayoritas berasal dari masyarakat sekitar dan turut mendampingi anak-anak dalam kegiatan belajar.
Sementara itu, Bunda Literasi Kecamatan Pekalongan Selatan, Silvi Yunita menambahkan, Perpustakaan Masyarakat Cerdas merupakan salah satu dari sekitar 26 perpustakaan masyarakat dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang berada di wilayah Kecamatan Pekalongan Selatan.
“Perpustakaan ini tidak hanya melayani warga Kuripan Kertoharjo. Ada juga pengunjung dari Simbang dan wilayah lainnya. Selain membaca, di sini ada pembelajaran pada sore hingga malam hari,” tambahnya.
Keberadaan relawan membuat perpustakaan tidak sekadar menjadi tempat membaca. Anak-anak juga dapat belajar bersama, termasuk mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan pendampingan.
Pada hari biasa, layanan berlangsung mulai sore hingga malam hari. Sementara pada hari libur, perpustakaan dibuka sejak pagi hingga sore.
Ke depan, Perpustakaan Masyarakat Cerdas diharapkan semakin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda dalam meningkatkan pengetahuan dan budaya literasi.
“Harapan kami kebermanfaatannya semakin nyata dan anak-anak semakin meningkat literasinya, sehingga generasi muda ke depan memiliki pengetahuan yang lebih baik,” harapnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)
PRINT +
DOWNLOAD PDF