Fenty Handmade, Merawat Kreativitas Lewat Ragam Aksesori dan Kerajinan Unik

Fenty Handmade, Merawat Kreativitas Lewat Ragam Aksesori dan Kerajinan Unik

Kota Pekalongan – Kreativitas menjadi kunci Fenty Handmade dalam mengembangkan usaha kerajinan tangan di Kota Pekalongan. Berawal dari produksi aksesori sederhana seperti gelang, kalung, dan cincin, usaha yang dirintis Fenty Haryani (48) bersama suaminya, Bagus Rizkiono (46), kini berkembang mengikuti tren dan permintaan pasar.

Berada di Jalan Sumatera, Kelurahan Sapuro Kebulen, Fenty Handmade kini tidak hanya memproduksi aksesori, tetapi juga merambah berbagai produk kreatif, mulai dari headpiece untuk kebutuhan karnaval dan fashion show hingga gantungan kunci berbahan resin dengan beragam kreasi.

Salah satu produk yang kini rutin diproduksi adalah gantungan kunci resin. Fenty memilih produk tersebut karena dinilai memiliki pasar yang lebih luas dan perputaran penjualan yang relatif cepat.

“Kalau resin saya pilih gantungan kunci karena bisa cepat laku dan jumlahnya banyak. Kalau membuat meja atau hiasan dinding, harganya memang bisa lebih tinggi, tetapi tidak semua orang membutuhkan sehingga perputarannya lebih lambat,” ujar Fenty.

Untuk memenuhi permintaan, Fenty memproduksi gantungan kunci resin setiap hari dengan kapasitas sekitar 150 buah per hari. Produk tersebut dijual dengan harga sekitar Rp20 ribu untuk eceran, sedangkan untuk masuk ke toko atau penjualan dalam jumlah tertentu harganya sekitar Rp15 ribu per buah.

Keunikan produk Fenty Handmade terletak pada proses pembuatannya yang mengandalkan kreativitas dan sentuhan manual. Resin dikombinasikan dengan berbagai elemen dekoratif, seperti bunga kering maupun ornamen lainnya, sehingga menghasilkan desain yang beragam.

Selain dipasarkan secara langsung, produk gantungan kunci tersebut juga telah masuk ke sejumlah toko. Fenty menyebut permintaan dari luar Kota Pekalongan turut menjadi bagian dari pasar produknya, termasuk pengiriman ke beberapa daerah di Jawa Tengah.

“Kalau untuk gantungan kunci memang saya stok karena sudah ada yang rutin mengambil,” jelasnya.

Tak hanya mengandalkan produk stok, Fenty Handmade juga menerima pesanan khusus atau by order. Salah satunya untuk kebutuhan fashion show dan karnaval. Konsumen biasanya menyampaikan tema kegiatan dan anggaran yang tersedia, kemudian desain dan bentuk aksesori dikembangkan sesuai kebutuhan.

Untuk produk pesanan khusus seperti headpiece, harga dibanderol mulai sekitar Rp200 ribu untuk desain sederhana. Jika bahan yang dibutuhkan tersedia, pembuatan satu produk sederhana dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu hari. Namun, waktu pengerjaan dapat bertambah apabila membutuhkan bahan atau ornamen khusus.

Fenty mengungkapkan, perkembangan tren turut mendorong dirinya untuk terus berinovasi. Jika sebelumnya headpiece banyak menggunakan model sederhana seperti topi, bulu, pita, atau tile, kini permintaan lebih banyak mengarah pada desain tiga dimensi dengan bentuk yang lebih menonjol dan atraktif.

“Sekarang permintaannya lebih unik. Mereka ingin bentuk yang tiga dimensi dan lebih terlihat bentuknya,” ungkapnya.

Dalam menjalankan usaha, Fenty tidak bekerja seorang diri. Sang suami turut membantu proses produksi, terutama pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan pengerjaan resin. Pembagian peran tersebut dilakukan agar Fenty dapat lebih fokus menangani pemasaran dan permintaan konsumen.

Momentum permintaan produk kerajinan biasanya mulai meningkat sekitar September. Periode tersebut bertepatan dengan meningkatnya berbagai kegiatan dan agenda yang membutuhkan aksesori maupun produk kerajinan kreatif.

Untuk pasar luar negeri, Fenty Handmade juga saat ini tengah menerima permintaan dari Jepang berupa kerajinan makram. Sementara untuk pasar domestik, produknya dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia sesuai permintaan pelanggan.

Meski terus berkembang, Fenty mengakui pelaku usaha kerajinan tangan masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal pemasaran dan sumber daya manusia. Pengelolaan penjualan secara daring, misalnya, sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia yang membantu mengelolanya.

Ia pernah merasakan peningkatan penjualan melalui platform daring ketika mendapat bantuan siswa SMK yang menjalani praktik kerja. Kehadiran mereka membantu mengelola penjualan dan melakukan siaran langsung sehingga produk lebih mudah dikenal calon pembeli.

“Kemarin waktu ada anak magang SMK yang membantu live, penjualan online memang bagus. Jadi memang sangat bergantung pada SDM,” tandasnya.

Selain pemasaran, tantangan lain yang dihadapi perajin adalah ekspektasi konsumen terhadap harga dan waktu pengerjaan. Produk handmade membutuhkan proses dan ketelitian, sehingga tidak selalu dapat disamakan dengan produk pabrikan yang diproduksi secara massal.

“Kadang orang maunya cepat dan murah, bahkan menyamakan dengan produk pabrik. Padahal proses kerajinan handmade berbeda,” tandasnya.

Ia berharap masyarakat semakin memahami nilai sebuah produk kerajinan tangan, tidak hanya dari sisi harga, tetapi juga kreativitas, proses pengerjaan, dan keunikan produk yang dihasilkan.

Dengan terus mengikuti perkembangan tren dan kebutuhan pasar, Fenty Handmade berupaya mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu pelaku usaha kreatif di Kota Pekalongan. Informasi produk dapat diperoleh melalui Instagram @fenty_handmade atau WhatsApp 0815-6924-436.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)