Pemkot bersama DWA Belanda Tinjau Tanggul Raksasa dan Rumah Pompa

Rombongan Dutch Water Authority (DWA) Belanda mengunjungi tanggul raksasa dan rumah pompa tanggul di Kota Pekalongan, Senin sore (11/11/2019).  Wakil Walikota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid SE bersama Sekda Kota Pekalongan Hj Sri Ruminingsi SE MSi mendampingi rombongan DWA Belanda untuk memantau progres tanggul dan rumah prompa.
 
Wakil Walikota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid SE mengungkapkan bahwwa banyak masukan dari DWA Belanda. Selama ini Belanda terbukti mampu menangani rob dengan baik selama 30 tahun di negaranya. “Memang berbeda kultur, situasi, dan kondisi dengan Indonesia khususnya Pekalongan. Kita masih banyak PR untuk ditindaklanjuti. Pihak konsultan dari Belanda telah melihat pompa dan tanggul di sini. Mereka menekankan perawatan pompa yang paling penting,” terang Afzan.
 
Afzan menerangkan bahwa pompa di tanggul ini menurut DWA Belanda sudah bisa, sedotan pompa debit airnya juga sudah bisa mengatasi rob. “Tetapi yang penting adalah bagaimana merawat pompa, pompa di Belanda selama 30 tahun masih bagus karena perawatannya. Pompa di Kota Pekalongan nantinya sudah jadi harapannya ada alokasi khusus untuk perawatan. Jika tidak dirawat dnegan baik 1-5 tahun ke depan pompa menjadi tidak berfungsi, sangat disayangkan,” ujar Afzan.
 
Sementara itu Sekda Kota pekalongan, Hj Sri Ruminingsih SE MSi menjelaskan progres tanggul ini sudah di atas 90% untuk tahun 2019. Ini sudah diadakan rapat koordinasi bersama Hutama Karya dan BBWS. “Harapannya samapai dengan Desember pemasangan pompanya dan penyambungan untuk energi dari PLN sudah selesai.  Untuk penyambungan energi ini mengambil jarak terdekat dari Jeruksari sekitar 1.250 meter. Mudah-mudahan ini bisa segera terpasang sehingga ketika musim hujan tiba, air bisa tertangani,” tandas Sri Ruminingsih.
 
Sri Ruminingsih lanjut membeberkan bahwa hasil koordinasi dengan BBWS, pada tahun 2020 akan ada program lanjutan untuk finishing tanggul. Selanjutnya, kaitannya dengan hadirnya DWA Belanda Sri Ruminingsih mengaku menimba pengalaman, mereka sudah 800 tahun mengolah dan mengatur air, mengelola tanggul, menjaga keseimbangan air, serta mengelola limbahnya. “Di Belanda tanggul dipasang 12-6 meter di bawah permukaan laut. Dalam pengelolaannya, sebelum air dibuang, limbah dikelola terlebih dahulu agar tidak merusak tanggul,” beber Sri Ruminingsih.
 
Kondisi di Kota Pekalongan ini masih dapat dikatakan awal, tanggul masih perlu penyempurnaan lagi. Sri Ruminingsih berharap masyarakat Kota Pekalongan dapat ikut berperan dengan tidak membuang sampah sembarangan