HTD, Komunitas Tari Pekalongan Gelar Pertunjukan Maraton 10 Jam Menari

HTD, Komunitas Tari Pekalongan Gelar Pertunjukan Maraton 10 Jam Menari "Nglaras Roso Merdi Budaya"
Pekalongan – Peringatan Hari Tari Dunia (HTD) ke-44 pada 29 April diperingati meriah oleh komunitas seni tari di Kota Pekalongan sebagai upaya pelestarian dan pengembangan seni tari di tengah masyarakat. Mengusung tema "Nglaras Roso Merdi Budaya”, kegiatan ini digelar di ruang publik Lapangan Jetayu yang dikenal sebagai kawasan budaya Kota Pekalongan, Rabu (29/4/2026) sore.
Ketua Komunitas Tari Pekalongan, Bambang Irianto, saat ditemui pada gelaran tersebut menjelaskan bahwa Hari Tari Dunia pertama kali ditetapkan pada tahun 1982 oleh UNESCO melalui lembaga seni pertunjukannya, International Theatre Institute. Sejak saat itu, peringatan ini menjadi momentum penting dalam mengapresiasi sekaligus melestarikan seni tari di berbagai belahan dunia.
“Dalam kegiatan ini kami menghadirkan ikon Hari Tari Dunia berupa pertunjukan menari selama 10 jam non stop yang dibawakan oleh penari dari Sanggar Surya Budaya,” jelasnya.
Kegiatan ini melibatkan sanggar seni tari, antara lain Kaloka, Kartika, AMDI, Puspa Kinanti SMP 12, Gayatri, Omah Budaya, Surya Budaya, Nawasena 2, Sari Arum, Ayudia, dan Wiragati. Selain itu, juga diikuti oleh satu lembaga pendidikan anak usia dini, yakni TK Ma’had Islam. Keterlibatan peserta didik usia dini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni tari sejak awal, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal.
Menurut Bambang, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga sarana edukasi seni bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Ia berharap peringatan Hari Tari Dunia dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Kami berharap kegiatan ini tetap lestari dan mampu memberikan wawasan seni kepada anak usia dini, sehingga ke depan mereka dapat meneruskan seni-seni yang ada di Indonesia, khususnya di Kota Pekalongan,” tambahnya.
Ia melihat perkembangan seni tari di Pekalongan yang menunjukkan tren positif. Jika sebelumnya jumlah sanggar tari masih terbatas, kini mulai bermunculan dan berkembang. Tercatat, saat ini terdapat sekitar 11 sanggar tari tradisional yang turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Ke depan, pihaknya berharap seluruh sanggar tari di Kota Pekalongan, baik yang berbasis tradisional maupun modern, dapat berpartisipasi dalam peringatan Hari Tari Dunia berikutnya. Hal ini diharapkan dapat semakin memperkuat keberlangsungan seni tari sekaligus menjadikan Kota Pekalongan sebagai salah satu kota yang aktif dalam pelestarian budaya Indonesia.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
Pekalongan – Peringatan Hari Tari Dunia (HTD) ke-44 pada 29 April diperingati meriah oleh komunitas seni tari di Kota Pekalongan sebagai upaya pelestarian dan pengembangan seni tari di tengah masyarakat. Mengusung tema "Nglaras Roso Merdi Budaya”, kegiatan ini digelar di ruang publik Lapangan Jetayu yang dikenal sebagai kawasan budaya Kota Pekalongan, Rabu (29/4/2026) sore.
Ketua Komunitas Tari Pekalongan, Bambang Irianto, saat ditemui pada gelaran tersebut menjelaskan bahwa Hari Tari Dunia pertama kali ditetapkan pada tahun 1982 oleh UNESCO melalui lembaga seni pertunjukannya, International Theatre Institute. Sejak saat itu, peringatan ini menjadi momentum penting dalam mengapresiasi sekaligus melestarikan seni tari di berbagai belahan dunia.
“Dalam kegiatan ini kami menghadirkan ikon Hari Tari Dunia berupa pertunjukan menari selama 10 jam non stop yang dibawakan oleh penari dari Sanggar Surya Budaya,” jelasnya.
Kegiatan ini melibatkan sanggar seni tari, antara lain Kaloka, Kartika, AMDI, Puspa Kinanti SMP 12, Gayatri, Omah Budaya, Surya Budaya, Nawasena 2, Sari Arum, Ayudia, dan Wiragati. Selain itu, juga diikuti oleh satu lembaga pendidikan anak usia dini, yakni TK Ma’had Islam. Keterlibatan peserta didik usia dini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni tari sejak awal, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal.
Menurut Bambang, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga sarana edukasi seni bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Ia berharap peringatan Hari Tari Dunia dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Kami berharap kegiatan ini tetap lestari dan mampu memberikan wawasan seni kepada anak usia dini, sehingga ke depan mereka dapat meneruskan seni-seni yang ada di Indonesia, khususnya di Kota Pekalongan,” tambahnya.
Ia melihat perkembangan seni tari di Pekalongan yang menunjukkan tren positif. Jika sebelumnya jumlah sanggar tari masih terbatas, kini mulai bermunculan dan berkembang. Tercatat, saat ini terdapat sekitar 11 sanggar tari tradisional yang turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Ke depan, pihaknya berharap seluruh sanggar tari di Kota Pekalongan, baik yang berbasis tradisional maupun modern, dapat berpartisipasi dalam peringatan Hari Tari Dunia berikutnya. Hal ini diharapkan dapat semakin memperkuat keberlangsungan seni tari sekaligus menjadikan Kota Pekalongan sebagai salah satu kota yang aktif dalam pelestarian budaya Indonesia.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF