Festival Literasi Jadi Ruang Bangkitkan Minat Baca Masyarakat

Festival Literasi Jadi Ruang Bangkitkan Minat Baca Masyarakat
Kota Pekalongan – Pemerintah Kota. (Pemkot) Pekalongan melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) setempat kembali menggelar Festival Literasi Kota Pekalongan Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat budaya membaca sekaligus meningkatkan kecakapan literasi masyarakat. Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari, 5-11 Oktober 2026, tersebut dipusatkan di Halaman Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan.
Wali Kota Pekalongan, H.A. Afzan Arslan Djunaid atau akrab disapa Aaf, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu momentum untuk bersama-sama meningkatkan kembali tingkat literasi masyarakat Kota Pekalongan yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami dinamika.
"Alhamdulillah Festival Literasi di Kota Pekalongan kita adakan lagi di tahun 2026. Mari bersama-sama kita tingkatkan literasi di Kota Pekalongan, mudah-mudahan tingkat literasi kita semakin naik dan meningkat," ujar Aaf usai membuka Festival Literasi Kota Pekalongan Tahun 2026 di Halaman Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan kegemaran membaca buku, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam memahami dan menyikapi berbagai informasi di era digital. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya membaca informasi berdasarkan judul, tetapi juga memahami narasi secara utuh agar tidak mudah salah dalam menerima maupun menyebarkan informasi.
Aaf menegaskan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan bagian penting dari pembangunan Kota Pekalongan. Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai program, mulai dari pengentasan buta huruf, sekolah lansia, fasilitasi anak putus sekolah, hingga perhatian terhadap anak berkebutuhan khusus melalui pendidikan nonformal.
"Intinya kita membangun SDM dan ingin menyetarakan hak semua warga, terutama anak berkebutuhan khusus. Memang belum sempurna, tetapi semuanya membutuhkan proses," jelasnya.
Aaf juga berharap ketersediaan sarana pendukung literasi semakin diperkuat, termasuk hadirnya toko buku berskala besar di Kota Pekalongan. Menurutnya, keberadaan toko buku dapat menjadi salah satu alternatif masyarakat untuk mendapatkan bahan bacaan sekaligus mendukung ekosistem literasi daerah.
Sementara itu, Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya, mengapresiasi pelaksanaan Festival Literasi yang tetap dapat terselenggara di tengah efisiensi anggaran. Menurutnya, pemilihan Perpustakaan Daerah sebagai lokasi kegiatan justru memberikan manfaat tambahan karena dapat mengenalkan perpustakaan secara lebih dekat kepada masyarakat.
"Festival literasi ini menjadi ruang untuk masyarakat bisa berproses, belajar, menghasilkan karya, mendapatkan berbagai inspirasi, dan nantinya bisa membuat sebuah karya yang luar biasa," tuturnya.
Inggit berharap evaluasi dan penguatan pendataan perpustakaan, khususnya di sekolah-sekolah, dapat terus dilakukan sehingga berbagai aktivitas literasi masyarakat dapat terdokumentasi dengan lebih baik dan turut mendukung peningkatan indeks literasi Kota Pekalongan.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan, Gufron Faza, menjelaskan Festival Literasi 2026 menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan, masyarakat, dan komunitas untuk bersama-sama mengembangkan budaya literasi.
Selama tujuh hari pelaksanaan, masyarakat dapat menikmati berbagai kegiatan, mulai dari pameran buku, lomba-lomba, stand kuliner dan UMKM, pelatihan, hingga kegiatan edukatif lainnya. Total terdapat 33 stan, dengan 13 stan di antaranya khusus pameran buku.
"Kami ingin mengenalkan perpustakaan kepada masyarakat yang selama ini mungkin belum mengetahui keberadaannya. Kami juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk menjadwalkan kunjungan anak-anak sekolah ke lokasi festival," ungkap Gufron.
Ia menambahkan, penguatan literasi ke depan perlu dilakukan secara bersama-sama dengan memberdayakan perpustakaan yang ada di kelurahan, masyarakat, sekolah, hingga masjid.
"Melalui Festival Literasi 2026, kami berharap minat baca dan kecakapan literasi masyarakat semakin tumbuh, sekaligus mendorong terwujudnya masyarakat yang gemar membaca, kritis dalam menerima informasi, kreatif, dan memiliki kualitas SDM yang semakin baik,"tegasnya.
Antusiasme masyarakat, khususnya pelajar, turut terlihat dalam pelaksanaan Festival Literasi. Salah satunya Fatih, siswa kelas IV SD Negeri Medono 07, yang datang bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Fatih mengaku senang dapat mengunjungi festival dan melihat berbagai stan pameran buku di Festival Literasi. Ia bahkan tertarik membeli buku yang tersedia dengan harga terjangkau.
"Sudah, mau beli buku-buku di pameran buku murah. Senang," tutupnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian/Saif)
Kota Pekalongan – Pemerintah Kota. (Pemkot) Pekalongan melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) setempat kembali menggelar Festival Literasi Kota Pekalongan Tahun 2026 sebagai upaya memperkuat budaya membaca sekaligus meningkatkan kecakapan literasi masyarakat. Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari, 5-11 Oktober 2026, tersebut dipusatkan di Halaman Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan.
Wali Kota Pekalongan, H.A. Afzan Arslan Djunaid atau akrab disapa Aaf, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu momentum untuk bersama-sama meningkatkan kembali tingkat literasi masyarakat Kota Pekalongan yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami dinamika.
"Alhamdulillah Festival Literasi di Kota Pekalongan kita adakan lagi di tahun 2026. Mari bersama-sama kita tingkatkan literasi di Kota Pekalongan, mudah-mudahan tingkat literasi kita semakin naik dan meningkat," ujar Aaf usai membuka Festival Literasi Kota Pekalongan Tahun 2026 di Halaman Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan kegemaran membaca buku, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam memahami dan menyikapi berbagai informasi di era digital. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya membaca informasi berdasarkan judul, tetapi juga memahami narasi secara utuh agar tidak mudah salah dalam menerima maupun menyebarkan informasi.
Aaf menegaskan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan bagian penting dari pembangunan Kota Pekalongan. Hal tersebut diwujudkan melalui berbagai program, mulai dari pengentasan buta huruf, sekolah lansia, fasilitasi anak putus sekolah, hingga perhatian terhadap anak berkebutuhan khusus melalui pendidikan nonformal.
"Intinya kita membangun SDM dan ingin menyetarakan hak semua warga, terutama anak berkebutuhan khusus. Memang belum sempurna, tetapi semuanya membutuhkan proses," jelasnya.
Aaf juga berharap ketersediaan sarana pendukung literasi semakin diperkuat, termasuk hadirnya toko buku berskala besar di Kota Pekalongan. Menurutnya, keberadaan toko buku dapat menjadi salah satu alternatif masyarakat untuk mendapatkan bahan bacaan sekaligus mendukung ekosistem literasi daerah.
Sementara itu, Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya, mengapresiasi pelaksanaan Festival Literasi yang tetap dapat terselenggara di tengah efisiensi anggaran. Menurutnya, pemilihan Perpustakaan Daerah sebagai lokasi kegiatan justru memberikan manfaat tambahan karena dapat mengenalkan perpustakaan secara lebih dekat kepada masyarakat.
"Festival literasi ini menjadi ruang untuk masyarakat bisa berproses, belajar, menghasilkan karya, mendapatkan berbagai inspirasi, dan nantinya bisa membuat sebuah karya yang luar biasa," tuturnya.
Inggit berharap evaluasi dan penguatan pendataan perpustakaan, khususnya di sekolah-sekolah, dapat terus dilakukan sehingga berbagai aktivitas literasi masyarakat dapat terdokumentasi dengan lebih baik dan turut mendukung peningkatan indeks literasi Kota Pekalongan.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan, Gufron Faza, menjelaskan Festival Literasi 2026 menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan, masyarakat, dan komunitas untuk bersama-sama mengembangkan budaya literasi.
Selama tujuh hari pelaksanaan, masyarakat dapat menikmati berbagai kegiatan, mulai dari pameran buku, lomba-lomba, stand kuliner dan UMKM, pelatihan, hingga kegiatan edukatif lainnya. Total terdapat 33 stan, dengan 13 stan di antaranya khusus pameran buku.
"Kami ingin mengenalkan perpustakaan kepada masyarakat yang selama ini mungkin belum mengetahui keberadaannya. Kami juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk menjadwalkan kunjungan anak-anak sekolah ke lokasi festival," ungkap Gufron.
Ia menambahkan, penguatan literasi ke depan perlu dilakukan secara bersama-sama dengan memberdayakan perpustakaan yang ada di kelurahan, masyarakat, sekolah, hingga masjid.
"Melalui Festival Literasi 2026, kami berharap minat baca dan kecakapan literasi masyarakat semakin tumbuh, sekaligus mendorong terwujudnya masyarakat yang gemar membaca, kritis dalam menerima informasi, kreatif, dan memiliki kualitas SDM yang semakin baik,"tegasnya.
Antusiasme masyarakat, khususnya pelajar, turut terlihat dalam pelaksanaan Festival Literasi. Salah satunya Fatih, siswa kelas IV SD Negeri Medono 07, yang datang bersama guru dan teman-teman sekolahnya. Fatih mengaku senang dapat mengunjungi festival dan melihat berbagai stan pameran buku di Festival Literasi. Ia bahkan tertarik membeli buku yang tersedia dengan harga terjangkau.
"Sudah, mau beli buku-buku di pameran buku murah. Senang," tutupnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian/Saif)
PRINT +
DOWNLOAD PDF