Dua Inovasi Literasi Bawa Pekalongan Selatan Raih Bunda Literasi Terbaik

Dua Inovasi Literasi Bawa Pekalongan Selatan Raih Bunda Literasi Terbaik

Kota Pekalongan - Upaya menggerakkan budaya literasi hingga ke tengah masyarakat mengantarkan Bunda Literasi Kecamatan Pekalongan Selatan, Silvi Yunita, meraih apresiasi sebagai Bunda Literasi Kecamatan Terbaik Tingkat Kota Pekalongan. Capaian tersebut diperkuat berbagai inovasi dan kolaborasi dalam mendorong masyarakat semakin gemar membaca serta bijak menyikapi informasi.

Silvi menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang diterimanya. Menurutnya, capaian tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan gerakan literasi, khususnya di wilayah Kecamatan Pekalongan Selatan.

Dalam menjalankan perannya, Silvi mengembangkan dua inovasi utama, yakni “Ngantor Jaksa” melalui kegiatan kunjungan, monitoring dan sosialisasi literasi, serta “Cabe Membara” yang merupakan akronim dari Membaca, Bercerita, dan Bermain bersama Anak.

“Kami mengajak masyarakat dan menyosialisasikan literasi. Untuk inovasinya, kami melakukan kunjungan, monitoring dan mengajak masyarakat membaca, kemudian ada Membara, yaitu membaca, bercerita, bermain, serta membaca bersama anak,” ujarnya saat menerima penghargaan di aula Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan, Rabu (2/9/2026).

Program tersebut menyasar perpustakaan dan taman baca yang berada di wilayah Kecamatan Pekalongan Selatan. Saat ini terdapat sekitar 25 perpustakaan dan taman baca yang menjadi sasaran penguatan gerakan literasi.

Selain itu, sosialisasi juga dilakukan kepada masyarakat secara umum, kelompok PKK, serta melalui kegiatan parenting di satuan PAUD. Pendekatan tersebut dilakukan untuk memperluas pemahaman bahwa budaya literasi dapat dibangun dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan anak-anak.

Silvi berharap gerakan tersebut mampu meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan perpustakaan dan taman baca sebagai ruang belajar dan berkegiatan.

Tidak hanya literasi membaca, ia juga menekankan pentingnya kemampuan masyarakat dalam menghadapi derasnya arus informasi. Masyarakat didorong untuk lebih kritis dalam menyaring, menerima, memahami, dan menyimpulkan informasi sebelum menyebarkannya.

“Harapan saya, masyarakat semakin gemar membaca, mau mengunjungi perpustakaan atau taman baca, dan bijak dalam menyaring, menerima, serta menyimpulkan berita atau informasi sebelum disampaikan kepada masyarakat,” tuturnya.

Sementara itu, Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya menjelaskan, apresiasi tersebut merupakan hasil rangkaian penilaian yang berlangsung selama dua hari. Tahapan penilaian meliputi verifikasi lapangan dan visitasi pada 27 Agustus 2026, dilanjutkan presentasi dan penilaian secara langsung.

Penilaian dilakukan oleh tim juri yang terdiri atas unsur pustakawan, Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), dan Ketua Pokja II PKK. Aspek yang dinilai tidak hanya program yang dijalankan, tetapi juga bagaimana Bunda Literasi mampu bersinergi dan mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama mengembangkan budaya literasi.

“Ini bukan bentuk untuk bersaing, tetapi justru untuk memotivasi para Bunda Literasi agar lebih semangat dan memahami tugasnya. Yang paling penting adalah kolaborasi, bagaimana Bunda Literasi bisa bersinergi dan mengajak siapa saja,” ungkapnya.

Ia menegaskan, terpilihnya Pekalongan Selatan sebagai yang terbaik tidak berarti kecamatan lain tidak memiliki program yang baik. Apresiasi diberikan sebagai bentuk penghargaan sekaligus motivasi agar seluruh Bunda Literasi Kecamatan terus bergerak dan mengembangkan inovasi literasi di wilayah masing-masing.

Dengan penguatan program, kolaborasi lintas unsur, serta keterlibatan masyarakat hingga tingkat keluarga, gerakan literasi diharapkan semakin tumbuh dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan budaya baca masyarakat Kota Pekalongan.

(Tim Liputan Dinkominfo/Dea)