Karya Pembatik Muda Tampil dalam Pameran 20 Tahun Museum Batik

Karya Pembatik Muda Tampil dalam Pameran 20 Tahun Museum Batik
Kota Pekalongan – Sebanyak 15 karya batik terbaik hasil kurasi ditampilkan dalam pameran "Batik Membumi, Generasi Peduli" di Museum Batik Kota Pekalongan. Pameran yang menjadi bagian dari peringatan 20 tahun Museum Batik tersebut menghadirkan karya pembatik muda dari berbagai kalangan sebagai ruang apresiasi sekaligus edukasi kepada masyarakat.
Kepala Museum Batik Kota Pekalongan, Nurhayati Sinaga mengatakan, peserta pameran berasal dari mahasiswa Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU), Universitas Pekalongan (Unikal), siswa SMK yang memiliki kompetensi batik, serta peserta umum melalui mekanisme open submission.Seluruh karya yang dipamerkan telah melalui proses kurasi.
"Ruang pamer kami hanya mampu menampilkan maksimal 15 karya, sehingga seluruh karya yang masuk harus melalui proses seleksi oleh kurator. Ke depan kami berharap bisa melibatkan lebih banyak pembatik muda agar semakin banyak karya yang dapat diapresiasi masyarakat," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa pameran "Batik Membumi, Generasi Peduli" dijadwalkan berlangsung sejak 22 Juli hingga 12 Agustus 2026.
Salah satu peserta, Trias Intan Pandini (21), menampilkan karya berjudul "Mayura Wana", yang diambil dari bahasa Sanskerta, yakni mayura berarti burung merak dan wana berarti hutan liar. Karya tersebut menggambarkan seekor merak yang bersinar di tengah gelapnya hutan sebagai simbol keseimbangan kehidupan dengan alam.
"Mayura Wana mempresentasikan manusia sebagai makhluk hidup yang harus hidup berdampingan dan menjaga keseimbangan dengan alam. Saya berharap generasi muda semakin mencintai batik, bangga mengenakannya, dan terus berkarya agar pembatik muda Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa batik memiliki makna, filosofi, dan pesan kehidupan," tukasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
Kota Pekalongan – Sebanyak 15 karya batik terbaik hasil kurasi ditampilkan dalam pameran "Batik Membumi, Generasi Peduli" di Museum Batik Kota Pekalongan. Pameran yang menjadi bagian dari peringatan 20 tahun Museum Batik tersebut menghadirkan karya pembatik muda dari berbagai kalangan sebagai ruang apresiasi sekaligus edukasi kepada masyarakat.
Kepala Museum Batik Kota Pekalongan, Nurhayati Sinaga mengatakan, peserta pameran berasal dari mahasiswa Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama (ITSNU), Universitas Pekalongan (Unikal), siswa SMK yang memiliki kompetensi batik, serta peserta umum melalui mekanisme open submission.Seluruh karya yang dipamerkan telah melalui proses kurasi.
"Ruang pamer kami hanya mampu menampilkan maksimal 15 karya, sehingga seluruh karya yang masuk harus melalui proses seleksi oleh kurator. Ke depan kami berharap bisa melibatkan lebih banyak pembatik muda agar semakin banyak karya yang dapat diapresiasi masyarakat," katanya.
Ia mengungkapkan bahwa pameran "Batik Membumi, Generasi Peduli" dijadwalkan berlangsung sejak 22 Juli hingga 12 Agustus 2026.
Salah satu peserta, Trias Intan Pandini (21), menampilkan karya berjudul "Mayura Wana", yang diambil dari bahasa Sanskerta, yakni mayura berarti burung merak dan wana berarti hutan liar. Karya tersebut menggambarkan seekor merak yang bersinar di tengah gelapnya hutan sebagai simbol keseimbangan kehidupan dengan alam.
"Mayura Wana mempresentasikan manusia sebagai makhluk hidup yang harus hidup berdampingan dan menjaga keseimbangan dengan alam. Saya berharap generasi muda semakin mencintai batik, bangga mengenakannya, dan terus berkarya agar pembatik muda Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa batik memiliki makna, filosofi, dan pesan kehidupan," tukasnya.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF