Festival Bubur Suro Perkuat UMKM dan Lestarikan Budaya Lokal

Festival Bubur Suro Perkuat UMKM dan Lestarikan Budaya Lokal
Kota Pekalongan – Festival Bubur Suro di Kelurahan Krapyak kembali menjadi bukti bahwa tradisi budaya dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh, festival yang berkolaborasi dengan Syariah Festival Ekonomi (Syafaat) 2026 tidak hanya menjadi ajang menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM, memperkuat literasi keuangan, serta melestarikan kearifan lokal.
Wakil Wali Kota (Wawalkot) Pekalongan, Hj. Balgis Diab, saat membuka Syafaat Festival Bubur Suro 2026 di Lapangan Leo Krapyak Lor, Jumat malam (10/7/2026), mengapresiasi kolaborasi antara Pemerintah Kota Pekalongan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan, dan panitia festival yang berhasil menghadirkan kegiatan lebih meriah dan bermanfaat bagi masyarakat. Pelaksanaan Festival Bubur Suro berlangsung mulai Jumat-Minggu, 10-12 Juli 2026.
"Festival ini sudah memasuki tahun ketujuh. Tahun ini lebih meriah karena berkolaborasi dengan BI Tegal serta Masyarakat Ekonomi Syariah Kota Pekalongan. Tidak hanya menampilkan Bubur Suro, tetapi juga bagaimana masyarakat menjadi lebih melek digital dan memahami literasi keuangan," ujar Wawalkot Balgis.
Ia menilai Festival Bubur Suro memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi agenda budaya unggulan yang mampu memperkuat identitas Kelurahan Krapyak. Menurutnya, selain dikenal dengan tradisi Lopis Raksasa dan tenun, Festival Bubur Suro dapat menjadi daya tarik baru yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkaya khazanah budaya Kota Pekalongan.
"Sebagai salah satu daya tarik utama, festival menghadirkan bazar yang diikuti 76 stan UMKM, terdiri atas 50 UMKM binaan Bank Indonesia Tegal dan 26 UMKM dari Kelurahan Krapyak serta sekitarnya. Kehadiran puluhan pelaku usaha tersebut membuka peluang promosi produk lokal sekaligus meningkatkan transaksi ekonomi selama kegiatan berlangsung,"terangnya.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Seno Indarto, menyampaikan bahwa sinergi antara festival budaya dan penguatan ekonomi syariah diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
"Kegiatan ini untuk meningkatkan ekosistem ekonomi syariah, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembelanjaan UMKM, sekaligus melestarikan kebudayaan, khususnya di Kota Pekalongan," katanya.
Sementara itu, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan, Andi Arslan Djunaid, menilai Festival Bubur Suro merupakan aset budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda berskala lebih luas. Menurutnya, kegiatan budaya yang mampu menarik banyak pengunjung akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM.
"Ketika sebuah event didatangi banyak orang, ekonomi kreatif dan UMKM pasti hidup. Ini menjadi pekerjaan bersama bagaimana event besar di Krapyak bisa dikemas, dipublikasikan, dan di-branding secara nasional," tuturnya.
Ketua Panitia Syafaat Festival Bubur Suro 2026, Muhammad Iskandar, menambahkan bahwa penyelenggaraan festival bertujuan mengangkat potensi kuliner Bubur Suro sebagai warisan budaya sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan UMKM. Tahun ini panitia menyiapkan sekitar 5000 porsi Bubur Suro yang akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat pada puncak acara, Minggu, 12 Juli 2026.
Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak tidak hanya memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal, tetapi juga membekali mereka dengan edukasi literasi keuangan agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
"Harapannya, para pelaku UMKM dan warga tidak hanya hebat berdagang dan memasarkan dagangan, tetapi juga cerdas mengelola keuangan dan usaha," ungkap Iskandar.
Selain bazar UMKM, rangkaian Festival Bubur Suro 2026 juga diisi berbagai kegiatan sosial, budaya, dan edukatif, seperti lomba kuliner, launching Scan QRIS Wakaf dan penyerahan buku Rasa Krapyak, lomba hadroh, lomba mewarnai bertemakan 'Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah', donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, senam jantung sehat, hingga panggung hiburan rakyat dengan menghadirkan bintang tamu grup musik Seroja dan Panji Sakti.
"Melalui kolaborasi tersebut, Festival Bubur Suro diharapkan terus berkembang menjadi agenda unggulan yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dan memperkuat daya saing Kota Pekalongan,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
Kota Pekalongan – Festival Bubur Suro di Kelurahan Krapyak kembali menjadi bukti bahwa tradisi budaya dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh, festival yang berkolaborasi dengan Syariah Festival Ekonomi (Syafaat) 2026 tidak hanya menjadi ajang menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, tetapi juga mendorong pertumbuhan UMKM, memperkuat literasi keuangan, serta melestarikan kearifan lokal.
Wakil Wali Kota (Wawalkot) Pekalongan, Hj. Balgis Diab, saat membuka Syafaat Festival Bubur Suro 2026 di Lapangan Leo Krapyak Lor, Jumat malam (10/7/2026), mengapresiasi kolaborasi antara Pemerintah Kota Pekalongan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan, dan panitia festival yang berhasil menghadirkan kegiatan lebih meriah dan bermanfaat bagi masyarakat. Pelaksanaan Festival Bubur Suro berlangsung mulai Jumat-Minggu, 10-12 Juli 2026.
"Festival ini sudah memasuki tahun ketujuh. Tahun ini lebih meriah karena berkolaborasi dengan BI Tegal serta Masyarakat Ekonomi Syariah Kota Pekalongan. Tidak hanya menampilkan Bubur Suro, tetapi juga bagaimana masyarakat menjadi lebih melek digital dan memahami literasi keuangan," ujar Wawalkot Balgis.
Ia menilai Festival Bubur Suro memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi agenda budaya unggulan yang mampu memperkuat identitas Kelurahan Krapyak. Menurutnya, selain dikenal dengan tradisi Lopis Raksasa dan tenun, Festival Bubur Suro dapat menjadi daya tarik baru yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkaya khazanah budaya Kota Pekalongan.
"Sebagai salah satu daya tarik utama, festival menghadirkan bazar yang diikuti 76 stan UMKM, terdiri atas 50 UMKM binaan Bank Indonesia Tegal dan 26 UMKM dari Kelurahan Krapyak serta sekitarnya. Kehadiran puluhan pelaku usaha tersebut membuka peluang promosi produk lokal sekaligus meningkatkan transaksi ekonomi selama kegiatan berlangsung,"terangnya.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Seno Indarto, menyampaikan bahwa sinergi antara festival budaya dan penguatan ekonomi syariah diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
"Kegiatan ini untuk meningkatkan ekosistem ekonomi syariah, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembelanjaan UMKM, sekaligus melestarikan kebudayaan, khususnya di Kota Pekalongan," katanya.
Sementara itu, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Pekalongan, Andi Arslan Djunaid, menilai Festival Bubur Suro merupakan aset budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda berskala lebih luas. Menurutnya, kegiatan budaya yang mampu menarik banyak pengunjung akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM.
"Ketika sebuah event didatangi banyak orang, ekonomi kreatif dan UMKM pasti hidup. Ini menjadi pekerjaan bersama bagaimana event besar di Krapyak bisa dikemas, dipublikasikan, dan di-branding secara nasional," tuturnya.
Ketua Panitia Syafaat Festival Bubur Suro 2026, Muhammad Iskandar, menambahkan bahwa penyelenggaraan festival bertujuan mengangkat potensi kuliner Bubur Suro sebagai warisan budaya sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan UMKM. Tahun ini panitia menyiapkan sekitar 5000 porsi Bubur Suro yang akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat pada puncak acara, Minggu, 12 Juli 2026.
Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak tidak hanya memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal, tetapi juga membekali mereka dengan edukasi literasi keuangan agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
"Harapannya, para pelaku UMKM dan warga tidak hanya hebat berdagang dan memasarkan dagangan, tetapi juga cerdas mengelola keuangan dan usaha," ungkap Iskandar.
Selain bazar UMKM, rangkaian Festival Bubur Suro 2026 juga diisi berbagai kegiatan sosial, budaya, dan edukatif, seperti lomba kuliner, launching Scan QRIS Wakaf dan penyerahan buku Rasa Krapyak, lomba hadroh, lomba mewarnai bertemakan 'Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah', donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, senam jantung sehat, hingga panggung hiburan rakyat dengan menghadirkan bintang tamu grup musik Seroja dan Panji Sakti.
"Melalui kolaborasi tersebut, Festival Bubur Suro diharapkan terus berkembang menjadi agenda unggulan yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dan memperkuat daya saing Kota Pekalongan,"tukasnya.
(Tim Liputan Kominfo/Dian)
PRINT +
DOWNLOAD PDF