Kreatif, Warga Binaan Sulap Limbah Jadi Produk Ekonomis

Kreatif, Warga Binaan Sulap Limbah Jadi Produk Ekonomis

Kota Pekalongan – Kreativitas warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan terus diasah melalui berbagai program pembinaan kemandirian. Salah satunya dengan mengolah limbah kertas dan kardus bekas menjadi produk kerajinan bernilai ekonomis seperti celengan berbentuk durian, tempat tisu, hingga buket bunga.

Kasubsi Bimbingan Kegiatan Rutan Kelas IIA Pekalongan, Suharto Laksono menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari pembinaan yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan dan jiwa wirausaha sebagai bekal saat kembali ke tengah masyarakat.

“Di sini kami memberikan pembinaan agar nantinya setelah bebas mereka bisa mandiri, menghidupi diri sendiri bahkan membantu perekonomian keluarga. Selain mendukung program ketahanan pangan dan UMKM, kegiatan ini juga menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, saat ini terdapat 13 warga binaan yang mengikuti program pembinaan kemandirian. Kegiatan tersebut terbagi dalam sektor UMKM dan ketahanan pangan. Untuk UMKM, warga binaan dilibatkan dalam produksi makanan seperti gorengan dan bakso, sementara sektor ketahanan pangan mencakup pertanian, perikanan, peternakan ayam, hingga budidaya maggot.

Budidaya maggot juga memberikan nilai ekonomi tersendiri. Selain memanfaatkan limbah sisa makanan dari dapur sebagai pakan, hasil budidaya maggot pernah dipasarkan dengan harga sekitar Rp15 ribu per kilogram. Produk-produk hasil karya warga binaan juga kerap dipromosikan dalam berbagai pameran dan mendapat respons positif dari pengunjung.

Untuk kerajinan tangan, bahan baku yang digunakan berasal dari kertas bekas hasil cetakan yang tidak terpakai serta kardus bekas dari kantin. Dari tangan-tangan kreatif warga binaan, limbah tersebut disulap menjadi produk menarik dengan harga jual yang cukup kompetitif. Celengan dijual sekitar Rp45 ribu hingga Rp60 ribu, sedangkan tempat tisu dibanderol sekitar Rp35 ribu.

"Melalui program pembinaan tersebut, kami berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh keterampilan produktif yang dapat mendukung kehidupan yang lebih baik setelah bebas,"harapnya.

Salah seorang warga binaan berinisial I yang mengikuti pelatihan keterampilan kerajinan mengaku senang mendapatkan kesempatan belajar selama menjalani masa pembinaan di Rutan Pekalongan.

“Awalnya saya tidak memiliki keterampilan membuat kerajinan seperti ini. Setelah mengikuti pelatihan, saya jadi bisa membuat berbagai produk dari bahan bekas yang ternyata memiliki nilai jual. Saya berharap ilmu yang didapat di sini bisa menjadi bekal usaha ketika kembali ke masyarakat nanti,” tukasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)