Kerja Bakti Massal Kembali Digelar Warga Bandengan untuk Bendung Rob yang Sudah Dua Bulan Menggenang

Kota Pekalongan – Semangat gotong royong warga Kelurahan Bandengan kembali menjadi garda terdepan dalam menghadapi rob yang tak kunjung surut. Hampir dua bulan terakhir, permukiman di wilayah tersebut masih tergenang akibat limpasan air dari bagian barat. Untuk mempercepat penanganan, warga bersama kelurahan kembali menggelar kerja bakti massal, baru-baru ini.
Kegiatan dimulai dengan apel bersama di halaman kelurahan, sebelum ratusan peserta diterjunkan ke lapangan untuk menutup titik–titik masuknya rob yang selama ini menyebabkan air bertahan lebih lama di lingkungan permukiman dengan seluruh unsur masyarakat bekerja bahu-membahu.
Lurah Bandengan, Basuki, menyampaikan bahwa kerja bakti kali ini difokuskan pada RT 3 RW 6, RT 3 RW 3, dan RT 1 RW 5. Ratusan sandbag dari DPUPR dipasang untuk menutup kebocoran talud serta lokasi-lokasi yang menjadi jalur masuk rob.
“Kali ini kami menutup tiga titik. Gogosan-gogosan talud bocor kita tutup menggunakan sandbag. Kegiatan ini melibatkan Polri, TNI, Kecamatan, warga, dan IMASTARA, serta didukung pengusaha dan warga Bandengan sendiri,” ujarnya.
Selain menutup kebocoran, kerja bakti juga diisi dengan penimbunan material urug dari DPUPR yang digunakan untuk meninggikan gang-gang rendah yang belum tersentuh pembangunan sehingga sering menjadi tempat limpasan air.
Ia menuturkan bahwa aksi ini merupakan kerja bakti ketiga yang dilakukan dalam beberapa pekan untuk menahan laju rob. Ia mengimbau warga untuk menjaga kebersihan lingkungan agar pompa dan saluran air tidak terganggu oleh sampah.
“Kami berharap pemerintah kota memberikan penanganan khusus karena wilayah kami sudah terlalu lama tergenang. Ruas jalan utama yang terdampak rob juga perlu tambal sulam sementara," tuturnya.
Sementara itu, Camat Pekalongan Utara, Wismo Aditiyo, menyampaikan apresiasinya terhadap kekompakan warga Bandengan yang terus melakukan kerja bakti secara mandiri dan tanpa henti.
“Kepedulian warga ini luar biasa. Mereka merasakan dampaknya bersama, sehingga bergerak bersama. Kalau tidak ada kepedulian ini, penanganan akan jauh lebih berat. Kerja bakti yang dilakukan beberapa kali ini sudah mulai tampak hasilnya. Beberapa sumber air masuk berhasil kita tutup dan area yang semula tergenang sudah mulai kering,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat solusi permanen masih menunggu kebijakan teknis dan fiskal pemerintah kota, kerja bakti menjadi langkah darurat paling efektif.
“Yang kita butuhkan sekarang adalah semangat gotong royong. Semua unsur masyarakat harus tetap kompak sambil menunggu penanganan permanen," tandasnya.
Meski kerja bakti sudah menunjukkan hasil, sejumlah saluran di Bandengan masih terhambat oleh tumpukan sampah sehingga aliran air belum optimal. Pihak kelurahan dan kecamatan berharap dinas terkait dapat segera turun membantu pembersihan saluran serta menangani titik rawan rob.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF