Dishub Kota Pekalongan Minta Warga Tak Bermain di Perlintasan Kereta Api

Kota Pekalongan – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pekalongan mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di sekitar rel maupun perlintasan kereta api. Imbauan tersebut disampaikan menyusul insiden tewasnya 3 remaja putri usai tertemper kereta api saat bermain dan asyik berswafoto di jalur kereta api yang terjadi di jalur kereta perbatasan Stasiun Batang- Pekalongan pada Sabtu (21/2/2026) lalu. Akibat kejadian tersebut, satu korban bahkan terseret cukup jauh hingga wilayah Dekoro, Kota Pekalongan.
 
Kepala Dishub Kota Pekalongan, M. Restu Hidayat menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa tersebut dan berharap kejadian serupa tidak terjadi kembali. Ia menegaskan bahwa, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama, terlebih dengan tingginya intensitas perjalanan kereta api yang melintas di jalur Pantura.
 
“Saya selalu menyampaikan kepada masyarakat, tolong jangan bermain-main di sekitar perlintasan kereta api, apalagi di perlintasan tanpa penjaga,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
 
Menurutnya, kepadatan perjalanan kereta api di wilayah Pekalongan saat ini sangat tinggi, bahkan pada hari-hari biasa. Berdasarkan informasi yang diterimanya, setiap hari terdapat sekitar 96 perjalanan kereta api yang melintas di wilayah Pekalongan. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat saat masa angkutan Lebaran, yang bisa mencapai lebih dari 100 perjalanan per hari.
 
Dengan kondisi jalur yang telah menggunakan sistem double track, frekuensi dan kecepatan kereta api pun semakin tinggi. Dalam rentang waktu sekitar 15 menit, kereta dapat melintas secara bergantian dari dua arah yang berbeda.
 
“Kalau sudah double track, lalu lintas makin padat dan kecepatan kereta juga semakin tinggi. Terlebih kereta barang yang biasanya tidak berhenti di stasiun, lajunya terus kencang. Ini tentu sangat berbahaya,” tegasnya.
 
Restu juga mengingatkan anak-anak muda agar tidak menjadikan area rel sebagai lokasi ngabuburit, aktivitas jogging setelah sahur, maupun tempat pembuatan konten media sosial.
 
Menurutnya, aktivitas tersebut sangat berisiko karena masyarakat kerap tidak menyadari adanya kereta yang melintas dari arah berlawanan, terutama di jalur ganda.
 
Selain potensi tertemper kereta, berada di sekitar rel juga membahayakan karena jarak aman yang sering kali diabaikan. Getaran dan hembusan angin dari kereta yang melaju kencang dapat mengganggu keseimbangan, terutama bagi anak-anak dan remaja.
 
Dishub juga meminta para orang tua untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya agar tidak bermain di sekitar rel kereta api. Edukasi sejak dini mengenai bahaya perlintasan kereta api dinilai sangat penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
 
Tak hanya pejalan kaki, Restu juga mengingatkan para pengguna jalan agar selalu mematuhi sinyal dan palang pintu perlintasan. Ia menekankan bahwa, apabila palang pintu belum terangkat atau sinyal belum terbuka, pengendara tidak boleh memaksakan diri melintas.
 
“Bisa saja kereta lewat dari barat, lalu dari timur menyusul dalam selisih satu atau dua menit. Lebih baik menunggu sebentar daripada menyesal seumur hidup,” tegasnya.
 
Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk meningkatkan pengawasan dan sosialisasi keselamatan di perlintasan kereta api, terutama menjelang masa angkutan Lebaran yang identik dengan peningkatan mobilitas masyarakat.
 
"Kami berharap, melalui imbauan ini, masyarakat semakin disiplin mematuhi rambu, sinyal, dan aturan di perlintasan kereta api. Keselamatan merupakan tanggung jawab bersama, dan kewaspadaan sekecil apa pun dapat menyelamatkan nyawa," tukasnya.
 
 
(Tim Liputan Kominfo/Dian)