Gerakan Jelantah Jadi Rupiah Disiapkan, Dorong Masyarakat Ubah Limbah Menjadi Tabungan

Gerakan Jelantah Jadi Rupiah Disiapkan, Dorong Masyarakat Ubah Limbah Menjadi Tabungan
Kota Pekalongan – Minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang begitu saja mulai didorong untuk memiliki nilai manfaat dan ekonomi. Pemerintah Kota Pekalongan melalui Pokja III dan Pokja IV menggelar sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) Gerakan Jelantah Jadi Rupiah sebagai upaya mengajak masyarakat mengumpulkan minyak jelantah agar dapat dimanfaatkan kembali sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Kegiatan tersebut diikuti PIC dari masing-masing kecamatan dan kelurahan se-Kota Pekalongan, dengan menghadirkan narasumber dari pihak pengelola pengumpulan dan pemanfaatan minyak jelantah. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya menindaklanjuti gerakan serupa di tingkat Provinsi Jawa Tengah agar dapat diterapkan dan digerakkan secara luas di masing-masing kabupaten/kota.
“Harapannya nanti kita akan ada launching, insyaallah tanggal 5 Oktober, bertepatan dengan pembukaan Festival Literasi. Kita akan menggerakkan seluruh OPD, PKK, dan masyarakat untuk bersama-sama melakukan sedekah jelantah,” ungkap Ketua TP PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya pada kegiatan tersebut, Rabu (16/9/2026) di aula Labkesda setempat.
Melalui gerakan tersebut, pengumpulan jelantah akan dilakukan secara terstruktur. Untuk OPD, jelantah dikumpulkan di masing-masing OPD, sedangkan di tingkat masyarakat pengumpulan dilakukan melalui kelurahan. Selanjutnya, hasil pengumpulan akan dihimpun di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan.
Gerakan ini tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan seremonial saat peluncuran. Jelantah yang dikumpulkan masyarakat nantinya dapat menjadi tabungan, sehingga semakin banyak minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan, semakin besar pula nilai yang diperoleh.
“Selama ini jelantah yang jumlahnya sedikit biasanya dibuang begitu saja. Padahal kalau dikumpulkan bisa menjadi tabungan yang lebih bermanfaat. Jelantah juga mencemari lingkungan apabila dibuang sembarangan,” tandas Inggit.
Dalam skema yang disiapkan, minyak jelantah dihargai sekitar Rp6.000 per liter untuk masyarakat. Sementara nilai Rp7.000 per liter menjadi acuan sebelum dikurangi Rp1.000 untuk mendukung kebutuhan operasional PIC, seperti penyediaan wadah, tempat penyimpanan, hingga pencatatan hasil pengumpulan.
Ia menambahkan jelantah yang terkumpul selanjutnya akan diolah kembali menjadi biodiesel. Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, juga disiapkan kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan pihak terkait.
Pemkot Pekalongan juga mendorong keterlibatan aparatur dan masyarakat secara luas. Dengan jumlah PNS yang diperkirakan mencapai sekitar 5.000 orang, gerakan ini diharapkan dapat diawali dari lingkungan pemerintahan dengan target pengumpulan yang terukur.
“Harapannya ini menjadi gerakan bersama untuk seluruh masyarakat dan bisa berkelanjutan. Tidak hanya sedekah jelantah pada saat launching saja, tetapi menjadi kebiasaan, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga, untuk mengumpulkan jelantahnya supaya bisa bermanfaat kembali,” imbuhnya.
Melalui Gerakan Jelantah Jadi Rupiah, minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diharapkan dapat dikelola menjadi sumber manfaat ekonomi sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan di Kota Pekalongan.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)
Kota Pekalongan – Minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang begitu saja mulai didorong untuk memiliki nilai manfaat dan ekonomi. Pemerintah Kota Pekalongan melalui Pokja III dan Pokja IV menggelar sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) Gerakan Jelantah Jadi Rupiah sebagai upaya mengajak masyarakat mengumpulkan minyak jelantah agar dapat dimanfaatkan kembali sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Kegiatan tersebut diikuti PIC dari masing-masing kecamatan dan kelurahan se-Kota Pekalongan, dengan menghadirkan narasumber dari pihak pengelola pengumpulan dan pemanfaatan minyak jelantah. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya menindaklanjuti gerakan serupa di tingkat Provinsi Jawa Tengah agar dapat diterapkan dan digerakkan secara luas di masing-masing kabupaten/kota.
“Harapannya nanti kita akan ada launching, insyaallah tanggal 5 Oktober, bertepatan dengan pembukaan Festival Literasi. Kita akan menggerakkan seluruh OPD, PKK, dan masyarakat untuk bersama-sama melakukan sedekah jelantah,” ungkap Ketua TP PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya pada kegiatan tersebut, Rabu (16/9/2026) di aula Labkesda setempat.
Melalui gerakan tersebut, pengumpulan jelantah akan dilakukan secara terstruktur. Untuk OPD, jelantah dikumpulkan di masing-masing OPD, sedangkan di tingkat masyarakat pengumpulan dilakukan melalui kelurahan. Selanjutnya, hasil pengumpulan akan dihimpun di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan.
Gerakan ini tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan seremonial saat peluncuran. Jelantah yang dikumpulkan masyarakat nantinya dapat menjadi tabungan, sehingga semakin banyak minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan, semakin besar pula nilai yang diperoleh.
“Selama ini jelantah yang jumlahnya sedikit biasanya dibuang begitu saja. Padahal kalau dikumpulkan bisa menjadi tabungan yang lebih bermanfaat. Jelantah juga mencemari lingkungan apabila dibuang sembarangan,” tandas Inggit.
Dalam skema yang disiapkan, minyak jelantah dihargai sekitar Rp6.000 per liter untuk masyarakat. Sementara nilai Rp7.000 per liter menjadi acuan sebelum dikurangi Rp1.000 untuk mendukung kebutuhan operasional PIC, seperti penyediaan wadah, tempat penyimpanan, hingga pencatatan hasil pengumpulan.
Ia menambahkan jelantah yang terkumpul selanjutnya akan diolah kembali menjadi biodiesel. Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, juga disiapkan kerja sama melalui nota kesepahaman (MoU) dengan pihak terkait.
Pemkot Pekalongan juga mendorong keterlibatan aparatur dan masyarakat secara luas. Dengan jumlah PNS yang diperkirakan mencapai sekitar 5.000 orang, gerakan ini diharapkan dapat diawali dari lingkungan pemerintahan dengan target pengumpulan yang terukur.
“Harapannya ini menjadi gerakan bersama untuk seluruh masyarakat dan bisa berkelanjutan. Tidak hanya sedekah jelantah pada saat launching saja, tetapi menjadi kebiasaan, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga, untuk mengumpulkan jelantahnya supaya bisa bermanfaat kembali,” imbuhnya.
Melalui Gerakan Jelantah Jadi Rupiah, minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diharapkan dapat dikelola menjadi sumber manfaat ekonomi sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan di Kota Pekalongan.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)
PRINT +
DOWNLOAD PDF