Dari Limbah Jadi Rupiah, Pemkot Pekalongan Bidik 2.500 Liter Jelantah

Dari Limbah Jadi Rupiah, Pemkot Pekalongan Bidik 2.500 Liter Jelantah
Kota Pekalongan – Minyak jelantah yang selama ini sering dianggap sebagai limbah rumah tangga mulai didorong untuk memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan. Melalui sosialisasi pengelolaan sampah dan pengumpulan minyak jelantah, Pemerintah Kota Pekalongan mengajak aparatur sipil negara (ASN) dan organisasi perangkat daerah (OPD) turut berpartisipasi dalam gerakan mengubah jelantah menjadi rupiah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan, Joko Purnomo menjelaskan, pengumpulan minyak jelantah merupakan bagian dari komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) pengelolaan lingkungan yang dilakukan DLH bersama Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan.
“Jelantah yang biasanya karena sedikit kemudian dibuang, kita kumpulkan menjadi rupiah sehingga tidak merusak lingkungan. Itu yang kita inginkan,” jelasnya pada kegiatan sosialisasi jelantah jadi rupiah (OPD), di aula DLH Kota Pekalongan, Jum'at (18/9/2026).
Ia mengungkapkan bahwa minyak jelantah yang terkumpul selanjutnya masih dapat dimanfaatkan dan diolah kembali, antara lain sebagai bahan baku avtur maupun biodiesel. Pemanfaatan tersebut diharapkan turut mendukung ketahanan energi melalui pengelolaan limbah yang lebih bernilai guna.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya menyampaikan bahwa gerakan tersebut akan dikembangkan secara lebih luas melalui Gerakan Bersama Mengubah Jelantah Jadi Rupiah (Gemar Jariah) yang rencananya diluncurkan pada 5 Oktober mendatang.
“Ini tidak hanya menggerakkan kader-kader PKK dan kader posyandu, tetapi kita menggandeng semuanya, termasuk OPD, ASN, dan Dharma Wanita Persatuan. Kami berharap ada kepedulian dan partisipasi bersama,” ujarnya.
Inggit menambahkan, konsep gerakan tersebut tidak sekadar mengumpulkan minyak jelantah, tetapi menjadikannya sebagai bentuk tabungan. Jelantah yang dikumpulkan nantinya dapat diuangkan kembali sehingga masyarakat maupun ASN memperoleh manfaat ekonomi dari limbah yang sebelumnya tidak bernilai.
Dalam tahap awal, gerakan ini menargetkan sedikitnya 2.500 liter minyak jelantah dapat terkumpul. Target tersebut antara lain didorong melalui imbauan kepada ASN untuk mengumpulkan minimal satu liter minyak jelantah.
“Kalau satu ASN satu liter saja dan semuanya bisa memenuhi, sudah bisa terkumpul lebih dari 5.000 liter. Tetapi kita menetapkan target minimal 2.500 liter,” tambahnya.
Target tersebut juga mempertimbangkan capaian daerah lain yang telah lebih dahulu menjalankan gerakan serupa, seperti Kabupaten Batang, Kota Semarang, dan Kota Salatiga, dengan capaian pengumpulan sekitar 2.200 hingga 2.500 liter.
Lebih dari sekadar mengejar volume pengumpulan, gerakan tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi dan literasi lingkungan bagi masyarakat. Peluncuran Gemar Jariah nantinya juga akan dirangkaikan dengan pembukaan festival literasi, sehingga pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dapat disampaikan secara lebih luas.
“Harapannya, kita tidak hanya mengejar jumlahnya saja, tetapi juga mengedukasi dan meliterasi masyarakat tentang bagaimana kita bisa menjaga lingkungan,” tutup Inggit.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)
Kota Pekalongan – Minyak jelantah yang selama ini sering dianggap sebagai limbah rumah tangga mulai didorong untuk memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan. Melalui sosialisasi pengelolaan sampah dan pengumpulan minyak jelantah, Pemerintah Kota Pekalongan mengajak aparatur sipil negara (ASN) dan organisasi perangkat daerah (OPD) turut berpartisipasi dalam gerakan mengubah jelantah menjadi rupiah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan, Joko Purnomo menjelaskan, pengumpulan minyak jelantah merupakan bagian dari komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) pengelolaan lingkungan yang dilakukan DLH bersama Tim Penggerak PKK Kota Pekalongan.
“Jelantah yang biasanya karena sedikit kemudian dibuang, kita kumpulkan menjadi rupiah sehingga tidak merusak lingkungan. Itu yang kita inginkan,” jelasnya pada kegiatan sosialisasi jelantah jadi rupiah (OPD), di aula DLH Kota Pekalongan, Jum'at (18/9/2026).
Ia mengungkapkan bahwa minyak jelantah yang terkumpul selanjutnya masih dapat dimanfaatkan dan diolah kembali, antara lain sebagai bahan baku avtur maupun biodiesel. Pemanfaatan tersebut diharapkan turut mendukung ketahanan energi melalui pengelolaan limbah yang lebih bernilai guna.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Pekalongan, Inggit Soraya menyampaikan bahwa gerakan tersebut akan dikembangkan secara lebih luas melalui Gerakan Bersama Mengubah Jelantah Jadi Rupiah (Gemar Jariah) yang rencananya diluncurkan pada 5 Oktober mendatang.
“Ini tidak hanya menggerakkan kader-kader PKK dan kader posyandu, tetapi kita menggandeng semuanya, termasuk OPD, ASN, dan Dharma Wanita Persatuan. Kami berharap ada kepedulian dan partisipasi bersama,” ujarnya.
Inggit menambahkan, konsep gerakan tersebut tidak sekadar mengumpulkan minyak jelantah, tetapi menjadikannya sebagai bentuk tabungan. Jelantah yang dikumpulkan nantinya dapat diuangkan kembali sehingga masyarakat maupun ASN memperoleh manfaat ekonomi dari limbah yang sebelumnya tidak bernilai.
Dalam tahap awal, gerakan ini menargetkan sedikitnya 2.500 liter minyak jelantah dapat terkumpul. Target tersebut antara lain didorong melalui imbauan kepada ASN untuk mengumpulkan minimal satu liter minyak jelantah.
“Kalau satu ASN satu liter saja dan semuanya bisa memenuhi, sudah bisa terkumpul lebih dari 5.000 liter. Tetapi kita menetapkan target minimal 2.500 liter,” tambahnya.
Target tersebut juga mempertimbangkan capaian daerah lain yang telah lebih dahulu menjalankan gerakan serupa, seperti Kabupaten Batang, Kota Semarang, dan Kota Salatiga, dengan capaian pengumpulan sekitar 2.200 hingga 2.500 liter.
Lebih dari sekadar mengejar volume pengumpulan, gerakan tersebut diharapkan menjadi sarana edukasi dan literasi lingkungan bagi masyarakat. Peluncuran Gemar Jariah nantinya juga akan dirangkaikan dengan pembukaan festival literasi, sehingga pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dapat disampaikan secara lebih luas.
“Harapannya, kita tidak hanya mengejar jumlahnya saja, tetapi juga mengedukasi dan meliterasi masyarakat tentang bagaimana kita bisa menjaga lingkungan,” tutup Inggit.
(Tim Liputan Dinkominfo/Dea/Saif)
PRINT +
DOWNLOAD PDF