Kemitraan Perkuat Ekowisata Degayu, Libatkan Kelompok Binaan dan Masyarakat Lokal

Kemitraan Perkuat Ekowisata Degayu, Libatkan Kelompok Binaan dan Masyarakat Lokal
Kota Pekalongan – Pengembangan Edu Ekowisata Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, terus diperkuat melalui kolaborasi Kemitraan Indonesia yang mengedepankan pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat lokal. Konsep tersebut diarahkan untuk menjadikan Degayu sebagai kawasan wisata edukatif berbasis mangrove dan potensi ekonomi masyarakat.
Project Officer Comdev Kemitraan Indonesia, Eva S. Nisa, saat ditemui di lokasi pembangunan Edu Ekowisata Degayu, Selasa (8/9/2026), mengatakan pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada destinasi wisata, tetapi juga memperkuat aspek ekologi dan edukasi.
Menurutnya, penanaman dan perluasan mangrove menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat karakter ekowisata Degayu. Selain itu, telah dikembangkan arboretum sebagai sarana pembelajaran berbagai jenis mangrove serta rumah bibit untuk menjamin ketersediaan bibit sekaligus menjadi ruang edukasi bagi pengunjung.
“Harapannya Degayu punya branding sendiri sebagai kampung edukasi, edukasi mangrove dan ekowisata. Artinya menjadi satu kesatuan,” ujarnya.
Eva menambahkan, konsep Kemitraan Indonesia juga diarahkan untuk melibatkan kelompok-kelompok binaan sebagai bagian dari rantai kegiatan ekowisata dengan konsep ecotrip. Produk dan bahan baku kuliner, misalnya, dapat berasal dari kelompok masyarakat, termasuk hasil budidaya ikan melalui sistem silvofishery serta olahan sayuran khas lokal wilayah setempat.
Salah satu potensi yang dikembangkan adalah kuliner khas Degayu, termasuk sayur asem mangrove yang memanfaatkan bagian buah mangrove tertentu. Dengan demikian, keberadaan ekowisata diharapkan turut membuka ruang pemasaran dan meningkatkan nilai tambah produk masyarakat.
“Jadi kami mencoba agar Degayu punya branding dan khas sendiri, baik dari tempatnya maupun dari kulinernya, yang semuanya berasal dari kelompok binaan kami,” jelasnya.
Lebih lanjut, Edu Ekowisata Degayu dirancang sebagai kawasan yang terintegrasi. Pengunjung tidak hanya menikmati panorama dan matahari terbenam, tetapi juga dapat mengikuti perjalanan edukatif ke sejumlah titik, seperti rumah bibit mangrove, greenhouse melon premium, serta demplot silvofishery.
“Ekowisata ini tidak hanya melihat matahari terbenam, tetapi orang datang bisa melakukan trip dan terhubung dengan tempat-tempat edukasi yang ada di Degayu,” katanya.
Pembangunan Edu Ekowisata Degayu mulai dilakukan pada tahun ini dan ditargetkan rampung pada September 2026, untuk selanjutnya dilakukan penyerahan kepada Pemerintah Kota Pekalongan pada bulan Oktober 2026.
Edu ekowisata juga diintegrasikan dengan rumah livelihood sebagai ruang kolaborasi inisiatif pembelajaran tentang adaptasi perubahan iklim.
"Kehadiran kawasan ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi kemitraan yang mampu mengintegrasikan pelestarian lingkungan, edukasi, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
Kota Pekalongan – Pengembangan Edu Ekowisata Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, terus diperkuat melalui kolaborasi Kemitraan Indonesia yang mengedepankan pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat lokal. Konsep tersebut diarahkan untuk menjadikan Degayu sebagai kawasan wisata edukatif berbasis mangrove dan potensi ekonomi masyarakat.
Project Officer Comdev Kemitraan Indonesia, Eva S. Nisa, saat ditemui di lokasi pembangunan Edu Ekowisata Degayu, Selasa (8/9/2026), mengatakan pengembangan kawasan tidak hanya berfokus pada destinasi wisata, tetapi juga memperkuat aspek ekologi dan edukasi.
Menurutnya, penanaman dan perluasan mangrove menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat karakter ekowisata Degayu. Selain itu, telah dikembangkan arboretum sebagai sarana pembelajaran berbagai jenis mangrove serta rumah bibit untuk menjamin ketersediaan bibit sekaligus menjadi ruang edukasi bagi pengunjung.
“Harapannya Degayu punya branding sendiri sebagai kampung edukasi, edukasi mangrove dan ekowisata. Artinya menjadi satu kesatuan,” ujarnya.
Eva menambahkan, konsep Kemitraan Indonesia juga diarahkan untuk melibatkan kelompok-kelompok binaan sebagai bagian dari rantai kegiatan ekowisata dengan konsep ecotrip. Produk dan bahan baku kuliner, misalnya, dapat berasal dari kelompok masyarakat, termasuk hasil budidaya ikan melalui sistem silvofishery serta olahan sayuran khas lokal wilayah setempat.
Salah satu potensi yang dikembangkan adalah kuliner khas Degayu, termasuk sayur asem mangrove yang memanfaatkan bagian buah mangrove tertentu. Dengan demikian, keberadaan ekowisata diharapkan turut membuka ruang pemasaran dan meningkatkan nilai tambah produk masyarakat.
“Jadi kami mencoba agar Degayu punya branding dan khas sendiri, baik dari tempatnya maupun dari kulinernya, yang semuanya berasal dari kelompok binaan kami,” jelasnya.
Lebih lanjut, Edu Ekowisata Degayu dirancang sebagai kawasan yang terintegrasi. Pengunjung tidak hanya menikmati panorama dan matahari terbenam, tetapi juga dapat mengikuti perjalanan edukatif ke sejumlah titik, seperti rumah bibit mangrove, greenhouse melon premium, serta demplot silvofishery.
“Ekowisata ini tidak hanya melihat matahari terbenam, tetapi orang datang bisa melakukan trip dan terhubung dengan tempat-tempat edukasi yang ada di Degayu,” katanya.
Pembangunan Edu Ekowisata Degayu mulai dilakukan pada tahun ini dan ditargetkan rampung pada September 2026, untuk selanjutnya dilakukan penyerahan kepada Pemerintah Kota Pekalongan pada bulan Oktober 2026.
Edu ekowisata juga diintegrasikan dengan rumah livelihood sebagai ruang kolaborasi inisiatif pembelajaran tentang adaptasi perubahan iklim.
"Kehadiran kawasan ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi kemitraan yang mampu mengintegrasikan pelestarian lingkungan, edukasi, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF