Lintas Daerah dan Usia, Lomba Ngerensi Batik Pekalongan Tarik Antusiasme Peserta

Lintas Daerah dan Usia, Lomba Ngerensi Batik Pekalongan Tarik Antusiasme Peserta

Kota Pekalongan – Lomba Ngerensi Kategori Umum yang digelar Museum Batik Kota Pekalongan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026 tak hanya mempertemukan para pelaku batik berpengalaman. Ajang ini juga menjadi ruang bagi peserta lintas generasi untuk mengasah keterampilan, menantang diri, sekaligus kembali menghidupkan pengalaman membatik yang pernah ditekuni.

Salah satunya Rozak (30), peserta asal Jepara yang untuk pertama kalinya mengikuti lomba membatik di Kota Pekalongan. Ia mengaku tertarik mengikuti lomba karena kecintaannya terhadap batik sekaligus ingin menguji kemampuan dengan berhadapan langsung dengan peserta yang lebih berpengalaman.

“Yang pertama karena saya suka dengan batik, yang kedua ingin menantang diri dan mencari pengalaman bersama orang-orang yang sudah berpengalaman,” ujar Rozak.

Meski pernah mempelajari batik di sekolah, Rozak mengakui dirinya masih dalam tahap belajar. Karena itu, ia tidak memasang target tinggi dalam kompetisi tersebut. Baginya, keberanian untuk mengikuti lomba sudah menjadi pengalaman penting.

“Tidak berharap dapat juara, yang penting ikut dulu dan mencari pengalaman,” katanya.

Tema ragam hias batik pesisiran, khususnya eksplorasi flora dan fauna, menurut Rozak menjadi tantangan tersendiri. Ia menilai karakter batik Pekalongan memiliki variasi motif yang cukup beragam sehingga membutuhkan kreativitas dalam menuangkan desain.

“Kalau sulitnya lebih ke desain, karena di Pekalongan banyak variasinya. Saya sendiri masih belajar, jadi ini sekalian untuk menantang diri,” tuturnya.

Semangat lintas generasi juga terlihat dari keikutsertaan Julaiha (73). Bagi warga Kuripan yang telah sejak kecil mengenal dunia membatik ini, mengikuti lomba menjadi kesempatan untuk kembali bersentuhan dengan aktivitas yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Julaiha mengaku telah mengenal batik sejak duduk di sekolah dasar. Ia bahkan pernah bekerja sebagai pembatik. Meski kini tidak lagi rutin membatik seperti dahulu, keikutsertaannya dalam lomba menjadi pengalaman yang menyenangkan.

“Senang saja ikut. Kalau menang, Alhamdulillah. Kalau tidak, tidak masalah,” ungkapnya.

Baginya, kegiatan tersebut sekaligus mengingatkan kembali masa ketika dirinya masih aktif membatik. Ia juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam lomba batik.

Menurutnya, kehadiran peserta muda menunjukkan bahwa membatik masih memiliki tempat di tengah generasi penerus. Hal itu menjadi kabar baik bagi keberlanjutan batik sebagai warisan budaya.

Kehadiran Rozak dan Julaiha dalam satu ajang menggambarkan bagaimana batik mampu mempertemukan pengalaman lintas generasi. Dari peserta muda yang tengah membangun keterampilan hingga pembatik senior yang kembali menggoreskan canting, keduanya sama-sama menjadikan lomba bukan semata soal kemenangan, melainkan bagian dari proses menjaga tradisi membatik tetap hidup.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)