Museum Batik Catat Tren Positif Kunjungan Sepanjang 2025

Kota Pekalongan - Museum Batik Pekalongan berhasil mencatat tren positif jumlah pengunjung sepanjang tahun 2025 dengan capaian yang melampaui target pemerintah daerah. Hasil tersebut menjadi modal optimisme pengelola untuk terus meningkatkan kunjungan dan daya tarik museum pada tahun 2026
Hal ini disampaikan Kepala Museum Batik Pekalongan, Nurhayati Sinaga, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (8/1/2026). Ia menyebutkan bahwa baik target jumlah pengunjung maupun target Pendapatan Asli Daerah (PAD) berhasil direalisasikan dengan baik.
“Alhamdulillah, intinya kunjungan kita mengalami kenaikan. Target yang diberikan pemerintah, baik target kunjungan maupun PAD, semuanya tercapai. Bahkan realisasinya mencapai 104 persen dari target yang telah ditetapkan,” ujarnya.
Sepanjang tahun 2025, Museum Batik Kota Pekalongan mencatat hampir 51 ribu pengunjung. Angka ini jauh melampaui target kunjungan yang ditetapkan Pemkot Pekalongan, yakni sekitar 29 ribu hingga 30 ribu pengunjung.
Dari sisi segmentasi, pengunjung museum masih didominasi oleh kalangan pelajar. Hal ini sejalan dengan fungsi museum sebagai sarana edukasi, yang kerap dimanfaatkan sekolah-sekolah untuk kegiatan pembelajaran di luar kelas.
Selain pengunjung domestik, minat wisatawan mancanegara terhadap Museum Batik Kota Pekalongan juga terbilang cukup baik. Wisatawan asing yang berkunjung sebagian besar berasal dari negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Singapura, serta dari kawasan Eropa, khususnya Belanda.
Memasuki tahun 2026, pihaknya tetap optimistis dapat meningkatkan kunjungan meskipun menghadapi keterbatasan anggaran. Nurhayati menekankan pentingnya inovasi, kolaborasi lintas pihak, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi untuk menjaga eksistensi dan daya tarik museum.
“Harapan kami ke depan, meskipun ada kendala dari sisi anggaran, kami tetap bisa bekerja optimal dan mencapai target. Kami akan terus berupaya agar Museum Batik Kota Pekalongan semakin dikenal dan diminati masyarakat,” pungkasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF