Pengawasan Takjil 2026: Temuan Formalin Nihil, Ditemukan Kasus Boraks

Kota Pekalongan - Setelah melakukan sidak di sejumlah penjual takjil beberapa waktu lalu, hasil pengawasan dan pemeriksaan jajanan takjil tahun 2026 menunjukkan perbedaan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 masih ditemukan kandungan formalin dan rhodamin pada sejumlah sampel, maka pada 2026 tidak ditemukan lagi kasus formalin. Namun demikian, terjadi peningkatan temuan kandungan boraks pada beberapa jenis pangan.
Hal ini disampaikan oleh Sanitarian muda Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan. Ia menjelaskan, pada tahun 2025 dari 52 sampel yang diperiksa, terdapat dua sampel positif mengandung formalin. Dugaan penggunaan formalin tersebut masih pada produk yang sama, yakni mie basah. “Selain itu, kami juga menemukan satu sampel positif rhodamin warna pink yang diduga terdapat pada kerupuk mie usek,” jelasnya.
Di tahun 2026, Dinkes mengambil 68 sampel makanan yang dicurigai mengandung formalin. Hasilnya, seluruh sampel dinyatakan negatif.
Namun berbeda dengan formalin, pada 2026 justru ditemukan kasus boraks. Pada 2025, dari 78 sampel makanan yang dicurigai mengandung boraks, tidak ditemukan satu pun yang positif. Sementara pada 2026, dari 95 sampel yang diperiksa, terdapat enam sampel positif boraks.
Enam sampel tersebut terdiri dari beberapa jenis pangan, yaitu dua sampel somay, cincau, scalop merah (berciri bagian tengah berbentuk bintang), pentol halus dan basreng.
Selain itu, untuk pengujian rhodamin pada 2026, Dinkes mengambil satu sampel dan hasilnya dinyatakan positif, yakni pada kerupuk usek berwarna pink.
Secara persentase, pada tahun 2025 terdapat tiga sampel pangan positif dari total 200 jenis makanan yang diperiksa, terdiri dari dua formalin dan satu rhodamin. Jika dipersentasekan, angka tersebut berada di kisaran 1,5 persen.
Sementara pada 2026, ditemukan tujuh sampel positif dari 200 jenis makanan yang diperiksa, terdiri dari enam boraks dan satu rhodamin. Dengan demikian, persentase temuan tahun ini mengalami sedikit peningkatan dibanding tahun sebelumnya.
Maysaroh menegaskan bahwa setiap temuan langsung ditindaklanjuti dengan edukasi kepada pedagang. Dalam praktik di lapangan, masih ditemukan pedagang yang belum memahami perbedaan antara boraks dan garam bleng.
“Ada pedagang yang tidak paham bahwa bahan yang digunakan itu boraks. Mereka mengira garam bleng sama saja dengan boraks. Ini yang akan terus kami edukasi,” ujarnya.
Apabila pedagang memproduksi sendiri makanan tersebut, maka akan diberikan pembinaan serta contoh bahan pengganti garam bleng yang lebih aman. Namun jika pedagang memperoleh barang dari pemasok atau produsen lain (kulakan), maka identitas produsen akan dicatat untuk dilakukan penelusuran dan sidak lanjutan ke tempat produksi.
Nantinya, Dinkes bekerja sama dengan Tim Jejaring Keamanan Pangan Daerah (JKPD) yang melibatkan berbagai lintas sektor. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat pengawasan pangan serta mencegah peredaran bahan berbahaya di masyarakat, khususnya selama momentum Ramadan.
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dalam memilih jajanan berbuka puasa, serta memperhatikan ciri-ciri makanan yang mencurigakan seperti tekstur terlalu kenyal, warna mencolok, atau daya simpan yang tidak wajar.
Melalui pengawasan rutin dan kerja sama lintas sektor, diharapkan kualitas dan keamanan takjil yang beredar di masyarakat dapat terus meningkat dari tahun ke tahun.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF