Hasil Surveilans Jadi Dasar Pembinaan Daerah, Pemprov Jateng Dorong Peningkatan Air Minum Aman

Hasil Surveilans Jadi Dasar Pembinaan Daerah, Pemprov Jateng Dorong Peningkatan Air Minum Aman
Kota Pekalongan - Hasil Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) tidak hanya menjadi gambaran kondisi kesehatan lingkungan masyarakat, tetapi juga menjadi dasar penyusunan strategi pembinaan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas air minum yang aman. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat pelaksanaan surveilans di seluruh kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit berbasis lingkungan.
Programmer Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Atik Sarifatun, saat melakukan pendampingan kegiatan di Puskemas Buaran, Kota Pekalongan, kemarin mengatakan pelaksanaan SKAMRT dan Surveilans Kualitas Udara Dalam Rumah (SKUDR) dilaksanakan di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Meski demikian, jumlah puskesmas yang menjadi lokasi surveilans menyesuaikan alokasi pendanaan dari pemerintah pusat.
"Semua kabupaten/kota menjadi sasaran. Hanya saja jumlah puskesmas yang menjadi lokus berbeda-beda. Di Kota Pekalongan, dari 14 puskesmas hanya empat yang mendapatkan pendanaan BOK dari pusat. Namun Pemerintah Kota Pekalongan mengalokasikan pendanaan APBD sehingga 10 puskesmas lainnya tetap dapat melaksanakan surveilans," ujarnya.
Menurut Atik, dukungan pemerintah daerah tersebut menunjukkan komitmen dalam menjaga kualitas lingkungan melalui pemantauan yang lebih luas. Hasil surveilans nantinya akan menjadi salah satu indikator kinerja pemerintah daerah dalam penyelenggaraan kesehatan lingkungan.
"Target kami tentu kualitas air minum yang memenuhi syarat terus meningkat, baik dari aspek bakteriologis, fisik maupun kimia. Indikator ini selaras mulai dari kabupaten/kota, provinsi hingga pemerintah pusat," jelasnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan tahun sebelumnya, kualitas air minum yang bersumber dari jaringan PDAM relatif lebih baik. Sementara itu, pada sejumlah sumber air lainnya masih ditemukan kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli), sehingga upaya perbaikan kualitas air minum masih perlu terus dilakukan.
Setelah seluruh proses surveilans selesai, pemerintah kabupaten/kota akan melakukan analisis hasil yang kemudian menjadi bahan evaluasi bersama pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Apabila masih ditemukan capaian yang belum memenuhi standar, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah akan melakukan pembinaan serta menyusun langkah perbaikan bersama pemerintah daerah.
"Kalau hasilnya belum memenuhi syarat, kami akan melakukan pembinaan bersama kabupaten/kota untuk menyusun strategi yang tepat agar kualitas air minum masyarakat terus meningkat," sambungnya.
Selain melalui pengawasan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah juga terus mendorong edukasi kepada masyarakat melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), khususnya pada pilar pengamanan air minum dan makanan rumah tangga. Edukasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih cermat memilih sumber air yang aman dan memenuhi persyaratan kesehatan.
"Kami berharap masyarakat semakin peduli terhadap kualitas air yang dikonsumsi setiap hari. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, kualitas air minum rumah tangga diharapkan terus membaik sehingga risiko penyakit akibat lingkungan dapat ditekan," tutup Atik.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
Kota Pekalongan - Hasil Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) tidak hanya menjadi gambaran kondisi kesehatan lingkungan masyarakat, tetapi juga menjadi dasar penyusunan strategi pembinaan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas air minum yang aman. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat pelaksanaan surveilans di seluruh kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya pengendalian penyakit berbasis lingkungan.
Programmer Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Atik Sarifatun, saat melakukan pendampingan kegiatan di Puskemas Buaran, Kota Pekalongan, kemarin mengatakan pelaksanaan SKAMRT dan Surveilans Kualitas Udara Dalam Rumah (SKUDR) dilaksanakan di seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Meski demikian, jumlah puskesmas yang menjadi lokasi surveilans menyesuaikan alokasi pendanaan dari pemerintah pusat.
"Semua kabupaten/kota menjadi sasaran. Hanya saja jumlah puskesmas yang menjadi lokus berbeda-beda. Di Kota Pekalongan, dari 14 puskesmas hanya empat yang mendapatkan pendanaan BOK dari pusat. Namun Pemerintah Kota Pekalongan mengalokasikan pendanaan APBD sehingga 10 puskesmas lainnya tetap dapat melaksanakan surveilans," ujarnya.
Menurut Atik, dukungan pemerintah daerah tersebut menunjukkan komitmen dalam menjaga kualitas lingkungan melalui pemantauan yang lebih luas. Hasil surveilans nantinya akan menjadi salah satu indikator kinerja pemerintah daerah dalam penyelenggaraan kesehatan lingkungan.
"Target kami tentu kualitas air minum yang memenuhi syarat terus meningkat, baik dari aspek bakteriologis, fisik maupun kimia. Indikator ini selaras mulai dari kabupaten/kota, provinsi hingga pemerintah pusat," jelasnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan tahun sebelumnya, kualitas air minum yang bersumber dari jaringan PDAM relatif lebih baik. Sementara itu, pada sejumlah sumber air lainnya masih ditemukan kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli), sehingga upaya perbaikan kualitas air minum masih perlu terus dilakukan.
Setelah seluruh proses surveilans selesai, pemerintah kabupaten/kota akan melakukan analisis hasil yang kemudian menjadi bahan evaluasi bersama pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Apabila masih ditemukan capaian yang belum memenuhi standar, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah akan melakukan pembinaan serta menyusun langkah perbaikan bersama pemerintah daerah.
"Kalau hasilnya belum memenuhi syarat, kami akan melakukan pembinaan bersama kabupaten/kota untuk menyusun strategi yang tepat agar kualitas air minum masyarakat terus meningkat," sambungnya.
Selain melalui pengawasan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah juga terus mendorong edukasi kepada masyarakat melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), khususnya pada pilar pengamanan air minum dan makanan rumah tangga. Edukasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih cermat memilih sumber air yang aman dan memenuhi persyaratan kesehatan.
"Kami berharap masyarakat semakin peduli terhadap kualitas air yang dikonsumsi setiap hari. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, kualitas air minum rumah tangga diharapkan terus membaik sehingga risiko penyakit akibat lingkungan dapat ditekan," tutup Atik.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF