Pengendalian Inflasi Terus Diperkuat, BI Dukung Produksi Pangan hingga QRIS

Pengendalian Inflasi Terus Diperkuat, BI Dukung Produksi Pangan hingga QRIS

Kota Pekalongan – Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah terus memperkuat sinergi bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas ekonomi di Jawa Tengah. Melalui penguatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), BI memfokuskan upaya pengendalian inflasi, khususnya pada kelompok volatile food, dengan memperkuat sektor produksi dan distribusi pangan.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, usai kegiatan Media Briefing bersama wartawan se-Jawa Tengah di Hotel Amandaru Kota Pekalongan, Kamis (13/8/2026), menegaskan bahwa pengendalian inflasi tetap menjadi fokus utama BI di tengah berbagai tantangan ekonomi.

"Yang kita konsen adalah inflasi TPID itu kita terus aktifkan untuk menjaga inflasi supaya tetap terkendali, terutama yang volatile food. Karena Jawa Tengah merupakan produsen bahan pangan, maka yang kita benahi terutama sisi produksi dan distribusinya," ujar Nunu, sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino, BI bersama TPID telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif, mulai dari pembangunan sumur dangkal, perbaikan saluran irigasi melalui kerja sama dengan Perum Jasa Tirta, hingga dukungan alat pertanian yang lebih hemat air. 

"Kita membantu para petani untuk mendapatkan air irigasinya. Mudah-mudahan inflasi tetap sesuai target, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen, sedangkan volatile food kita upayakan tetap di bawah 5 persen," tambahnya.

Selain menjaga stabilitas harga, BI juga terus mendorong pengembangan ekonomi daerah melalui pembinaan UMKM, penguatan klaster pangan, serta ekonomi syariah berbasis pondok pesantren. Dari sisi investasi, BI akan kembali menggelar Investment and Business Forum di Jakarta pada 27 Agustus 2026 dengan membawa 23 proyek investasi potensial dari Jawa Tengah. 

"Kita jemput bola, langsung datang ke Jakarta bersama Pak Gubernur untuk menawarkan 18 proyek investasi dan lima kawasan industri yang siap ditawarkan kepada investor," jelas Nunu.

Di bidang digitalisasi, BI terus memperluas penggunaan QRIS melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah di seluruh Jawa Tengah. Edukasi pembayaran digital juga dilakukan sejak dini melalui sekolah dan berbagai kegiatan masyarakat agar budaya transaksi non-tunai semakin meluas.

Sementara itu, Kepala KPw BI Tegal, Bimala, menjelaskan bahwa penguatan ketahanan pangan dilakukan sesuai karakteristik setiap daerah. Lanjutnya, di Kota Pekalongan, karena lahan eks rob sudah mulai pulih, kami mendampingi pengembangan padi biosalin sejak akhir 2021 dan alhamdulillah kini sudah menghasilkan. Di Kabupaten Pekalongan juga BI Tegal mendukung pengembangan beras dan kopi yang bahkan sudah berhasil ekspor ke United Kingdom dan Prancis.

"Melalui penguatan produksi pangan, peningkatan investasi, pemberdayaan UMKM, serta percepatan digitalisasi melalui QRIS, kami optimistis stabilitas inflasi dan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah khususnya eks karesidenan Pekalongan dapat terus terjaga secara inklusif dan berkelanjutan,"tukasnya.

(Tim Liputan Kominfo/Dian)