Demplot Digital Farming Hadir, Petani Pesisir Siap Tingkatkan Panen

Demplot Digital Farming Hadir, Petani Pesisir Siap Tingkatkan Panen
Kota Pekalongan — Upaya mengatasi tingginya kadar garam di lahan pesisir kini memasuki fase baru di Pekalongan Utara. Petani mulai diperkenalkan dengan teknologi digital farming dan sistem bioremediasi sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas padi di lahan bekas rob.
Program ini menjadi langkah strategis dalam menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi petani di wilayah terdampak intrusi air laut, yakni tingginya kadar salinitas tanah yang berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian.
Asisten Manajer Unit Pengembangan UMKM Bank Indonesia Tegal, Muhammad Abror Widigdo, saat ditemui pada kegiatan capacity building pengembangan padi salin berbasis teknologi, kemarin, menjelaskan bahwa pihaknya turut memfasilitasi pembuatan lahan percontohan atau demplot seluas tiga hektar berbasis aplikasi digital. Teknologi tersebut memungkinkan petani memantau kondisi tanaman secara lebih akurat dan real-time.
“Bank Indonesia memfasilitasi pembuatan demplot seluas tiga hektar berbasis aplikasi digital untuk memantau kondisi tanaman secara akurat,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, selain difungsikan untuk produksi konsumsi, sebagian lahan tersebut juga diproyeksikan menjadi pusat perbenihan padi biosalin unggul. Hal ini bertujuan untuk menjamin ketersediaan bibit yang tahan terhadap intrusi air laut bagi para petani setempat.
“Sebagian lahan juga diproyeksikan menjadi pusat perbenihan padi biosalin unggul guna menjamin ketersediaan bibit tahan intrusi air laut,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa penerapan teknologi presisi dalam sektor pertanian diharapkan mampu menekan risiko gagal panen akibat faktor alam yang selama ini sulit dihindari.
“Melalui penerapan teknologi yang presisi, risiko gagal panen akibat faktor alam diharapkan dapat diminimalisir secara signifikan,” terangnya.
Transformasi menuju pertanian digital ini tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil panen, tetapi juga menjadi bukti bahwa lahan bekas rob tetap memiliki potensi besar apabila dikelola dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF