Cuaca Ekstrem, Nelayan Pekalongan Tetap Melaut Andalkan Aplikasi Cuaca

Kota Pekalongan – Cuaca buruk yang melanda perairan utara Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir berdampak signifikan terhadap aktivitas nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Pekalongan. Kondisi gelombang tinggi dan angin kencang membuat mayoritas nelayan memilih untuk menyandarkan kapal dan menghentikan sementara aktivitas melaut karena risiko keselamatan yang cukup tinggi.
Pantauan di TPI Kota Pekalongan menunjukkan aktivitas bongkar muat hasil tangkapan ikan mengalami penurunan. Banyak kapal nelayan terlihat bersandar di dermaga, sementara para nelayan lebih memilih menunggu cuaca kembali normal dibanding mengambil risiko menghadapi kondisi laut yang ekstrem.
Namun, di tengah situasi tersebut, sebagian nelayan tetap berupaya melaut dengan memanfaatkan teknologi pemantau cuaca. Salah satunya adalah Suharto, juru mudi kapal, yang ditemui di TPI Kota Pekalongan. Ia mengaku tetap memberanikan diri melaut meskipun cuaca sedang tidak bersahabat, dengan mengandalkan aplikasi pemantau cuaca seperti Windy.
“Sekarang melaut tidak bisa asal berangkat. Saya selalu memantau pergerakan angin dan ketinggian gelombang lewat aplikasi cuaca. Dari situ bisa dicari celah waktu yang relatif aman untuk menebar jaring,” ujar Suharto.
Menurutnya, keberadaan aplikasi cuaca sangat membantu nelayan dalam mengambil keputusan di tengah ketidakpastian kondisi laut. Dengan memantau prakiraan cuaca secara berkala, ia dapat menentukan waktu atau window time yang aman untuk melaut dan segera kembali ke daratan sebelum kondisi memburuk.
Ia menambahkan, durasi melaut saat ini menjadi jauh lebih singkat dibandingkan kondisi normal. Jika sebelumnya nelayan bisa berada di laut hingga berminggu-minggu, kini waktu melaut dibatasi antara dua hingga tujuh hari, tergantung pada ketersediaan perbekalan dan perkembangan cuaca di lapangan.
“Sekarang paling lama tujuh hari, itu pun kalau cuaca mendukung. Kalau cepat berubah, ya harus cepat pulang. Keselamatan tetap nomor satu,” tambahnya.
Meski hasil tangkapan tidak menentu dan sangat bergantung pada keberuntungan, langkah berani tersebut terpaksa diambil demi menjaga perputaran ekonomi keluarga.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF