Perpustakaan Larasati Banyurip, Dari Buku Keluarga Menjadi Ruang Literasi Warga

Perpustakaan Larasati Banyurip, Dari Buku Keluarga Menjadi Ruang Literasi Warga

Kota Pekalongan – Perpustakaan Larasati di Kelurahan Banyurip, Kecamatan Pekalongan Selatan, tak sekadar menjadi tempat membaca. Koleksi buku yang dihimpun sejak bertahun-tahun lalu kini dimanfaatkan warga untuk menambah pengetahuan, mendukung kegiatan belajar anak, hingga memenuhi kebutuhan informasi ibu-ibu dalam berbagai persoalan sehari-hari.

Pengelola/Ketua Perpustakaan Masyarakat Larasati, Rita Rahmawati, membeberkan keberadaan perpustakaan tersebut berupaya menjadikan buku sebagai sumber pengetahuan yang bisa diakses dan dimanfaatkan bersama. Selain anak-anak, kegiatan literasi juga menyasar masyarakat dewasa melalui forum warga, termasuk pertemuan PKK.

Bagi anak-anak, buku cerita menjadi salah satu koleksi yang paling diminati. Kegiatan membaca juga dikemas dalam bentuk bercerita bersama agar anak lebih tertarik mengenal buku dan mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan.

Sementara bagi ibu-ibu, literasi diarahkan pada kebutuhan praktis, seperti keterampilan, resep masakan, kesehatan dan tanaman herbal. Rita kerap membawa sejumlah buku dalam pertemuan PKK untuk dibaca bersama maupun dibacakan kepada anggota yang memiliki keterbatasan dalam membaca.

“Informasinya tidak hanya dibaca sendiri, tetapi disampaikan melalui forum. Jadi setiap pertemuan diharapkan ada nilai tambah yang bisa dibawa pulang,” ujar Rita.

Bagi Rita, gagasan Perpustakaan Larasati bermula dari keprihatinan terhadap buku-buku milik anak yang masih layak digunakan. Buku-buku tersebut kemudian dikumpulkan dan dipinjamkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih banyak orang.

Koleksi perpustakaan selanjutnya berkembang, mulai dari buku pelajaran, buku cerita, sejarah, bacaan populer, majalah hingga komik. Koleksi juga bertambah dari buku-buku milik keluarga besar Rita yang terdiri dari tujuh bersaudara.

Perpustakaan Larasati kemudian turut mendukung kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR). Peran tersebut membawa kelompoknya meraih prestasi hingga tingkat provinsi.

Pengembangan perpustakaan berlanjut melalui berbagai program bantuan, termasuk Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Selain koleksi buku, perpustakaan memperoleh fasilitas komputer, televisi digital serta titik baca yang dilengkapi permainan edukatif dan akses koleksi buku digital.

Di tengah meningkatnya penggunaan gawai, Rita mengakui tantangan untuk mempertahankan minat baca anak semakin besar. Namun, aktivitas membaca buku secara fisik masih diminati, terutama oleh anak-anak usia dini dan sekolah dasar.

Ia berharap Perpustakaan Larasati tetap menjadi ruang belajar yang dekat dengan masyarakat dan mampu menghadirkan manfaat nyata melalui akses pengetahuan yang mudah dijangkau warga.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)