Kendalikan Persebaran HIV/AIDS, Dinkes Optimalkan Peran Konselor

Permasalahan HIV/AIDS (ODHA) yang menyerang kekebalan tubuh hingga saat ini terus menjadi perhatian khusus Pemerintah untuk dikendalikan. Tidak hanya butuh kesabaran dan kekuatan mental, peran konselor (pendamping) juga sangat dibutuhkan agar bisa memotivasi penderita untuk konsisten minum obat dan memberikan penguatan psikososial untuk kesembuhannya.
Guna mengendalikan persebaran HIV/AIDS di Kota Pekalongan, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Kesehatan setempat mengoptimalkan peran konselor dengan menggelar kegiatan penguatan jejaring konselor HIV/AIDS Kota Pekalongan di Ruang Pertemuan Puskesmas Bendan, Kamis (4/7/2019).
Kepala Dinkes Kota Pekalongan melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dr Indah Kurniawati MKes menjelaskan tercatat telah ada 316 kasus HIV/AIDS di Kota Pekalongan yang terdiri dari 163 kasus HIV dan 153 AIDS dimana data tersebut merupakan kasus temuan sejak tahun 2014 hingga saat ini.
“Data terakhir yang masuk ke kami penderita pada tahun 2016 sebanyak 14 orang positif HIV, yang sudah AIDS 14 orang, tahun 2017 HIV ada 32 orang, AIDS 16. Pada tahun 2018, penderita HIV 68 orang dan 29 orang AIDS. Sedangkan sampai pertengahan tahun 2019 tercatat 8 orang positif HIV dan 16 orang AIDS. Peran para konselor puskesmas maupun ini yang sangat penting dimana mereka menjadi ujung tombak dalam pengendalian kasus HIV/AIDS karena masyarakat yang merasa sakit selalu datang ke tempat tersebut yang merupakan titik tangkap bertemu dengan orang yang beresiko terkena HIV/AIDS,” tutur Indah.
Disampaikan Indah, kebanyakan kasus HIV/AIDS yang ditemukan terjadi pada ibu hamil berusia produktif. HIV/AIDS pada ibu hamil menyebabkan masalah yang lebih berat karena dapat membahayakan keselamatan jiwa ibu dan menular kepada bayi melalui masa kehamilan, saat melahirkan dan menyusui.
“Ibu rumah tangga usia produktif menjadi potensi terbesar yang terinfeksi HIV/AIDS karena pengaruh suami yang melakukan hubungan seks beresiko atau bukan dengan pasangannya. Sehingga, saat mereka hendak hamil maupun dalam masa kehamilan harus sering periksa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Apabila mereka sudah diketahui gejalanya, bisa diobati atau tertangani lebih dini agar tidak berdampak pada janin mereka nantinya,” papar Indah.
Selain itu, upaya yang telah dilakukan oleh Dinkes Kota Pekalongan, lanjut Indah, bagi yang ingin mengecek status apakah terinfeksi HIV/AIDS atau tidak, dapat berkunjung ke puskesmas terdekat dengan melakukan VCT (voluntary counselling and testing) test yang berguna dalam mendeteksi dan menangani HIV dan apabila sudah positif juga dianjurkan untuk rutin berobat ARV.
“VCT test ini sudah bisa dilakukan di puskesmas atau rumah sakit maupun klinik terdekat penyedia layanan VCT. Pada prinsipnya VCT bersifat rahasia dan dilakukan secara sukarela. Artinya hanya dilakukan atas inisiatif dan persetujuan seseorang yang datang pada penyedia layanan VCT untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan pun terjaga kerahasiaannya. Hingga kini memang ARV (Anti Retra Virus) masih menjadi satu-satunya obat yang direkomendasikan untuk pengidap yang telah positif HIV/AIDS yang harus dilakukan terus menerus untuk menekam tumbuh kembang biak virus tersebut di dalam tubuh manusia,” jelas Indah.
Indah berharap, setelah diberikan penguatan jejaring konselor HIV/AIDS dengan mendatangkan narasumber dari Dinkes Pemerintah Provinsi, Edy Purwanto, tenaga konselor ini dapat menjadi konselor yang mumpuni dalam memberikan motivasi penderita HIV/AIDS.
“Para konselor ini memiliki peran yang sangat penting untuk mengedukasi, melakukan konseling, dan penguatan pada penderita HIV/AID. Mereka diharapkan terlibat dalam VCT test, dapat membantu memecahkan masalah penderita tersebut, sehingga, penderita nantinya akan lebih terbuka dan jujur menceritakan kegiatan sebelumnya yang dicurigai dapat berisiko terpapar virus HIV/AIDS, seperti pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, riwayat aktivitas seksual, penggunaan narkoba suntik, pernah menerima transfusi darah atau transplantasi organ, memiliki tato dan riwayat penyakit terdahulu agar penderita ini bisa segera tertangani dan tidak menularkan ke orang lain,” pungkas Indah.
PRINT +
DOWNLOAD PDF