KBM PAUD Berjalan Bertahap Pasca Banjir Kota Pekalongan

Kota Pekalongan – Bencana banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kota Pekalongan berdampak pada aktivitas pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ketua Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) Kota Pekalongan, Mustaqimah menyampaikan bahwa terdapat puluhan satuan pendidikan PAUD yang terdampak, terutama di wilayah Pekalongan Barat dan Utara.
Saat ditemui pada kegiatan penyaluran bantuan di KB Holistik Inklusi belum lama ini, ia menyebutkan, berdasarkan pendataan HIMPAUDI Kota Pekalongan, satuan pendidikan yang terdampak banjir tersebar di beberapa kecamatan. Di Kecamatan Pekalongan Timur tercatat satu lembaga PAUD yang terdampak, yakni PAUD Cempaka Sari. Sementara itu, Kecamatan Pekalongan Selatan dilaporkan nihil terdampak banjir.
Mustaqimah mengungkapkan bahwa dampak cukup signifikan terjadi di Kecamatan Pekalongan Barat dengan 23 lembaga PAUD terdampak, serta Kecamatan Pekalongan Utara sebanyak 5 lembaga.
Melihat kondisi tersebut, ia mengungkapkan bahwa sejumlah lembaga PAUD terpaksa meliburkan sementara kegiatan belajar mengajar (KBM). Namun, beberapa lembaga memilih alternatif pembelajaran secara daring demi menjaga keberlangsungan proses pendidikan anak. Per hari ini, sebagian lembaga yang sebelumnya terdampak dilaporkan sudah mulai kembali melaksanakan pembelajaran secara bertahap, menyesuaikan kondisi lingkungan masing-masing.
"Sebagian besar wali murid berharap kegiatan belajar mengajar dapat segera kembali normal. Mereka ingin anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan secara optimal meskipun di tengah kondisi banjir," ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia berharap besar terhadap bantuan pemerintah, khususnya bagi lembaga PAUD yang berada di wilayah rawan banjir. Menurutnya, kondisi banjir di beberapa daerah cukup memprihatinkan karena air banjir dapat dengan cepat masuk ke lingkungan sekolah saat hujan turun, bahkan di wilayah yang dekat dengan sungai, banjir sering kali disertai lumpur yang mengganggu sarana dan prasarana pembelajaran.
“Harapannya bantuan ini bersifat sementara untuk penanganan darurat, namun ke depan kami berharap ada penanganan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan agar persoalan banjir tidak terus berulang dan mengganggu proses pendidikan anak usia dini,” tukasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF