Kemitraan Berakhir, Pakarti Disiapkan Jadi Penggerak Keberlanjutan Urban Farming Pekalongan

Kemitraan Berakhir, Pakarti Disiapkan Jadi Penggerak Keberlanjutan Urban Farming Pekalongan

Kota Pekalongan – Berakhirnya pendampingan Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia di Kota Pekalongan tidak menjadi akhir pengembangan urban farming. Keberlanjutan program kini diperkuat melalui pembentukan Paguyuban Kolaborasi Tani Urban Farming Kota Pekalongan (Pakarti).

Project Officer Comdev Program Adaptation Fund Kemitraan Indonesia, Herdian, menerangkan, Pakarti dibentuk sebagai wadah kolaborasi sekaligus fasilitator bagi kelompok urban farming di Kota Pekalongan. Paguyuban tersebut beranggotakan perwakilan pengurus kelompok tani dampingan dan diketuai Rohani dari Kelompok Nawasena.

“Pakarti ini nantinya berfungsi sebagai fasilitator kelompok tani urban farming yang ada di Kota Pekalongan, termasuk membantu menghubungkan kelompok dengan berbagai pihak,” terangnya.

Melalui Pakarti, kelompok urban farming akan terus didorong untuk meningkatkan kapasitas, mengembangkan produk, memperluas pemasaran, sekaligus meningkatkan jenjang kelembagaan. Dari total kelompok dampingan, sembilan kelompok telah berada pada level tumbuh, sedangkan 10 kelompok lainnya masih berada pada level dasar.

Penguatan keberlanjutan juga dilakukan melalui jejaring dengan Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) untuk aspek kelembagaan, peningkatan budidaya dan dukungan sarana produksi. Sementara itu, Rumah BUMN diarahkan untuk mendukung aspek pemasaran dan branding produk.

Peluang pasar bagi hasil urban farming juga mulai terbuka. Dalam kegiatan uji pasar, kelompok mendapatkan permintaan produk segar dari Perkumpulan Pengusaha Jasa Boga Indonesia (PPJI), termasuk untuk kebutuhan usaha katering dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Ketika ada permintaan, kemarin dalam kegiatan uji pasar produk langsung ada permintaan dari PPJI untuk beberapa produk segar seperti selada, tomat, timun dan sebagainya,” sambungnya.

Ditambahkan Herdian, keberlanjutan urban farming ke depan akan diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga konsistensi kualitas dan kemampuan kelompok memenuhi kebutuhan pasar. Dengan demikian, semakin banyak kelompok dasar diharapkan dapat naik menjadi kelompok tumbuh dan memiliki produk maupun pasar yang berkelanjutan.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)