Lomba Ngerensi Batik Pesisiran Jadi Ruang Regenerasi Pembatik Muda

Lomba Ngerensi Batik Pesisiran Jadi Ruang Regenerasi Pembatik Muda

Kota Pekalongan - Antusiasme masyarakat untuk melestarikan batik terlihat dalam Lomba Ngerensi Kategori Umum yang digelar Museum Batik Pekalongan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026. Sebanyak 100 peserta dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa dan pembatik, mengikuti kompetisi yang berlangsung selama dua hari, 5–6 Oktober 2026, di halaman Museum Batik Pekalongan.

Kurator Museum Batik Kota Pekalongan, Gavi, menuturkan jumlah peserta tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang dibatasi 50 peserta. Kuota 100 peserta bahkan terpenuhi hanya dalam waktu satu hari setelah pendaftaran dibuka.

Mengangkat tema “Ragam Hias Batik Pesisiran”, dijelaskan Gavi lomba tersebut terbuka bagi peserta dari berbagai generasi dan daerah. Karakter batik pesisiran yang dinamis, dengan ragam hias flora dan fauna, dinilai memberikan ruang kreativitas yang luas bagi peserta.

"Sebagian besar peserta telah memiliki pengalaman di bidang batik. Namun, terdapat pula peserta dari kalangan mahasiswa yang mulai menekuni dunia perbatikan," jelasnya saat ditemui pada kegiatan tersebut, Selasa (6/10/2026).

Ia menambahkan penilaian lomba mempertimbangkan kesesuaian karya dengan tema yang telah ditentukan. Dewan juri terdiri atas tiga pembatik senior, yakni Sutoyo, Miftakhutin, dan Hanafi.

Adapun hadiah yang disiapkan meliputi juara I sebesar Rp2 juta, juara II Rp1,75 juta, juara III Rp1,5 juta, Harapan I Rp750 ribu, Harapan II Rp500 ribu, dan Harapan III Rp250 ribu.

Gavi menegaskan, lomba tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keberlanjutan batik sekaligus memberikan ruang apresiasi bagi para pembatik.

“Harapannya batik tetap lestari. Ini juga menjadi wadah untuk mengapresiasi para pembatik, karena salah satu tugas museum adalah mengedukasi sekaligus menjadi ruang apresiasi,” sambungnya.

Antusiasme generasi muda turut terlihat dari keikutsertaan Anggun Udana Fitri Ayuji, mahasiswa Universitas Pekalongan (Unikal) berusia 19 tahun. Dirinya sudah beberapa kali mengikuti lomba membatik, Anggun mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam mengerjakan tema batik pesisiran.

Menurutnya, keterlibatan dalam lomba menjadi kesempatan untuk menambah pengalaman sekaligus melihat kreativitas peserta dari berbagai generasi.

“Seru, karena kita seperti melanjutkan budaya kita dari dulu. Ini juga menjadi tantangan karena bisa melihat pengalaman dan karya peserta lain yang lebih bagus,” tuturnya.

Bagi Anggun, batik juga semakin relevan dan menyenangkan untuk dipelajari generasi muda, terlebih sesuai dengan bidang yang sedang ditekuninya. Keikutsertaan mahasiswa seperti Anggun menunjukkan bahwa pelestarian batik tidak hanya bergantung pada generasi pembatik senior, tetapi mulai tumbuh melalui regenerasi di kalangan anak muda.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)