Dua Tahun Berturut-turut, Sapi Milik Peternak Kota Pekalongan Jadi Pilihan Bantuan Presiden

Dua Tahun Berturut-turut, Sapi Milik Peternak Kota Pekalongan Jadi Pilihan Bantuan Presiden

Kota Pekalongan – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan peternak asal Kota Pekalongan. Untuk dua tahun berturut-turut, sapi milik peternak lokal terpilih menjadi hewan kurban bantuan kemasyarakatan (Banmas) Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto pada momentum Hari Raya Idul Adha. Tahun 2026 ini, sapi jenis Simmental yang diberi nama Pampam milik M. Ridwan, warga Kelurahan Kuripan Lor, Kota Pekalongan, resmi dipilih sebagai sapi Banmas Presiden setelah memenuhi berbagai kriteria yang ditetapkan Pemerintah Pusat.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Lili Sulistyowati, saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (13/5/2026), menjelaskan bahwa program bantuan sapi kurban Presiden kembali dilaksanakan pada tahun ini. Melalui Sekretariat Presiden, setiap kabupaten/kota diminta mengusulkan sapi terbaik dari daerah masing-masing untuk dijadikan hewan kurban bantuan Presiden.

“Alhamdulillah kemarin ada surat dari Pemerintah Provinsi yang berasal dari Pemerintah Pusat terkait bantuan sapi Banmas Presiden tahun 2026. Kota Pekalongan kembali diminta mengusulkan sapi terbaik yang berasal dari peternak lokal,” terang Lili.

Menurutnya, Dinperpa Kota Pekalongan kemudian melakukan identifikasi terhadap sejumlah peternak sapi di wilayah setempat. Dari hasil pendataan tersebut, ditemukan sapi milik M. Ridwan yang memiliki bobot sangat ideal sesuai persyaratan dari Pemerintah Pusat.

“Di Kota Pekalongan ternyata masih ada peternak yang memelihara sapi dengan bobot lebih dari satu ton. Setelah kami identifikasi, sapi milik Mas Ridwan beratnya mencapai 1.030 kilogram atau satu ton lebih 30 kilogram,” ujarnya.

Sapi jenis Simmental tersebut kemudian diusulkan kepada Sekretariat Presiden melalui Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Setelah melalui proses verifikasi administrasi, pengecekan kesehatan, hingga negosiasi harga secara daring melalui Zoom Meeting, akhirnya sapi tersebut resmi dinyatakan lolos sebagai sapi Banmas Presiden Tahun 2026.

“Alhamdulillah sudah deal, termasuk negosiasi harganya, dan hari ini proses pencairan pembayarannya,” imbuhnya.

Lili menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan dilakukan langsung oleh Sekretariat Presiden. Sementara Dinperpa Kota Pekalongan hanya bertugas melakukan identifikasi, pendampingan, dan pengusulan sapi yang memenuhi kriteria.

“Semua pengadaan dilakukan Sekretariat Presiden. Kami dari Dinperpa hanya mengusulkan sapi yang sesuai kriteria dan Alhamdulillah Kota Pekalongan punya,” jelasnya.

Tak hanya memenuhi syarat bobot, sapi tersebut juga telah dipastikan sehat melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan hewan. Dinperpa telah melengkapi seluruh dokumen kesehatan, termasuk Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), yang menjadi syarat wajib dalam proses pengadaan hewan kurban Presiden.

“Secara kesehatan sudah dicek dan dilengkapi SKKH. Semua dokumen sudah kami kirim ke pusat dan sudah di-ACC. Jadi sapi ini benar-benar dinyatakan sehat,” tambahnya.

Terkait penyaluran, Lili menyebut sapi Banmas Presiden rencananya akan diserahkan untuk masyarakat melalui Masjid Jami’ Kota Pekalongan. Penyerahan dilakukan mendekati Hari Raya Idul Adha guna menjaga kondisi sapi agar tidak mengalami stres.

“Insyaallah penyalurannya di Masjid Jami’. Kalau tahun lalu di Masjid Al-Ikhlas. Penyerahannya biasanya satu hari sebelum penyembelihan supaya sapinya tidak stres karena perpindahan tempat dan perubahan perawatan,” tuturnya.

Ia juga bersyukur karena sapi berasal dari wilayah Kota Pekalongan sendiri sehingga proses transportasi lebih dekat dan aman bagi kondisi hewan.

Pihaknya menilai, keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kota Pekalongan karena mampu mempertahankan kualitas peternakan lokal hingga dipercaya menjadi bagian dari program nasional Presiden Republik Indonesia selama dua tahun berturut-turut. 

"Kami berharap capaian tersebut dapat memotivasi peternak lain untuk terus meningkatkan kualitas ternak, baik dari sisi kesehatan, perawatan, maupun produktivitasnya,"harapnya.

Sementara itu, pemilik sapi kurban, M. Ridwan, mengaku bersyukur sekaligus bangga karena untuk kedua kalinya sapi miliknya dipercaya menjadi sapi bantuan Presiden. Tahun sebelumnya, sapi miliknya juga terpilih sebagai sapi Banmas dengan bobot 970 kilogram dan nilai jual mencapai Rp85 juta.

“Tahun ini sapi saya terpilih lagi. Bobotnya sekarang 1 ton 30 kilogram,” katanya.

Ridwan menjelaskan, sapi jenis Simmental tersebut telah dipeliharanya selama kurang lebih dua tahun. Awalnya, sapi dibeli dengan bobot sekitar 500 kilogram dengan harga Rp30 jutaan, lalu dirawat secara intensif hingga mencapai bobot lebih dari satu ton.

“Perawatannya ya biasa, pakannya ampas dan pakan lainnya. Tapi memang dirawat rutin selama dua tahunan,” ujarnya.

Untuk harga, sapi tersebut disepakati dengan nilai sekitar Rp110 juta setelah melalui proses negosiasi bersama pihak Sekretariat Presiden.

Ridwan menambahkan, faktor utama yang membuat sapinya terpilih adalah bobot yang memenuhi syarat dan kondisi kesehatan yang prima.

“Kalau kesehatan sudah dicek dinas. Mungkin karena memenuhi syarat bobot dan sehat juga, jadi dipilih,” pungkasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)