Cegah Bullying, SMP Sains Cahaya Al-Qur’an Bangun Budaya Pertemanan Sehat

Cegah Bullying, SMP Sains Cahaya Al-Qur’an Bangun Budaya Pertemanan Sehat

Kota Pekalongan — Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, sehat, dan nyaman terus dilakukan SMP Sains Cahaya Al-Qur’an, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan. Tidak hanya melalui penguatan spiritual dan kesehatan, sekolah juga membekali siswa dengan kemampuan membangun budaya pertemanan yang sehat serta mencegah bullying.

Momentum Sekolah Sehat, Aman, dan Nyaman dimanfaatkan SMP Sains Cahaya Al-Qur’an untuk menghadirkan rangkaian kegiatan yang mendukung pembentukan karakter siswa secara utuh. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula SMP Sains Cahaya Al-Qur'an Kota Pekalongan pada Kamis (24/9/2026).

Kegiatan diawali dengan salat dhuha berjamaah, doa dan Asmaul Husna bersama, dilanjutkan aktivitas kebersamaan seperti menyanyikan lagu Rukun Sama Teman, jalan sehat, hingga makan MBG bersama di lapangan. 

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Achievement Motivation Training yang mendorong semangat siswa untuk berprestasi. Selain itu, siswa mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya membangun relasi positif dengan teman dan menciptakan lingkungan pergaulan yang saling menghargai. Bersama dua psikolog dari Yougrow Psychological Center, seluruh siswa kelas 7, 8, dan 9 mengikuti psikoedukasi bertema “Be Better, Make Others Better”.

Kepala SMP Sains Cahaya Al-Qur’an, Muhammad Haidar Fikri Kurniali, S.IP, S.Pd, MM, Gr, mengatakan rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membentuk karakter siswa secara konsisten.

“Anak yang kuat secara spiritual, punya semangat berprestasi, disiplin, mampu berpikir, tetapi tetap tahu bagaimana memperlakukan orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, pembahasan mengenai bullying tidak hanya dilakukan melalui larangan, tetapi siswa diajak memahami pengalaman, merefleksikan perilaku, serta melihat dampak suatu tindakan terhadap orang lain.

Melalui konsep School of Excellence, ia menegaskan, SMP Sains Cahaya Al-Qur’an berupaya membentuk para Excellians tidak hanya menjadi siswa yang berprestasi, tetapi juga pembelajar Qur’ani yang berpikir saintifik, berkarakter pemimpin, disiplin, mandiri, dan mampu menjadi problem solver.

“Ketika orang berbicara tentang SMP Sains, yang terlihat bukan hanya prestasi atau fasilitasnya, tetapi bagaimana sekolah ini membentuk anak-anak yang punya nilai, punya kemampuan, dan punya karakter untuk tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi masa depan,” tegas Haidar.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Pekalongan, Mabruri, mengapresiasi upaya SMP Sains Cahaya Al-Qur’an dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.

"Pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga bagaimana membentuk karakter, membangun empati, dan mengajarkan anak untuk saling menghargai. Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung tumbuh kembang anak secara utuh,” ujar Mabruri.

Ia berharap penguatan karakter tersebut dapat terus dikembangkan sehingga menjadi budaya positif dalam keseharian siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Pada kegiatan tersebut, Psikolog Yougrow Psychological Center, Reni, menjelaskan psikoedukasi tersebut menggunakan pendekatan experiential learning. Siswa diajak mengamati, merefleksikan, memahami konsep, kemudian mempraktikkannya dalam situasi yang dekat dengan kehidupan mereka. Materi yang diberikan antara lain mengenai batasan dalam bercanda, cara merespons bullying, menjadi saksi yang aktif dan asertif, serta keberanian mengatakan tidak ketika merasa tidak nyaman.

“Menjadi versi terbaik diri sendiri harus beriringan dengan empati. Ketika anak belajar menghargai dirinya, ia juga akan tergerak untuk menjaga dan menguatkan teman-temannya,” ujar Reni.

Para siswa pun terlihat aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta berbagi pengalaman. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak menyadari bahwa tindakan yang dianggap sederhana atau sekadar bercanda dapat memberikan dampak bagi orang lain.

"Kami berharap nilai-nilai yang ditanamkan tidak berhenti dalam satu kegiatan, tetapi menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga batasan, memberikan dukungan kepada teman, serta mengetahui kapan harus membantu dan meminta bantuan orang dewasa,"pungkasnya.


(Tim Liputan Kominfo/Dian)