Penuh Khidmat, Festival Pek Cun Wujud Syukur dan Harmoni Keberagaman

Penuh Khidmat, Festival Pek Cun Wujud Syukur dan Harmoni Keberagaman
Kota Pekalongan– Festival Pek Cun 2026 kembali digelar meriah di Taman Wisata Laut Pasir Kencana, Kota Pekalongan, Jumat (19/6). Kegiatan yang menjadi bagian dari tradisi budaya Tionghoa ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian warisan budaya, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi dengan pelaksanaan sembahyang dan ritual keagamaan Konghucu yang dipimpin para rohaniwan. Acara dilanjutkan dengan berbagai prosesi tradisi, di antaranya persembahan sesaji, pembacaan doa, lomba mendirikan telur, pertunjukan barongsai, hingga prosesi penyempurnaan Perahu Naga dan sedekah laut yang menjadi puncak kegiatan di sore hari.
Rohaniwan Agama Konghucu, Josen Indang Wijaya, menjelaskan bahwa tradisi pembakaran atau penyempurnaan kapal dalam perayaan Pek Cun memiliki keterkaitan dengan sejarah Perahu Naga yang menjadi simbol penting dalam budaya tersebut. Di Kota Pekalongan, tradisi ini dipadukan dengan nilai-nilai lokal melalui kegiatan sedekah laut sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada laut yang telah memberikan sumber kehidupan, terutama bagi masyarakat pesisir di wilayah utara Kota Pekalongan.
"Makna penyempurnaan kapal ini hanya simbolik sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan segala sesuatu dalam kehidupan kita," jelasnya.
Ia mengatakan, rangkaian Pek Cun diawali dengan sembahyang dan ritual keagamaan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan. Sementara tradisi mendirikan telur berkaitan dengan fenomena alam yang dipercaya terjadi setiap tanggal 5 bulan 5 dalam kalender tradisional Tionghoa.
Menurutnya, pada momen tersebut terdapat kondisi gravitasi yang kuat antara bumi, matahari, dan bulan sehingga telur ayam dapat berdiri tegak. Fenomena itu menjadi pengingat akan kebesaran Tuhan melalui hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya.
Festival Pek Cun tahun ini diikuti peserta dan komunitas dari berbagai daerah, antara lain Kota Tegal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang (Ambarawa), serta Kota Pekalongan. Kehadiran peserta lintas daerah menunjukkan bahwa tradisi Pek Cun tidak hanya menjadi milik satu komunitas, melainkan telah berkembang sebagai bagian dari kekayaan budaya yang dapat dinikmati bersama.
Josen berharap masyarakat Kota Pekalongan terus menjaga semangat persatuan dan tidak memandang perbedaan agama sebagai penghalang dalam kehidupan bermasyarakat.
"Kita tidak boleh membedakan satu sama lain karena agama. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita harus selalu bersyukur. Perbedaan yang ada seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dan memajukan bersama, bukan untuk bermusuhan," tutupnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Allem/Saif)
Kota Pekalongan– Festival Pek Cun 2026 kembali digelar meriah di Taman Wisata Laut Pasir Kencana, Kota Pekalongan, Jumat (19/6). Kegiatan yang menjadi bagian dari tradisi budaya Tionghoa ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian warisan budaya, tetapi juga sarana mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi dengan pelaksanaan sembahyang dan ritual keagamaan Konghucu yang dipimpin para rohaniwan. Acara dilanjutkan dengan berbagai prosesi tradisi, di antaranya persembahan sesaji, pembacaan doa, lomba mendirikan telur, pertunjukan barongsai, hingga prosesi penyempurnaan Perahu Naga dan sedekah laut yang menjadi puncak kegiatan di sore hari.
Rohaniwan Agama Konghucu, Josen Indang Wijaya, menjelaskan bahwa tradisi pembakaran atau penyempurnaan kapal dalam perayaan Pek Cun memiliki keterkaitan dengan sejarah Perahu Naga yang menjadi simbol penting dalam budaya tersebut. Di Kota Pekalongan, tradisi ini dipadukan dengan nilai-nilai lokal melalui kegiatan sedekah laut sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada laut yang telah memberikan sumber kehidupan, terutama bagi masyarakat pesisir di wilayah utara Kota Pekalongan.
"Makna penyempurnaan kapal ini hanya simbolik sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan segala sesuatu dalam kehidupan kita," jelasnya.
Ia mengatakan, rangkaian Pek Cun diawali dengan sembahyang dan ritual keagamaan sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan. Sementara tradisi mendirikan telur berkaitan dengan fenomena alam yang dipercaya terjadi setiap tanggal 5 bulan 5 dalam kalender tradisional Tionghoa.
Menurutnya, pada momen tersebut terdapat kondisi gravitasi yang kuat antara bumi, matahari, dan bulan sehingga telur ayam dapat berdiri tegak. Fenomena itu menjadi pengingat akan kebesaran Tuhan melalui hukum-hukum alam yang diciptakan-Nya.
Festival Pek Cun tahun ini diikuti peserta dan komunitas dari berbagai daerah, antara lain Kota Tegal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang (Ambarawa), serta Kota Pekalongan. Kehadiran peserta lintas daerah menunjukkan bahwa tradisi Pek Cun tidak hanya menjadi milik satu komunitas, melainkan telah berkembang sebagai bagian dari kekayaan budaya yang dapat dinikmati bersama.
Josen berharap masyarakat Kota Pekalongan terus menjaga semangat persatuan dan tidak memandang perbedaan agama sebagai penghalang dalam kehidupan bermasyarakat.
"Kita tidak boleh membedakan satu sama lain karena agama. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita harus selalu bersyukur. Perbedaan yang ada seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi dan memajukan bersama, bukan untuk bermusuhan," tutupnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Allem/Saif)
PRINT +
DOWNLOAD PDF