Penanaman Mangrove Kandang Panjang Dorong Pemulihan Ekosistem Pesisir

Penanaman Mangrove Kandang Panjang Dorong Pemulihan Ekosistem Pesisir
Kota Pekalongan – Upaya pemulihan ekosistem pesisir terus didorong melalui gerakan penanaman mangrove berbasis masyarakat. Sebanyak lebih dari 400 bibit mangrove ditanam di kawasan wisata Kano, Kelurahan Kandang Panjang, Kota Pekalongan, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan yang digerakkan Pokdarwis Cipta Pesona Mandiri bersama sejumlah komunitas dan kelompok masyarakat tersebut menjadi bagian dari kepedulian terhadap perubahan lingkungan pesisir, khususnya kawasan Kandang Panjang yang terdampak rob, banjir, dan perubahan fungsi lahan.
Pengendali Ekosistem Hutan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV, Irawan Budiwibowo, mengatakan pihaknya mendukung berbagai gerakan masyarakat yang bertujuan memperbaiki lingkungan, termasuk rehabilitasi mangrove. Dukungan diberikan tidak hanya dalam penyediaan bibit, tetapi juga melalui pendampingan teknis agar tingkat keberhasilan penanaman lebih optimal.
“Setiap komunitas, kelompok, maupun gerakan masyarakat yang ingin memperbaiki lingkungan, terutama lingkungan pesisir, kami dukung. Kami juga memberikan pengetahuan mengenai teknis penanaman mangrove agar tingkat keberhasilannya dapat diharapkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan penanaman mangrove di Kota Pekalongan memiliki tantangan tersendiri, antara lain penurunan muka tanah (land subsidence), tingginya genangan rob, serta kondisi substrat yang tidak selalu mendukung. Karena itu, pemilihan lokasi dan jenis mangrove perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Pada penanaman kali ini digunakan jenis Rhizophora apiculata dengan ketinggian bibit sekitar 30 sentimeter. Irawan menjelaskan, posisi bibit harus mempertimbangkan pasang surut agar daun tidak terendam sepanjang waktu.
“Kalau daun mangrove tidak tenggelam penuh selama 24 jam, masih bisa hidup. Karena itu, ketinggian penanaman harus menyesuaikan bibit dan kondisi pasang surut,” jelasnya.
Ia menambahkan, rehabilitasi mangrove di kawasan dengan kedalaman genangan yang cukup tinggi tetap memungkinkan, namun membutuhkan metode khusus seperti rumpun berjarak, bumbung bambu, maupun kantong sack yang membutuhkan biaya lebih besar. Karena itu, pemilihan lokasi yang sesuai menjadi penting untuk menekan kebutuhan biaya.
Lebih lanjut, pihaknya juga membuka peluang bagi masyarakat, kelompok, sekolah, maupun komunitas yang ingin melakukan rehabilitasi mangrove untuk mengajukan kebutuhan bibit melalui Cabang Dinas Kehutanan. Untuk program tahun 2026, pengajuan masih dapat dilakukan hingga sekitar November dengan menyesuaikan ketersediaan dan usia bibit.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Perubahan Iklim (Pokja PI) Kandang Panjang, Budi Keanu, mengungkapkan gerakan penanaman mangrove merupakan bentuk kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memperbaiki ekosistem di tengah perubahan lingkungan yang terjadi di wilayah pesisir.
“Intinya semaksimal mungkin kami berusaha memperbaiki ekosistem. Ini merupakan kesadaran dan kebutuhan masyarakat terkait masalah lingkungan dan perubahan iklim,” ungkapnya.
Ia menuturkan, kawasan Kandang Panjang yang sebelumnya merupakan lahan pertanian produktif kini mengalami perubahan akibat rob dan banjir. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kehidupan dan pendapatan masyarakat.
Melalui penanaman mangrove, masyarakat berharap kerusakan lingkungan tidak semakin meluas sekaligus membuka peluang pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan, termasuk untuk perikanan dan wisata.
Budi menyebut, penanaman akan dilanjutkan secara bertahap. Pihaknya telah berkomunikasi dengan Cabang Dinas Kehutanan untuk mendapatkan tambahan bibit pada November mendatang, sehingga penanaman dapat diperluas hingga kawasan di sekitar lokasi kegiatan.
“Kemarin rencananya sekitar 600 bibit, tetapi yang kami dapat 400. Kami sudah komunikasi dan mudah-mudahan November nanti bisa mendapat tambahan sehingga penanaman dapat dilanjutkan sampai ke ujung kawasan,” tutupnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
Kota Pekalongan – Upaya pemulihan ekosistem pesisir terus didorong melalui gerakan penanaman mangrove berbasis masyarakat. Sebanyak lebih dari 400 bibit mangrove ditanam di kawasan wisata Kano, Kelurahan Kandang Panjang, Kota Pekalongan, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan yang digerakkan Pokdarwis Cipta Pesona Mandiri bersama sejumlah komunitas dan kelompok masyarakat tersebut menjadi bagian dari kepedulian terhadap perubahan lingkungan pesisir, khususnya kawasan Kandang Panjang yang terdampak rob, banjir, dan perubahan fungsi lahan.
Pengendali Ekosistem Hutan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV, Irawan Budiwibowo, mengatakan pihaknya mendukung berbagai gerakan masyarakat yang bertujuan memperbaiki lingkungan, termasuk rehabilitasi mangrove. Dukungan diberikan tidak hanya dalam penyediaan bibit, tetapi juga melalui pendampingan teknis agar tingkat keberhasilan penanaman lebih optimal.
“Setiap komunitas, kelompok, maupun gerakan masyarakat yang ingin memperbaiki lingkungan, terutama lingkungan pesisir, kami dukung. Kami juga memberikan pengetahuan mengenai teknis penanaman mangrove agar tingkat keberhasilannya dapat diharapkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan penanaman mangrove di Kota Pekalongan memiliki tantangan tersendiri, antara lain penurunan muka tanah (land subsidence), tingginya genangan rob, serta kondisi substrat yang tidak selalu mendukung. Karena itu, pemilihan lokasi dan jenis mangrove perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Pada penanaman kali ini digunakan jenis Rhizophora apiculata dengan ketinggian bibit sekitar 30 sentimeter. Irawan menjelaskan, posisi bibit harus mempertimbangkan pasang surut agar daun tidak terendam sepanjang waktu.
“Kalau daun mangrove tidak tenggelam penuh selama 24 jam, masih bisa hidup. Karena itu, ketinggian penanaman harus menyesuaikan bibit dan kondisi pasang surut,” jelasnya.
Ia menambahkan, rehabilitasi mangrove di kawasan dengan kedalaman genangan yang cukup tinggi tetap memungkinkan, namun membutuhkan metode khusus seperti rumpun berjarak, bumbung bambu, maupun kantong sack yang membutuhkan biaya lebih besar. Karena itu, pemilihan lokasi yang sesuai menjadi penting untuk menekan kebutuhan biaya.
Lebih lanjut, pihaknya juga membuka peluang bagi masyarakat, kelompok, sekolah, maupun komunitas yang ingin melakukan rehabilitasi mangrove untuk mengajukan kebutuhan bibit melalui Cabang Dinas Kehutanan. Untuk program tahun 2026, pengajuan masih dapat dilakukan hingga sekitar November dengan menyesuaikan ketersediaan dan usia bibit.
Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Perubahan Iklim (Pokja PI) Kandang Panjang, Budi Keanu, mengungkapkan gerakan penanaman mangrove merupakan bentuk kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memperbaiki ekosistem di tengah perubahan lingkungan yang terjadi di wilayah pesisir.
“Intinya semaksimal mungkin kami berusaha memperbaiki ekosistem. Ini merupakan kesadaran dan kebutuhan masyarakat terkait masalah lingkungan dan perubahan iklim,” ungkapnya.
Ia menuturkan, kawasan Kandang Panjang yang sebelumnya merupakan lahan pertanian produktif kini mengalami perubahan akibat rob dan banjir. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kehidupan dan pendapatan masyarakat.
Melalui penanaman mangrove, masyarakat berharap kerusakan lingkungan tidak semakin meluas sekaligus membuka peluang pemanfaatan kawasan secara berkelanjutan, termasuk untuk perikanan dan wisata.
Budi menyebut, penanaman akan dilanjutkan secara bertahap. Pihaknya telah berkomunikasi dengan Cabang Dinas Kehutanan untuk mendapatkan tambahan bibit pada November mendatang, sehingga penanaman dapat diperluas hingga kawasan di sekitar lokasi kegiatan.
“Kemarin rencananya sekitar 600 bibit, tetapi yang kami dapat 400. Kami sudah komunikasi dan mudah-mudahan November nanti bisa mendapat tambahan sehingga penanaman dapat dilanjutkan sampai ke ujung kawasan,” tutupnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF