Kerajinan Makram Pekalongan Tembus Pasar Jepang, Buka Peluang Kerja bagi Masyarakat

Kerajinan Makram Pekalongan Tembus Pasar Jepang, Buka Peluang Kerja bagi Masyarakat
Kota Pekalongan – Kerajinan makram yang selama ini lebih dikenal sebagai produk dekorasi interior mulai berkembang ke ranah fesyen dan membuka peluang pasar hingga Jepang. Peluang tersebut turut melibatkan perajin lokal di Kota Pekalongan melalui kerja sama yang difasilitasi Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop-UKM) Kota Pekalongan.
Salah satu perajin yang terlibat, Fenty dari Fenty Handmade yang berlokasi di Jalan Sumatera Gang Jeruk, Kelurahan Sapuro Kebulen, mengatakan makram merupakan seni mengikat tali dengan pola tertentu. Ia bersama empat perajin lainnya dipercaya menjadi tenaga ahli untuk mengerjakan pesanan yang telah memiliki standar khusus dari mitra Jepang.
“Awalnya kami dipanggil Dindagkop, kemudian dipertemukan dengan pihak Batik Tobal yang sebelumnya sudah bekerja sama dengan pihak Jepang. Kami berlima kemudian menjadi tenaga ahli untuk mengerjakan produk tersebut,” ujar Fenty.
Kelima perajin tersebut selanjutnya bertugas mengembangkan tenaga pengerja lain di tingkat bawah. Menurut Fenty, sistem tersebut dilakukan untuk memperluas kapasitas produksi mengingat permintaan dari Jepang masih terbuka dalam jumlah besar.
Menariknya, seluruh spesifikasi produk, mulai bahan, pola, ukuran hingga bentuk ikatan, ditentukan oleh pihak Jepang. Para perajin di Pekalongan kemudian mengerjakannya sesuai pola dan standar yang telah ditetapkan.
“Kalau biasanya membuat makram yang penting ikatannya kuat, tetapi untuk pesanan Jepang harus mengikuti gambar pola secara tepat. Dari situ kami juga belajar membaca pola makram,” jelasnya.
Untuk memastikan standar pengerjaan, pihak Batik Tobal bahkan mendatangkan pengajar langsung dari Jepang. Pelatihan dasar berlangsung selama tiga hari dan menjadi bekal bagi para perajin sebelum memproduksi pesanan.
Pesanan perdana telah berhasil dikirim dan saat ini masih dalam tahap evaluasi terkait bentuk, ukuran, serta kesesuaian standar. Meski demikian, produksi tetap berjalan selama bahan yang dikirim dari mitra masih tersedia.
Dalam pengerjaannya, Fenty turut melibatkan masyarakat yang berminat, termasuk ibu rumah tangga. Tidak ada persyaratan khusus dalam perekrutan tenaga pengerja, baik usia, jenis kelamin maupun latar belakang pendidikan. Yang terpenting memiliki kemauan dan mampu mengikuti pola yang diberikan.
“Kalau pemula kami hargai Rp10 ribu per ukuran 10x10 sentimeter. Kalau hasilnya sudah mulai rapi, Rp15 ribu. Untuk ibu rumah tangga pengerjaannya fleksibel, bisa sehari satu atau dua hari satu,” ungkapnya.
Saat ini, Fenty baru melibatkan sekitar empat orang tenaga pengerja dan masih membutuhkan lebih banyak perajin. Bahkan, menurutnya, pihak Jepang terbuka menerima hasil produksi dalam jumlah berapa pun karena kebutuhan tenaga pengerja masih tinggi.
“Siapa saja boleh bergabung, tidak ada syarat usia, gender atau pendidikan. Yang penting mau dan bisa. Alat dan bahan kami yang menyediakan,” katanya.
Produk makram yang dikerjakan juga memiliki karakter berbeda dari produk makram yang umum dijumpai di Indonesia. Jika selama ini makram banyak digunakan sebagai hiasan dinding, gantungan pot atau dekorasi interior, pesanan Jepang diarahkan untuk kebutuhan fesyen, seperti clutch, aplikasi pakaian, dompet koin hingga kantong kosmetik.
Selain tali rami, pengembangan produk ke depan juga akan menggunakan material serat pelepah pisang yang dikenal sebagai “akar bakar”. Bahan tersebut menjadi bagian dari pengembangan produk berbasis bahan lokal, sementara standar material tetap mengikuti ketentuan yang ditetapkan mitra.
Fenty berharap keterlibatan perajin lokal dalam produksi makram untuk pasar Jepang dapat terus berkembang sekaligus membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat. Dengan kebutuhan produksi yang masih besar, peluang tersebut dinilai dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui keterampilan kerajinan.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
Kota Pekalongan – Kerajinan makram yang selama ini lebih dikenal sebagai produk dekorasi interior mulai berkembang ke ranah fesyen dan membuka peluang pasar hingga Jepang. Peluang tersebut turut melibatkan perajin lokal di Kota Pekalongan melalui kerja sama yang difasilitasi Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop-UKM) Kota Pekalongan.
Salah satu perajin yang terlibat, Fenty dari Fenty Handmade yang berlokasi di Jalan Sumatera Gang Jeruk, Kelurahan Sapuro Kebulen, mengatakan makram merupakan seni mengikat tali dengan pola tertentu. Ia bersama empat perajin lainnya dipercaya menjadi tenaga ahli untuk mengerjakan pesanan yang telah memiliki standar khusus dari mitra Jepang.
“Awalnya kami dipanggil Dindagkop, kemudian dipertemukan dengan pihak Batik Tobal yang sebelumnya sudah bekerja sama dengan pihak Jepang. Kami berlima kemudian menjadi tenaga ahli untuk mengerjakan produk tersebut,” ujar Fenty.
Kelima perajin tersebut selanjutnya bertugas mengembangkan tenaga pengerja lain di tingkat bawah. Menurut Fenty, sistem tersebut dilakukan untuk memperluas kapasitas produksi mengingat permintaan dari Jepang masih terbuka dalam jumlah besar.
Menariknya, seluruh spesifikasi produk, mulai bahan, pola, ukuran hingga bentuk ikatan, ditentukan oleh pihak Jepang. Para perajin di Pekalongan kemudian mengerjakannya sesuai pola dan standar yang telah ditetapkan.
“Kalau biasanya membuat makram yang penting ikatannya kuat, tetapi untuk pesanan Jepang harus mengikuti gambar pola secara tepat. Dari situ kami juga belajar membaca pola makram,” jelasnya.
Untuk memastikan standar pengerjaan, pihak Batik Tobal bahkan mendatangkan pengajar langsung dari Jepang. Pelatihan dasar berlangsung selama tiga hari dan menjadi bekal bagi para perajin sebelum memproduksi pesanan.
Pesanan perdana telah berhasil dikirim dan saat ini masih dalam tahap evaluasi terkait bentuk, ukuran, serta kesesuaian standar. Meski demikian, produksi tetap berjalan selama bahan yang dikirim dari mitra masih tersedia.
Dalam pengerjaannya, Fenty turut melibatkan masyarakat yang berminat, termasuk ibu rumah tangga. Tidak ada persyaratan khusus dalam perekrutan tenaga pengerja, baik usia, jenis kelamin maupun latar belakang pendidikan. Yang terpenting memiliki kemauan dan mampu mengikuti pola yang diberikan.
“Kalau pemula kami hargai Rp10 ribu per ukuran 10x10 sentimeter. Kalau hasilnya sudah mulai rapi, Rp15 ribu. Untuk ibu rumah tangga pengerjaannya fleksibel, bisa sehari satu atau dua hari satu,” ungkapnya.
Saat ini, Fenty baru melibatkan sekitar empat orang tenaga pengerja dan masih membutuhkan lebih banyak perajin. Bahkan, menurutnya, pihak Jepang terbuka menerima hasil produksi dalam jumlah berapa pun karena kebutuhan tenaga pengerja masih tinggi.
“Siapa saja boleh bergabung, tidak ada syarat usia, gender atau pendidikan. Yang penting mau dan bisa. Alat dan bahan kami yang menyediakan,” katanya.
Produk makram yang dikerjakan juga memiliki karakter berbeda dari produk makram yang umum dijumpai di Indonesia. Jika selama ini makram banyak digunakan sebagai hiasan dinding, gantungan pot atau dekorasi interior, pesanan Jepang diarahkan untuk kebutuhan fesyen, seperti clutch, aplikasi pakaian, dompet koin hingga kantong kosmetik.
Selain tali rami, pengembangan produk ke depan juga akan menggunakan material serat pelepah pisang yang dikenal sebagai “akar bakar”. Bahan tersebut menjadi bagian dari pengembangan produk berbasis bahan lokal, sementara standar material tetap mengikuti ketentuan yang ditetapkan mitra.
Fenty berharap keterlibatan perajin lokal dalam produksi makram untuk pasar Jepang dapat terus berkembang sekaligus membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat. Dengan kebutuhan produksi yang masih besar, peluang tersebut dinilai dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui keterampilan kerajinan.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF