Pemkot Pekalongan Buka PBK 2026, Siapkan Warga Hadapi Ketatnya Persaingan Kerja

Pemkot Pekalongan Buka PBK 2026, Siapkan Warga Hadapi Ketatnya Persaingan Kerja
Kota Pekalongan - Sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus membantu mengurangi angka pengangguran di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) setempat resmi membuka Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Tahap I yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2026, Senin (18/5/2026).
Hadir membuka pelatihan tersebut, Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid mengungkapkan, kondisi ekonomi saat ini memang memberikan tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam mencari pekerjaan maupun membuka peluang usaha baru. Hal tersebut juga dirasakan langsung oleh para peserta pelatihan yang mengikuti PBK tahun ini.
“Kami sempat menanyakan langsung kepada peserta pelatihan, apakah saat ini mencari pekerjaan atau peluang usaha terasa semakin berat, dan ternyata mereka menjawab memang semakin berat,” ungkapnya.
Menurutnya, situasi ekonomi global dan nasional ikut berdampak terhadap kondisi masyarakat. Kenaikan nilai dolar yang telah menembus lebih dari Rp17 ribu serta naiknya harga BBM non subsidi dinilai turut memengaruhi daya tahan ekonomi masyarakat.
“Memang di tengah kondisi seperti sekarang, dolar naik, BBM non subsidi juga naik. Karena itu pemerintah harus terus berimprovisasi agar masyarakat tetap memiliki peluang untuk bertahan,” tandasnya.
Ia menjelaskan, enam kompetensi yang dibuka dalam PBK Tahap I yakni barista, las SMAW 3F, editor foto dan video, teknisi AC, barber atau potong rambut pria, serta teknisi handphone, dipilih karena dinilai masih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang untuk berkembang apabila ditekuni secara serius. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa persaingan di setiap bidang juga semakin ketat sehingga keberhasilan tetap bergantung pada kreativitas dan semangat individu masing-masing.
“Kompetensinya memang masih bisa bertahan, tetapi kompetitornya juga banyak. Jadi yang menentukan nantinya adalah kreativitas dan kesungguhan masing-masing peserta,” tambahnya.
Wali Kota Aaf mencontohkan bidang usaha seperti barista dan kuliner sederhana yang hingga kini masih memiliki pasar cukup baik di masyarakat. Menurutnya, konsep usaha sederhana seperti pujasera tetap diminati apabila mampu mengikuti kebutuhan dan tren masyarakat.
“Ekonomi masyarakat sebenarnya masih berjalan. Misalnya usaha barista atau tempat kuliner sederhana seperti pujasera masih banyak diminati. Tinggal bagaimana masyarakat mau mengikuti arus pasar yang sedang diminati atau bahkan menciptakan konsep baru,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinperinaker Kota Pekalongan, Betty Dahfiani Dahlan mengatakan bahwa seluruh peserta sebanyak 96 orang nantinya akan mendapatkan dua materi utama selama pelatihan, yakni softskill dan keterampilan teknis sesuai bidang masing-masing.
“Softskill dilaksanakan selama tiga hari mulai 18 sampai 20 Mei, kemudian dilanjutkan pelatihan teknis sesuai kompetensi,” katanya.
Untuk pelatihan teknis memiliki durasi berbeda-beda tergantung kompetensi masing-masing. Untuk pelatihan dengan durasi terlama berada pada jurusan teknisi handphone yang berlangsung selama 36 hari.
Pada akhir pelatihan, diterangkan Betty seluruh peserta akan mengikuti uji kompetensi yang dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang telah diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Peserta yang dinyatakan kompeten nantinya akan memperoleh sertifikat profesi sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun membuka usaha mandiri.
“Di akhir pelatihan akan dilakukan uji kompetensi oleh LSP yang sudah diakui BNSP sehingga peserta bisa memperoleh sertifikat profesi,” terangnya.
Ia menyebutkan bahwa kompetensi barista menjadi jurusan dengan peminat paling banyak pada PBK Tahap I tahun ini. Tingginya minat tersebut dinilai sejalan dengan masih besarnya peluang kerja dan usaha di bidang kuliner dan kopi.
“Peminat paling banyak saat ini memang barista. Peluangnya masih sangat besar, baik untuk bekerja maupun membuka usaha sendiri,” sambungnya.
Lebih lanjut, sebagai bentuk perlindungan selama proses pelatihan, seluruh peserta PBK juga diikutsertakan dalam program BPJS Ketenagakerjaan, khususnya jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian.
“Kami ingin seluruh peserta merasa aman selama mengikuti pelatihan,” pungkasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
Kota Pekalongan - Sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus membantu mengurangi angka pengangguran di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Dinperinaker) setempat resmi membuka Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Tahap I yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2026, Senin (18/5/2026).
Hadir membuka pelatihan tersebut, Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid mengungkapkan, kondisi ekonomi saat ini memang memberikan tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam mencari pekerjaan maupun membuka peluang usaha baru. Hal tersebut juga dirasakan langsung oleh para peserta pelatihan yang mengikuti PBK tahun ini.
“Kami sempat menanyakan langsung kepada peserta pelatihan, apakah saat ini mencari pekerjaan atau peluang usaha terasa semakin berat, dan ternyata mereka menjawab memang semakin berat,” ungkapnya.
Menurutnya, situasi ekonomi global dan nasional ikut berdampak terhadap kondisi masyarakat. Kenaikan nilai dolar yang telah menembus lebih dari Rp17 ribu serta naiknya harga BBM non subsidi dinilai turut memengaruhi daya tahan ekonomi masyarakat.
“Memang di tengah kondisi seperti sekarang, dolar naik, BBM non subsidi juga naik. Karena itu pemerintah harus terus berimprovisasi agar masyarakat tetap memiliki peluang untuk bertahan,” tandasnya.
Ia menjelaskan, enam kompetensi yang dibuka dalam PBK Tahap I yakni barista, las SMAW 3F, editor foto dan video, teknisi AC, barber atau potong rambut pria, serta teknisi handphone, dipilih karena dinilai masih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang untuk berkembang apabila ditekuni secara serius. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa persaingan di setiap bidang juga semakin ketat sehingga keberhasilan tetap bergantung pada kreativitas dan semangat individu masing-masing.
“Kompetensinya memang masih bisa bertahan, tetapi kompetitornya juga banyak. Jadi yang menentukan nantinya adalah kreativitas dan kesungguhan masing-masing peserta,” tambahnya.
Wali Kota Aaf mencontohkan bidang usaha seperti barista dan kuliner sederhana yang hingga kini masih memiliki pasar cukup baik di masyarakat. Menurutnya, konsep usaha sederhana seperti pujasera tetap diminati apabila mampu mengikuti kebutuhan dan tren masyarakat.
“Ekonomi masyarakat sebenarnya masih berjalan. Misalnya usaha barista atau tempat kuliner sederhana seperti pujasera masih banyak diminati. Tinggal bagaimana masyarakat mau mengikuti arus pasar yang sedang diminati atau bahkan menciptakan konsep baru,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinperinaker Kota Pekalongan, Betty Dahfiani Dahlan mengatakan bahwa seluruh peserta sebanyak 96 orang nantinya akan mendapatkan dua materi utama selama pelatihan, yakni softskill dan keterampilan teknis sesuai bidang masing-masing.
“Softskill dilaksanakan selama tiga hari mulai 18 sampai 20 Mei, kemudian dilanjutkan pelatihan teknis sesuai kompetensi,” katanya.
Untuk pelatihan teknis memiliki durasi berbeda-beda tergantung kompetensi masing-masing. Untuk pelatihan dengan durasi terlama berada pada jurusan teknisi handphone yang berlangsung selama 36 hari.
Pada akhir pelatihan, diterangkan Betty seluruh peserta akan mengikuti uji kompetensi yang dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang telah diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Peserta yang dinyatakan kompeten nantinya akan memperoleh sertifikat profesi sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun membuka usaha mandiri.
“Di akhir pelatihan akan dilakukan uji kompetensi oleh LSP yang sudah diakui BNSP sehingga peserta bisa memperoleh sertifikat profesi,” terangnya.
Ia menyebutkan bahwa kompetensi barista menjadi jurusan dengan peminat paling banyak pada PBK Tahap I tahun ini. Tingginya minat tersebut dinilai sejalan dengan masih besarnya peluang kerja dan usaha di bidang kuliner dan kopi.
“Peminat paling banyak saat ini memang barista. Peluangnya masih sangat besar, baik untuk bekerja maupun membuka usaha sendiri,” sambungnya.
Lebih lanjut, sebagai bentuk perlindungan selama proses pelatihan, seluruh peserta PBK juga diikutsertakan dalam program BPJS Ketenagakerjaan, khususnya jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian.
“Kami ingin seluruh peserta merasa aman selama mengikuti pelatihan,” pungkasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF