Cuaca Ekstrem 2026 Tak Berdampak, Penataan Kampung Bugisan Dinilai Sukses

Kota Pekalongan – Awal tahun 2026 terjadi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah. Namun, kondisi tersebut tidak berdampak pada Kampung Bugisan, Kota Pekalongan. Kawasan yang sebelumnya sering terjadi banjir dan rob kini terbukti aman tanpa genangan, berkat program Konsolidasi Tanah yang dilaksanakan pada 2024. Program ini merupakan kolaborasi strategis antara Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dan Pemerintah Kota Pekalongan dalam menata ulang kawasan permukiman terdampak banjir secara komprehensif.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) Kota Pekalongan, Slamet Mulyadi, memastikan hasil monitoring menunjukkan tidak adanya genangan di kawasan tersebut. "Alhamdulillah kami sudah melakukan monitoring bersama, dan tidak terdapat genangan. Penanganan dan penataan sudah berhasil. Didukung tiga pompa yang otomatis menyerap air jika ada genangan, namun faktanya tidak ada genangan. Jadi proyek ini bisa dikatakan berhasil 100 persen,” jelasnya.
Keberadaan tiga pompa otomatis menjadi sistem siaga yang memperkuat daya tahan lingkungan Bugisan. Infrastruktur ini dirancang untuk bekerja cepat apabila terjadi peningkatan debit air, sehingga risiko banjir dapat diantisipasi secara optimal.
Terpisah, Ketua RW Bugisan, Slamet Mulyono, mengungkapkan perubahan signifikan yang dirasakan warga. “Alhamdulillah dengan adanya penataan di Bugisan, cuaca ekstrem tidak terdampak banjir,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sebelum dilakukan penataan, wilayah Bugisan mengalami banjir dan rob selama kurang lebih 11 tahun sejak sekitar 2015. Setiap hari air rob datang dua kali, bahkan semakin parah saat hujan deras dan cuaca ekstrem terjadi.
Ia menerangkan bahwa melalui program Konsolidasi Tanah, sebanyak 168 rumah berhasil ditata, terdiri atas pembangunan rumah baru dan peningkatan kualitas hunian. Selain itu, dilakukan pembangunan drainase serta pelebaran akses jalan guna memperlancar aliran air dan mobilitas warga.
Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan penuh masyarakat. Pada tahap awal, warga secara sukarela merelakan sebagian tanahnya untuk kepentingan akses lingkungan, seperti pembangunan drainase dan pelebaran jalan.
Dirinya menambahkan bahwa setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan banjir dan rob yang tak kunjung surut, warga menyambut program pemerintah dengan penuh antusias. Penataan ini menjadi titik balik perubahan wajah Bugisan, dari kawasan terdampak menjadi permukiman yang lebih layak, tertata, dan tangguh menghadapi cuaca ekstrem.
Kini, Bugisan tidak hanya bebas genangan, tetapi juga menjadi contoh nyata keberhasilan kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam membangun kawasan bebas kumuh.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinperkim) Kota Pekalongan, Slamet Mulyadi, memastikan hasil monitoring menunjukkan tidak adanya genangan di kawasan tersebut. "Alhamdulillah kami sudah melakukan monitoring bersama, dan tidak terdapat genangan. Penanganan dan penataan sudah berhasil. Didukung tiga pompa yang otomatis menyerap air jika ada genangan, namun faktanya tidak ada genangan. Jadi proyek ini bisa dikatakan berhasil 100 persen,” jelasnya.
Keberadaan tiga pompa otomatis menjadi sistem siaga yang memperkuat daya tahan lingkungan Bugisan. Infrastruktur ini dirancang untuk bekerja cepat apabila terjadi peningkatan debit air, sehingga risiko banjir dapat diantisipasi secara optimal.
Terpisah, Ketua RW Bugisan, Slamet Mulyono, mengungkapkan perubahan signifikan yang dirasakan warga. “Alhamdulillah dengan adanya penataan di Bugisan, cuaca ekstrem tidak terdampak banjir,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, sebelum dilakukan penataan, wilayah Bugisan mengalami banjir dan rob selama kurang lebih 11 tahun sejak sekitar 2015. Setiap hari air rob datang dua kali, bahkan semakin parah saat hujan deras dan cuaca ekstrem terjadi.
Ia menerangkan bahwa melalui program Konsolidasi Tanah, sebanyak 168 rumah berhasil ditata, terdiri atas pembangunan rumah baru dan peningkatan kualitas hunian. Selain itu, dilakukan pembangunan drainase serta pelebaran akses jalan guna memperlancar aliran air dan mobilitas warga.
Menurutnya, keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan penuh masyarakat. Pada tahap awal, warga secara sukarela merelakan sebagian tanahnya untuk kepentingan akses lingkungan, seperti pembangunan drainase dan pelebaran jalan.
Dirinya menambahkan bahwa setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan banjir dan rob yang tak kunjung surut, warga menyambut program pemerintah dengan penuh antusias. Penataan ini menjadi titik balik perubahan wajah Bugisan, dari kawasan terdampak menjadi permukiman yang lebih layak, tertata, dan tangguh menghadapi cuaca ekstrem.
Kini, Bugisan tidak hanya bebas genangan, tetapi juga menjadi contoh nyata keberhasilan kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam membangun kawasan bebas kumuh.
(Tim Liputan Dinkominfo/dea)
PRINT +
DOWNLOAD PDF